Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

6 menit waktu bacaan

Sejarah Pasar Modal Indonesia: Pengertian dan Perkembangannya

by lhmdi on 15 Oktober, 2017

tips anti bangkrut _ investasi - CekAja.com

Meskipun menjadi salah satu jenis investasi yang menguntungkan, pasar modal yang hadir dalam bentuk saham dan obligasi masih belum menjadi jenis produk keuangan favorit yang dipilih oleh masyarakat.

Saat mendengar nama dari jenis investasi ini, hal yang terbayangkan adalah perusahaan-perusahaan besar yang menjual saham mereka untuk digunakan sebagai modal jangka panjang.

Di Indonesia, sendiri kegiatan jual beli saham dan obligasi ini sudah terjadi sebelum jaman kemerdekaan. Pada tanggal 14 Desember 1912, Amserdamse Effectenbueurs mendirikan perusahaan bursanya di Batavia, sebutan untuk Kota Jakarta di saat itu.

Berdirinya bursa Indonesia

Perusahaan ini melakukan transaksi jual beli saham serta obligasi perusahaan atau perkebunan Belanda yang terdapat di Indonesia. Keuntungan yang diterima perusahaan Belanda ini akhirnya ikut memicu masyarakat Indonesia saat itu untuk mendirikan perusahaan bursanya.

Dua kota di Jawa, yaitu Surabaya pada tanggal 11 Juni 1921 dan Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925 adalah tempat berdirinya dua perusahaan bursa di Indonesia untuk pertama kalinya.

Catatan sejarah juga mengungkapkan, transaksi di bursa saham saat itu mencapai miliaran rupiah. Namun, aktivitas bursa saham di seluruh dunia menurun akibat terjadinya perang dunia ke II.

Hal ini juga berimbas di Indonesia, sehingga aktivitas jual beli saham tidak berjalan semestinya. Akhirnya pemerintah Belanda pada saat itu menutup dua bursa efek di Semarang dan Surabaya dan memilih memusatkannya ke Batavia.

Setelah merdeka di tahun 1945 pun belum ada tanda-tanda perdagangan bursa kembali diaktifkan. Namun pada tahun 1950, pemerintah yang saat itu dipimpin oleh Presiden Soekarno, mengeluarkan obligasi Republik Indonesia untuk mengaktifkan kembali kegiatan jual beli surat-surat berharga.

Konfrontasi yang belum sepenuhnya selesai dengan pemerintah Belanda menyebabkan terjadinya kelesuan di perdagangan bursa Indonesia pada tahun 1958. Hal ini masih ditambah dengan isu-isu nasional dan transisi pemerintah dari era Orde Lama ke Orde Baru.

Sehingga pada tahun 1976, tepatnya di masa pemerintahan Orde Baru, pemerintah kembali mencoba untuk mengaktifkan pasar modal di Indonesia.

Pada tahun tersebut pemerintah membentuk Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal)  dan PT Danareksa untuk mengaktifkan kegiatan jual beli surat berharga di Indonesia. Setahun berselang, tepatnya pada tanggal 10 Agustus 1977, kegiatan pasar modal kembali aktif di Indonesia.

Pada saat itu terdapat tiga paket yang diterbitkan untuk menunjang kembali transaksi jual beli saham di Indonesia. Paket Desember 1987 (Pakdes 87), Paket Desember 1988 (Pakto 88), dan Paket Desember 1988 (Pakdes 88) yang memberikan dampak liberasisasi ekonomi Indonesia.

Kegiatan yang terkiat dengan jual beli surat berharga ini dikenal cukup rumit. Sehingga akhirnya pemerintah Indonesia memberikan payung hukum yang tetap, yaitu UU No. 8/1995 yang mengatur tentang pasar modal, dimana Bapepam diberi kewenangan mengawasi dan memiliki otoritas melakukan penyelidikan serta penyidikan.

Mengenal Bursa Efek di Indonesia

tips jadi miliarder _ investasi - CekAja.com

Sesuai dengan UU No. 8/1995,  Bapepam memiliki wewenang langsung terhadap kegiatan jual beli surat berharga namun secara struktur kewenangan tertinggi terletak pada Menteri Keuangan Republik Indonesia.

Untuk mengakomodasi semua kegiatan tersebut, Indonesia memiliki bursa efek  yang bertugas sebagai pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem untuk mempertemukan penawaran jual beli surat-surat berharga tersebut. (Baca juga: Waktu yang Tepat untuk Investasi Saham)

Melalui bursa efek ini setiap transaksi surat berharga yang meliputi saham, obligasi dan lain-lainnya dikelola, sehingga pihak yang terlibat mendapatkan  keuntungan. Lalu, siapa saja orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini?

