Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

6 menit waktu bacaan

Serba-serbi Inflasi yang Perlu Kamu Tahu

by CekAja on 25 September, 2019

Coba ingat-ingat 15 tahun lalu uang Rp100.000 kamu bawa ke supermarket sudah bisa beli apa saja? Bandingkan dengan sekarang, bawa uang Rp100.000 mungkin barang yang dibeli nggak sebanyak 15 tahun lalu. Beli beras 10kg, daging, buah-buahan, susu, dan roti dengan uang Rp100.000 seperti 15 tahun lalu? Ngga mungkin cukup. Contoh tersebut adalah salah satu dampak inflasi, nilai uang makin menyusut dari tahun ke tahun karena harga barang yang meningkat.

Berbagai Resolusi Keuangan untuk Anda di Tahun Baru

Apa Sebenarnya Inflasi?

Seperti dilansir situs sikapiuangmu.ojk.go.id, secara sederhana inflasi diartikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas dan saling memengaruhi (atau mengakibatkan kenaikan harga pada barang lainnya).

Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi jika tidak memengaruhi yang lain.

(Baca juga: Yuk Mengenal Definisi Inflasi dan Jenis-Jenisnya!)
Faktor-faktor Penyebab Inflasi

Inflasi umumnya disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kenaikan biaya produksi yang disebabkan meningkatnya harga bahan baku dan upah pekerja akhirnya produsen harus menaikkan harga barang. Kedua, tingginya jumlah permintaan suatu jenis barang sementara stok atau suplainya terbatas maka timbullah lonjakan harga, di Indonesia ini biasanya terjadi menjelang Idul Fitri, tahun ajaran baru dan menjelang pergantian tahun. Ketiga, jumlah uang yang beredar cukup tinggi. Saat jumlah uang yang beredar meningkat daya beli masyarakat pun meningkat namun suplainya statis akhirnya harga barang pun akan mengalami peningkatan yang setara.

Inflasi memang berdampak kurang baik pada kondisi sosial ekonomi masyarakat, pada pendapatan riil masyarakat, ekspor, minat orang untuk menabung, kalkulasi harga pokok untuk usaha industri dan usaha lainnya, serta kestabilan nilai mata uang. Inflasi dapat berdampak positif dan negatif bagi pendapatan masyarakat. Pada kondisi tertentu akan mendorong para pengusaha untuk memperluas produksi sehingga meningkatkan perekonomian namun, inflasi akan berdampak buruk bagi mereka yang berpenghasilan tetap karena nilai uangnya tetap sedangkan harga barang/ jasa naik.

Inflasi juga memengaruhi kemampuan ekspor sebuah negara karena biaya ekspornya menjadi lebih mahal dan daya saing produk ekspor menurun akhirnya devisa jadi berkurang. Pada kondisi inflasi minat menabung sebagian besar orang akan berkurang, karena pendapatan dari bunga tabungan jauh lebih kecil sedangkan pemilik tabungan harus membayar biaya administrasi tabungannya.

Inflasi juga dapat memengaruhi kestabilan mata uang rupiah sebab kestabilan kurs rupiah mengandung dua aspek, yakni kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Bahkan dampak yang lebih besar ialah ancaman perlambatan ekonomi karena kenaikan harga barang dan jasa yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan.

Usaha Mengendalikan Inflasi

Inflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang tidak dapat dihilangkan dengan tuntas, usaha-usaha yang dilakukan biasanya hanya sebatas mengurangi dan mengendalikannya. Usaha yang dilakukan pemerintah dan bank sentral untuk mengendalikan inflasi adalah melalui kebijakan moneter, fiskal, dan non moneter.

Kebijakan Moneter adalah segala bentuk kebijakan bidang moneter (keuangan) yang bertujuan untuk menjaga kestabilan moneter agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan moneter meliputi:

-Kebijakan Penetapan Persediaan Kas, bank sentral dapat mengambil kebijakan untuk mengurangi uang yang beredar dengan menetapkan persediaan uang yang beredar dan uang kas pada bank-bank.

-Kebijakan Diskonto, yaitu kebijakan bank sentral untuk meningkatkan nilai suku bunga agar masyarakat terdorong untuk menabung, diharapkan jumlah uang yang beredar dapat berkurang sehingga inflasi bisa ditekan.

-Kebijakan Operasi Pasar Terbuka, kebijakan bank sentral untuk mengurangi jumlah uang beredar dengan cara menjual surat-surat berharga. Semakin banyak yang terjual jumlah uang beredar juga akan berkurang.

Kebijakan Fiskal adalah langkah untuk memengaruhi penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang dapat memengaruhi tingkat inflasi. Langkah tersebut seperti menghemat pengeluaran pemerintah sehingga permintaan akan barang dan jasa berkurang sehingga dapat menurunkan harga. Menaikkan tarif pajak, apabila tarif pajak rumah tangga dan perusahaan naik maka akan mengurangi konsumsi serta permintaan barang dan jasa.

Kebijakan Lainnya atau Non Moneter, selain dua kebijakan di atas pemerintah memiliki cara lain untuk mengendalikan inflasi yaitu, memerintahkan peningkatan produksi dan menambah jumlah barang melalui kemudahan aturan impor barang. Pemerintah juga dapat menetapkan harga maksimum untuk beberapa jenis barang agar harga tetap terkendali namun harus tetap realistis sehingga tidak terjadi pasar gelap.

(Baca juga: Mantap, Inflasi Tetap Terjaga Rendah Selama 4 Tahun)
Kiat Menghadapi Inflasi

Sebagai masyarakat kita juga harus bersiap menghadapi inflasi yang datangnya perlahan tapi pasti, ada beberapa hal yang bisa Sobat terapkan.

Pertama mengelola keuangan dengan baik dan melek isu-isu keuangan terkini agar dapat menghadapi inflasi dengan cepat dan tepat. Lebih lanjut langkah tepat yang dapat dilakukan adalah berinvestasi, pilih instrumen investasi yang imbal baliknya lebih tinggi daripada tingkat inflasi per tahun.

Kamu bisa berinvestasi di pasar modal dan reksa dana. Investasi di pasar modal memang berisiko tinggi namun imbal baliknya juga tinggi, untuk itu kita harus menganalisa dan memilih emiten yang bonafide. Beberapa emiten atau perusahaan di pasar modal mungkin terkena dampak inflasi namun perusahaan yang kinerjanya baik bisa bangkit kembali dan memberikan return yang menarik untuk jangka panjang.

Memilih deposito juga merupakan langkah yang tepat. Rata-rata tingkat inflasi di Indonesia dalam 5 tahun terakhir mencapai 4,2% per tahun, maka memilih deposito dengan pengembalian 5-7 % per tahun adalah pilihan tepat. Oya , pastikan juga setiap layanan perbankan maupun investasi yang dipilih memberikan layanan suku bunga yang tetap. Hal ini sangat penting untuk mengantisipasi kenaikan iuran dan biaya lainnya saat terjadi inflasi. Emas adalah salah satu yang paling aman untuk diinvestasikan, biasa disebut sebagai safe haven. Dibandingkan dengan 5 tahun lalu harga emas saat ini sudah mengalami kenaikan hingga 35%. Seperti yang sudah dibahas pada artikel sebelumnya, emas merupakan pelindung nilai (hedging) karena harganya cenderung stabil dan lebih aman saat inflasi. Selain itu emas juga mudah dicairkan sewaktu-waktu apabila membutuhkan dana darurat.

Meskipun terkadang kurang baik, inflasi dibutuhkan dalam perekonomian karena hal ini menunjukkan adanya peningkatan pada perekonomian, namun nilai yang terlalu tinggi pada inflasi juga tidak baik. Sehingga idealnya inflasi harus berada pada posisi yang stabil. Banyak orang berpendapat untuk meminta adanya penurunan harga, namun sungguh disayangkan hal ini berbeda apabila orang tersebut berada pada posisi produsen atau penjual yang menginginkan adanya kenaikan pendapatan, sehingga selalu meningkatkan harga.

Terdapat berbagai cara untuk mengatasi inflasi namun salah satu cara yang paling mendasar adalah ‘persepsi’. Melalui persepsi masyarakat secara luas terhadap inflasi dan kerja sama pemerintah dengan masyarakat pertumbuhan perekonomian dan inflasi akan stabil dan terjaga.

Tentang Penulis