Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Selain Yahoo, Ini Lima Perusahaan Besar yang Kini Bangkrut

by Ariesta on 2 Agustus, 2016

Sebagai pioneer dan raja internet, Yahoo yang didirikan tahun 1994 sempat mengalami kejayaan pada era booming internet  di tahun 2000an. Skala bisnis Yahoo saat masa jayanya mungkin bisa dibandingkan dengan Facebook dan Google hari ini. Namun, Yahoo akhirnya harus menyerah. Senin, 26 Juli 2016, Yahoo mengumumkan akhir dari kekacauan setelah Verizon mengakuisisi perusahaan tersebut senilai US$4,8 miliar. Banyak pengamat mengatakan, nilai penjualan tersebut sangat menyedihkan.

Kenapa menyedihkan? Sebab, pada masa jayanya, Yahoo memiliki nilai jual seharga US$125 miliar. Bahkan pada tahun 2002, Yahoo pernah berniat membeli Google seharga US$3 miliar namun ditolak. Tahun 2008,  Microsoft pun mengajukan penawaran seharga US$44.6 miliar, namun tawaran ini kembali ditolak dengan percaya diri oleh Yahoo.

Transaksi dengan Verizon, korporasi telekomunikasi terbesar di Amerika ini mengakhiri independensi Yahoo di Sillicon Valley. CEO ketujuh sekaligus terakhir Yahoo, Marissa Mayer, pun mendapat kritikan tajam dari pemilik saham karena membiarkan harga Yahoo terjun bebas.

Sebelumnya bencana ini menimpa Yahoo, bencana yang sama pernah menimpa sejumlah perusahaan besar. Mereka juga pernah berjaya dan sangat dicintai, tapi kini telah bangkrut dan harus rela diakuisisi dengan harga murah bahkan sama sekali musnah. Berikut perusahaan besar yang kini bangkrut.

1. KODAK

Kodak_logo_1987.svg

Kodak didirikan pada 1888 oleh George Eastman dengan memproduksi kamera murah, film, kertas, dan bahan kimia. Selama tahun 1976, Kodak menguasai 90% penjualan film dan 85% penjualan kamera di Amerika.

(Baca juga: Perbandingan 5 Klub Sepak Bola Terkaya VS 5 Perusahaan Terbesar di Dunia)

Kodak mulai mengalami masalah finansial pada 1990 hingga dinyatakan bangkrut pada  Januari 2012. Penyebabnya adalah kegagalan penjualan di area fotografi film dan karena Kodak telat melakukan transisi ke bidang fotografi digital. Sebenarnya Kodak telah mengembangkan kamera digital sejak 1975. Namun saat itu Kodak takut jika teknologi tersebut mengancam penjualan film yang menjadi pemasukan utama Kodak.

Tahun 2005, Kodak meluncurkan seri EasyShare setelah banyak melakukan studi perilaku kosumen. Kodak menemukan fakta bahwa wanita senang memotret dengan kamera digital namun sebal ketika harus mentransfer data foto ke komputer. Teknologi EasyShare menjawab kebutuhan ini. Kodak juga menempati peringkat pertama sebagai kamera digital paling laris di Amerika pada tahun tersebut.

Namun terlepas dari perkembangannya, Kodak gagal mengantisipasi betapa cepatnya perkembangan kamera digital. Kodak gagal bersaing dengan kompetitor asal Asia seperti Sony, Canon, dan Nikon. Akhirnya perusahaan raksasa ini menyerah saat kamera digital mulai tergantikan kamera di smartphone dan tablet.

2. AOL

old-aol-logo

AOL Inc (awalnya dikenal sebagai America Online) adalah perusahaan Amerika sekaligus media massa global yang berbasis di New York. Awalnya AOL memberikan layanan dial-up untuk jutaan orang Amerika. Namun, dial-up dengan cepat kehilangan pamor karena tergantikan broadband di pertengahan 2000-an.

Tahun 2009, Tim Armstrong diangkat sebagai CEO AOL. Di bawah kepemimpinannya, AOL bergerak di bidang investasi media dan teknologi periklanan.

Pada 12 Mei 2015, Verizon Communications (perusahaan yang juga mengakuisisi Yahoo) mengumumkan rencana membeli AOL seharga US$50 per saham dalam kesepakatan senilai US$4,4 miliar. Akuisisi pun selesai pada 23 Juni 2015. Tak lama kemudian Microsoft mengakuisisi beberapa bidang teknologi untuk meningkatkan kemampuan iklan di teknologi mobile.