1. Pemilik modal atau investor

Tempat bernama pasar pastinya mempertemukan sifat penawaran dan permintaan. Hal yang sama juga terjadi di bursa efek atau tempat aktivitas jual beli surat berharga berlangsung.

Di pasar ini komoditas perdagangannya diberi nama efek, serupa dengan barang atau jasa di pasar konvensional. Nah, pembeli efek ini adalah mereka yang memiliki modal besar dan ingin mendapatkan keuntungan. Pemodal ini yang biasanya punya analisis kuat terkait efek apa saja yang akan dijual dan dibeli di bursa efek.

2. Perusahaan-perusahaan yang membutuhkan modal

Kita pasti pernah mendengar kalimat dengan nama-nama perusahaan seperti Telkom, Unilever dan lain-lainnya di bursa efek. Perusahaan-perusahaan ini biasanya akan menerbitkan surat-surat berharga mereka untuk mendapatkan modal untuk mengembangkan bisnisnya .

Istilah dari perusahaan ini dikenal dengan sebutan Emiten. Nantinya, para investor yang sudah menganalisis nilai-nilai surat berharga akan membeli salaah satu saham-saham dari perusahaan atau emiten tersebut.

3. Agen-agen penjual dan underwriter

Selayaknya, pasar konvensional dimana barang atau jasa membutuhkan seorang profesional bernama distributor agar bisa dinikmati konsumen, maka hal yang sama juga terjadi di bursa efek.

Biasanya mereka dikenal dengan agen penjual yang menghubungkan atara emisi dengan para investor.

Selain itu, terdapat juga profesional bernama Underwriter yang bertujuan untuk menjamin terlaksananya transaksi antara agen penjual dan investor. Biasanya ini terjadi, jika surat-surat berharga yang diperdagangkan dari perusahaan-perusahaan yang sudah ‘go public’.

4. Trustee atau penengah dalam hubungan bisnis

Sebuah transaksi biasanya sering kita temukan satu atau dua hal yang membutuhkan penengah. Hal yang sama juga terjadi saat transaksi jual beli surat-surat berharga. Istilah ini dikenal dengan Trustee.

Trustee bisa seorang profesional atau lembaga yang dipercaya oleh pihak investor sebelum menanamkan uangnya di pasar modal. Istilah ini sendiri sering dikenal dengan Guarantor atau penanggung.

5. Pialang atau broker

Pialang saham dikenal sebagai perantara untuk jual beli surat-surat berharga. Pialang biasanya akan muncul ketika terjadi perdagangan berjangka di bursa efek.

Tidak sembarang orang bisa menjadi pialang. Individu ini harus tergabung di dalam firma atau memiliki izin atau lisensi untuk melakukan jual beli saham dan menjadi perantara transaksi bagi perusahaan atau investor. (Baca juga: Belajar Investasi dari Cara Warren Buffett Menjual Sahamnya)

6. Merapikan transaksi melalui biro administrasi efek

Setiap transaksi jual-beli di sebuah pasar pastinya membutuhkan sistem administrasi yang rapi dan teratur. Hal yang sama juga terjadi saat jual beli saham.

Biro administrasi efek nantinya bertugas menangani urusan administrasi agar setiap kegiatan yang terjadi di bursa efek berjalan lancar.

Literasi pasar modal di era teknologi

kebiasaan orang sukses _ investasi - CekAja.com

Masih belum populernya aktivitas jual beli surat berharga bagi masyarakat di Indonesia membuat lembaga keuangan seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara perlahan memberikan edukasi tentang pemahaman jual beli surat-surat berharga.

Di Indonesia, BI dan OJK bersama The Indonesia Capital Market Institute (TICMI), Ikatan Dosen Pasar Modal Indonesia (IDPMI), Ikatan Alumni TICMI (ILUMI) mendirikan Perpustakaan Digital TICMI (RIDMI) yang memberikan banyak informasi tentang jual beli surat berharga secara digital.

RIDMI merupakan layanan perpusatakaan digital berbentuk aplikasi yang menampilkan buku-buku digital, serta referensi pasar modla untu masyarakat umum.

Bagaimana, tertarik untuk berdagang saham di pasar modal? Mulai saja dengan bergabung di program menabung saham yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Tentang Penulis

lhmdi

Penulis yang hobi traveling ke daerah pelosok yang belum terjamah.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami