Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Selain Unicorn, Ada 3 Istilah Unik Lain Dalam Startup

by Sindhi Aderianti on 18 Februari, 2019

Hari minggu lalu, debat kedua capres memberi cerita yang kembali mengundang perbincangan netizen. Tepatnya ketika Presiden Joko Widodo bertanya infrastruktur apa yang akan dibangun Prabowo untuk mendukung unicorn yang ada di Indonesia.

Sontak capres nomor urut 02 tersebut bertanya balik, “Unicorn yang online-online itu?” Ya, sebenarnya unicorn memang terkait bisnis rintisan di Indonesia.

Rata-rata unicorn tersebut meliputi perusahaan e-commerce yang notabene berbasis online. Beberapa literatur sampai lembaga riset internasional menuliskan, unicorn adalah sebuah perusahaan startup yang memiliki valuasi nilai hingga US$ 1 miliar. 

Bukalapak yang minggu lalu sempat dihebohkan karena cuitan CEO Achmad Zaki, adalah contoh startup berlevel unicorn. Bagi mereka yang awam terhadap perkembangan dunia startup, wajar rasanya bila kurang mengenal istilah tersebut.

Selain unicorn, bahkan masih ada tiga nama binatang lain yang juga diadopsi untuk menggambarkan level valuasi perusahaan-perusahaan startup. Apa sajakah mereka?

1. Pipit

Berdasarkan filosofi, pipit dikenal sebagai burung yang gemar bernyanyi. Namun sayangnya, burung ini tak bisa terbang dengan tinggi.

Umur pipit pun relatif pendek bila dibandingkan dengan burung lainnya. Inilah sebutan untuk startup yang umumnya berukuran kecil.

Bukan hanya tak dilirik untuk memperoleh valuasi, tapi dari segi kinerja keuangan pun masih tergolong buruk. Agar tidak ‘bubar jalan’, startup pipit harus berupaya memperbaiki situasi.

Semisal dengan memperbaiki financial statement terlebih dahulu. Lewat tingkat profit dan cashflow baik, perusahaan otomatis bisa mendapat ‘bahan bakar’ untuk terus memperbaiki daya saing.

(Baca juga: Dua Cara Mudah Cari Modal Bangun Startup Unicorn)

2. Cockroach

Seperti kita ketahui, kecoak adalah binatang yang dapat hidup di berbagai kondisi bahkan untuk situasi ekstrim sekalipun. Tapi karena bentuknya yang tidak sedap dipandang, jarang orang tertarik dengan binatang tersebut.

Nah, julukan itu diberikan kepada startup yang valuasinya belum memenuhi standar. Namun dalam menghadapi berbagi macam tantangan dan menjalankan kegiatan operasional, tak jauh berbeda dengan sifat kecoak yang tahan banting.

Selalu ada akal untuk menyiasati situasi demi meraup profit berkelanjutan.

(Baca juga: Wow, Ternyata Startup Indonesia Setara dengan Uni Eropa!)

3. Unicorn

Makhluk ini sering digambarkan dengan kuda putih bertanduk emas. Wujudnya sangat unik, meskipun di dunia nyata tidaklah ada alias fiktif.

Seperti yang tadi sudah dikatakan, startup dengan level unicorn memiliki valuasi cukup tinggi. Biasanya perusahaan-perusahaan unicorn juga sangat populer di kalangan end-user.

Dari kepopuleran tersebut, tak heran jika kepercayaan investor pada masa depan perusahaan pun ikut meningkat. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pernah menyampaikan, di tahun 2019 pemerintah menargetkan akan ada lima startup unicorn di Indonesia.

Sementara hingga saat ini, terdapat empat perusahaan rintisan yang sudah berada di kasta itu. Mereka adalah: Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.

(Baca juga: Ini Tempat Kuliah Para Bos Startup di Indonesia, Cek Yuk!)

4. Eagle

Eagle selalu terbang tinggi dan menjadi puncak dalam rantai makanan. Begitu gagahnya, sehingga tidak heran bila eagle sangat populer di berbagai negara serta organisasi yang disimbolkan sebagai pemimpin di dunia bisnis.

Startup yang sudah menyandang golongan ini biasanya terus berupaya meningkatkan financial statement dan market capitalization setinggi mungkin.

Tak heran jika valuasinya amat besar, begitupun keuntungan yang didapat. Contoh startup yang sudah berada di level eagle yaitu Amazon, Alibaba, dan Tencent.

(Baca juga: Mau Bisnis Startup dan Dapatkan Investor? Sambangi 5 Tempat Ini)

Benarkah Unicorn Indonesia Dikuasai Asing?

Menimpalkan apa yang Jokowi tanya mengenai unicorn, Prabowo menyebut kalau kehadiran unicorn justru mempercepat uang lari ke luar negeri. Kekhawatiran Prabowo ini mungkin bukan tanpa alasan.

Sebab, bila menelisik lebih dalam tentang unicorn-unicorn di Indonesia, faktanya memang demikian. Tidak sedikit investor asing yang menyuntikkan dana kepada mereka.

Lantas, apa dampak atas penanaman modal asing ini? Ketika modal asing masuk, data beserta produk yang ada di startup berisiko tergadaikan. 

Data idEA pun mengungkapkan, sekitar 93 persen produk yang dijual melalui e-commerce adalah produk impor. Artinya, keuntungan yang harusnya bisa mendorong UMKM berkembang justru keluar ke negara asal penyuntik dana tersebut.

Namun di sisi lain, unicorn di Indonesia membutuhkan suntikan modal tersebut. Tujuannya untuk memperkenalkan produk, memperluas ekosistem, dan merawat loyalitas pengguna secara masif.

Faktor lainnya, belum banyak investor dan konglomerat dalam negeri yang mau berinvestasi di startup unicorn. Apalagi setiap kali startup unicorn melakukan penggalangan dana, jumlahnya amat besar.

Sehingga mereka pun lebih memilih berinvestasi pada sektor lain. Terhitung hinga saat ini, konglomerat yang sudah berani menginvestasikan dananya kepada unicorn dalam negeri baru PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) di Bukalapak, GDV Venture (Grup Djarum) dan PT Astra International Tbk di Go-Jek.

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.