Amstrong, yang tetap memimpin AOL setelah akusisi menyebut deal tersebut adalah langkah logis untuk mempertahankan masa depan AOL. “Kalau kita membayangkan lima tahun ke depan, kita akan berada di era jaringan besar yang global dan masif, dan tidak ada partner yang lebih baik daripada Verizon,” akunya diplomatis. “Jadi ini bukan tentang menjual perusahaan bangkrut, tapi tentang merencanakan masa depan 10 tahun ke depan.”

3. Friendster

Friendster merupakan situs gaming yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebelumnya, Friendster merupakan situs media sosial populer sebelum Facebook eksis. Pengguna Friendster menggunakan situs tersebut untuk mencari teman kencan, berkenalan, bahkan belajar HTML dasar untuk menghias halaman profil mereka. Hingga kini Friendster dianggap pioneer dan kakek dari media sosial.

Friendster didirikan oleh programmer asal Kanada, Jonathan Abrams, pada 2002. Sejak kemunculannya, Friendster berhasil meraih tiga juta pengguna. Kesuksesan ini membuat Google mengajukan tawaran sebesar US$30 juta untuk membelinya tahun 2003, namun tawaran ini ditolak. Keputusan ini dianggap sebagai kesalahan besar yang mengawali kebangkrutan Friendster.

Tahun 2008, Friendster memiliki 115 juta yang kebanyakan dari Asia. Namun pengguna di Amerika terus menyusut seiring dengan populernya Facebook. Akhirnya setahun kemudian Friendster diakuisisi oleh MOL Global, perusahaan internet terbesar di Asia, sebesar US$26,4 juta.

Friendster kemudian beralih menjadi situs game pada 2011. Namun akun Friendster sebagai media sosial masih bisa diakses dengan password lama sampai 27 Juni 2011. Lewat dari tenggat itu, semua data pengguna berikut foto-foto dihapus secara permanen. Namun peralihan ini pun tidak bertahan lama karena pada 14 Juni 2015 situs Friendster benar-benar dihapus untuk selamanya.

4. Blockbuster

block

Jaringan rental video Blockbuster berhasil bertahan saat transisi dari VHS ke DVD. Namun mereka kewalahan saat pasar memilih format digital. Apalagi ketika Netflix Inc. (NFLX) mengadopsi strategi digital sehingga konsumen bisa menonton film lewat komputer dan streaming lewat smartphone.

(Baca juga: Ini Tandanya Perusahaan Tempat Kamu Bekerja Akan Bangkrut)

Firma Blockbuster menutup ratusan toko, berjuang melunasi utang, dan berusaha bangkit dengan mengikuti langkah kompetitor. Namun usaha ini tetap tidak membuahkan hasil karena Blockbuster dinyatakan bangkrut tahun 2010.

5. Motorola

250px-Motorola.svg

Di era awal 2000-an, Motorola merupaka pesaing berat Nokia dan Sony Ericsson. Bahkan Motorola merupakan pioneer alias pembuat pertama prototipe ponsel selular yang kita kenal sekarang. Mereka juga lah yang punya inovasi pertama ponsel model flip. Perusahaan yang sudah ada sejak 1943 ini dulunya memproduksi radio dan televisi.

Motorola ini merugi US$1,2 miliar pada 2007 di mana pada tahun yang sama hanya menghasilkan US$100 juta. Pada Januari 2008, Motorola harus memecat 3.500 pekerja diikuti PHK 4.000 karyaran di bulan Juni. Bahkan sebulan kemudian, sejumlah besar eksekutifnya pindah ke Apple untuk mengembangkan iPhone. Para analis teknologi menilai jika Motorola cukup beruntung jika dibeli dengan harga US$500 juta saja.

Tepatnya 22 Mei 2012, Google mengumumkan akuisisi Motorola Mobility Holdings, Inc. Seharga US$12,5 miliar. Namun dua tahun kemudian, Google mengumumkan menjual Motorola Mobility ke Lenovo seharga US$2,91 miliar. Meski demikian Google tetap memegang mayoritas portofolio, sedangkan Lenovo menerima 2.000 paten aset.

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami