Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

8 menit waktu bacaan

Sering Rancu, Ini Perbedaan Lockdown dan Social Distancing

by Rini Agustina on 21 Maret, 2020

Sejak serangan virus Corona atau Covid-19 merebak di berbagai daerah Indonesia, pemerintah menyarankan untuk memberlakukan social distancing. Menghabiskan lebih banyak waktu dirumah dan mengurangi interaksi sosial yang melibatkan massa.

Sering Rancu, Ini Perbedaan Lockdown dan Social Distancing

Social distancing hampir menjadi sajian utama berbagai media, di samping opsi “lockdown” yang lebih dipilih oleh negara tetangga Malaysia. Ya, Presiden Jokowi mengakui bahwa opsi lockdown tidak pernah ada dalam bayangannya mengingat efeknya yang lebih besar dibanding social distancing.

Upaya Jokowi dalam menentukan keputusan antara lockdown dan social distancing,nakhirnya menciptakan diskusi di berbagai lini masa tentang pentingnya lockdown bagi pencegahan penyebaran virus dan belum disiplinnya warga Indonesia melakukan social distancing.

(Baca juga: Daftar Pesepak Bola Terkena Corona, Adakah Idolamu?)

Para musisi, artis dan pegiat sosial ramai-ramai membicarakan kedua istilah tersebut, yang sebenarnya masih asing bagi telinga masyarakat awam. Alhasil strategi social distancing yang diharapkan pemerintah tak pernah terealisasi. Masih banyak warga yang tidak mengindahkan anjuran pemerintah untuk bekerja dan belajar dari rumah.

Apa itu Social Distancing?

Banyak influencer yang menumpahkan kekesalannya ketika melihat warga Indonesia yang berbondong-bondong berlibur ke pantai ditengah penyebaran virus Corona yang semakin meluas.

Istilah social distancing pun mereka kemukakan, yang sebenarnya hanya dimengerti oleh sebagian kecil kalangan. Maklum, istilah dalam bahasa Inggris memang kurang nasionalis sehingga sulit dicerna oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Mengutip dari NewScientist social distancing adalah perubahan perilaku yang dapat membantu menghentikan penyebaran infeksi. Perilaku ini termasuk membatasi kontak sosial, pekerjaan dan sekolah di antara orang-orang yang tampaknya sehat, dengan maksud untuk menunda atau menekan penularan wabah.

Pada penelitian terdahulu yakni saat wabah flu 1918 dan Ebola menyerang pada 2014, strategi social distancing ini dianggap berhasil menekan penyebaran virus.

Beberapa tindakan nyata social distancing antara lain nda dapat menurunkan risiko infeksi dengan mengurangi tingkat kontak Anda dengan orang lain.

Menghindari ruang publik dan pertemuan sosial yang tidak perlu, terutama acara dengan sejumlah besar orang atau orang banyak, akan menurunkan kemungkinan Anda terkena virus corona baru serta penyakit menular lainnya seperti flu.

Langkah-langkah lain bekerja dari rumah jika mungkin, mengatur pertemuan melalui panggilan video daripada melakukannya sendiri dan menghindari penggunaan transportasi umum yang tidak perlu.

Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan untuk menjaga jarak setidaknya 1 meter antara Anda dan siapa saja yang batuk atau bersin. Anda juga disarankan untuk menghindari kontak fisik dengan orang lain dalam situasi sosial, termasuk jabat tangan, pelukan, dan ciuman.

Namun strategi social distancing ini memberikan implikasi terhadap kondisi ekonomi setiap negara. Upaya sosial untuk mengendalikan penularan tersebut harus dibayar dengan biaya ekonomi yang meningkat signifikan namun dengan segala industri yang goyang karena ekonomi tidak berjalan dengan lancar.

Social distancing ini sifatnya hanya sebuah himbauan atau ajakan dari pemerintah. Jadi realisasinya tergantung kepada kesadaran individu untuk sama-sama menjaga batas atau malah tidak peduli sama sekali. 

Apa itu Lockdown?

Perbedaan lockdown dan social distancing, lockdown adalah pembatasan secara resmi yang dilakukan oleh pemerintah. Lockdown adalah situasi yang melarang warga untuk keluar-masuk sebuah tempat karena kondisi darurat. Lockdown juga artinya menutup perbatasan untuk mencegah orang-orang meninggalkan maupun memasuki suatu area

Saat lockdown diberlakukan sejumlah fasilitas umum seperti  sekolah, universitas, cafe, restoran, dan bioskop dan tempat-tempat yang ramai dikunjungi warga akan ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Hingga saat ini Presiden Jokowi menilai Indonesia masih belum memerlukan lockdown. Kebijakan lockdown sudah diterapkan di China pada saat awal virus corona mewabah, Italia, Denmark, Prancis, dan Spanyol.

Perbedaan Lockdown dan Social Distancing
1. Undang-Undang

Nyatanya persoalan lockdown dan social distancing ini diatur dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, yakni pasal 59 dan 60. Regulasi tersebut juga menjelaskan perbedaan lockdown dan social distancing. 

Pada UU tersebut dijelaskan bahwa lockdown atau karantina wilayah adalah “pembatasan penduduk dalam suatu wilayah termasuk wilayah pintu masuk beserta isinya yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi”. 

Sedangkan social distancing atau pembatasan sosial didefinisikan sebagai “pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi”. 

Kesimpulannya, lockdown dan social distancing sama-sama bertujuan menekan potensi penularan penyakit. Perbedaannya, lockdown membatasi mobilisasi orang agar tidak masuk dan keluar suatu wilayah, sedangkan social distancing membatasi kegiatan sosialnya saja untuk tidak menciptakan keramaian.

Kemudian pada pasal 59 ayat 2 dijelaskan bahwa pembatasan sosial lebih bertujuan untuk “mencegah meluasnya penyebaran penyakit yang sedang terjadi antar orang di suatu wilayah.”

Social distancing adalah strategi untuk mencegah penularan penyakit antar individu dalam satu wilayah, sedangkan lockdown untuk mencegah penularan antar wilayah berbeda. 

Lalu pada pasal 59 ayat 3 dijelaskan bahwa pembatasan sosial antara lain dilakukan dalam bentuk antara lain:

  • Meliburkan sekolah dan tempat kerja,
  • Pembatasan kegiatan keagamaan, dan
  • Pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.
2. Isolasi

Perbedaan pertama antara lockdown dan social distancing adalah jenis isolasi yang digunakan. Jika pada masa social distancing isolasi dilakukan atas kesadaran sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun, maka pada masa lockdown isolasi ini bersifat wajib.

Biasanya ada sejumlah tentara yang dikerahkan untuk memastikan masyarakat menaati perintah lockdown. Namun tidak semua negara mengambil keputusan ekstrem ini. Isolasi pada negara yang menyatakan lockdown juga tidak selamanya berjalan mulus. Italia contohnya.

Meski negara ini memberlakukan status lockdown namun sejumlah warga masih melakukan pertemuan yang melibatkan massa. Akibatnya, setelah masa lockdown diberlakukan jumlah orang yang positif virus Corona justru semakin meningkat. Hal itu karena tidak adanya pengawasan dan aturan yang tegas untuk para warganya.

3. Pembatasan Aktivitas

Saat negara menyerukan social distancing, sebenarnya pemerintah belum secara tegas melakukan pembatasan aktivitas publik. Setidaknya hanya 20% dari acara yang melibatkan masa dapat digagalkan, selebihnya terutama yang diadakan di kawasan pedesaan sulit untuk ditangguhkan. Hal ini karena tidak adanya pengawasan dari pemerintah pusat.

Sementara ketika lockdown diberlakukan artinya setiap aktivitas yang dilakukan masyarakat harus berada dibawah pengawasan pemerintah.Di negara yang menerapkan lockdown, masyarakat harus berada di dalam rumah atau apartemen dan dilarang keluar hingga waktu yang belum ditentukan.

4. Penggunaan Ruang Publik

Jika saat social distancing ada sejumlah ruang publik yang masih diperbolehkan beroperasi seperti kampus dan supermarket, dan masih dapat diakses bebas.

Hal berbeda terjadi ketika penerapan status lockdown. Masyarakat tidak bisa lagi secara bebas berbelanja kebutuhannya dimanapun dan kapanpun. Aktivitas belanja dibatasi.

Bahkan beberapa negara benar-benar melarang warganya keluar dari rumah, mereka akan mendatang kebutuhan domestik warganya dan diantar kerumah masing-masing.

Itulah beberapa perbedaan antara social distancing dan lockdown. Indonesia sendiri sudah menerapkan social distancing di beberapa kota besar, khususnya Jabodetabek.

Social Distancing dan Lock Down, Mana Paling Efektif?

Sejumlah negara berani mengambil sikap tegas dengan menetapkan negaranya lockdown. Artinya tidak boleh ada lagi orang atau individu yang keluar maupun masuk ke dalam sebuah negara sampai batas waktu yang ditentukan.

Namun kebijakan lockdown ini tidak selamanya efektif menekan penyebaran pandemi virus Corona. Ambil contih Italia yang kini masih berjuang dengan korban yang terus bertambah, padahal status lockdown sudah diberlakukan sejak lama.

Para ahli ekonomi bahkan berpendapat status lockdown bisa menyebabkan sejumlah implikasi buruk bagi sebuah negara. Memang keputusan Lockdown diperkirakan akan dapat mencegah penyebaran Covid 19 dari luar ke dalam negeri. Namun ketika virusnya sudah masuk dan menyebar ke dalam negeri, maka kebijakan lockdown cenderung tidak efektif.

Sebab jumlah korban pasti akan terus bertambah. Sejumlah ahli menyarankan alih-alih lockdown ada baiknya bagi negara yang mengalami paparan virus Corona cukup luas agar memberlakukan strategi social distancing saja, dan disisi lain meningkatkan fasilitas kesehatan yang terjangkau bagi semua kalangan.

Cara untuk menekan pandemi Corona yang paling baik adalah self isolation, membatasi diri dari interaksi sosial dan kontak dengan orang lain. Upaya lockdown dianggap percuma jika warganya tetap melakukan interaksi sosial dan tidak menerapkan upaya pencegahan yang disarankan.

Kebijakan Pemerintah

Selain kebijakan lockdown akan berdampak besar terhadap negara, baik dari segi ekonomi, sosial, dan keamanan. Dalam hal ini Indonesia diprediksi belum siap jika harus melakukan lockdown.

DKI Jakarta yang menjadi wilayah dengan persebaran pandemi Corona terbesar di Indonesia sudah mulai menerapkan social distancing. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan sejumlah kebijakan, di antaranya: 

  • Membatasi Akses Transportasi Umum Mulai 16 hingga 30 Maret 2020

Layanan bus transjakarta hanya akan melayani 13 rute dan memberhentikan sementara layanan Angkutan Malam Hari (Amari). Waktu operasionalnya pun dibatasi hanya antara pukul 06.00-18.00 dengan jeda keberangkatan tiap 20 menit. 

  • Car Free Day Dihapuskan hingga 20 Maret 2020

Pemerintah provinsi DKI Jakarta memutuskan menghapus kegiatan Car Free Day untuk sementara waktu. Hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) yang kerap diadakan di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin biasanya terjadi di akhir pekan. 

  • Meliburkan Sekolah Selama 14 hari 

Seluruh kegiatan belajar mengajar di seluruh sekolah di DKI Jakarta ditangguhkan, dan pelaksanaan Ujian Nasional pun juga ditunda. Para siswa dan guru diimbau untuk melakukan proses belajar mengajar jarak jauh. 

  • Menutup Tempat Wisata 

Tempat wisata dinilai sebagai sumber keramaian dan berpotensi besar menyebarkan virus. Pemerintah Jakarta memutuskan menutup 28 tempat wisata yakni:

Kawasan Monas, Kawasan Kota Tua Ancol (kawasan pantai), Dunia Fantasi, Atlantis Water Adventures, Ocean Dream Samudra, Sea World Ancol, Allianz Ecopark, Taman Margasatwa Ragunan, Anjungan DKI di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), PBB Setu Babakan, Planetarium Taman Ismail Marzuki, Rumah si Pitung, dan Taman Arkeologi Onrust . 

Kemudian ada Museum Bahari, Museum Sejarah Jakarta, Museum Prasasti, Museum MH Thamrin, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Tekstil, Museum Wayang, Museum Joang 45, Museum MACAN, Museum Mandiri, Museum Maritim Indonesia, Museum Nasional Indonesia, Museum Sumpah Pemuda, dan Museum Kebangkitan Nasional.

Itulah beberapa strategi social distancing pemerintah DKI Jakarta. Namun upaya pemerintah menekan penyebaran virus ini tidak bisa direalisasikan jika para warganya masih tidak mengindahkan saran yang disampaikan para pejabat terkait. Bijaklah dalam bertindak dan selalu waspada karena bahaya virus Corona ada dimana-mana.

Saat ini kalau kamu ingin melakukan kredit belanjaan tanpa credit card bisa pakai layanan dari Kredivo loh. Bahkan platform ini menyediakan limit hingga Rp30 juta untuk berbelanja di sejumlah e-commerce ternama, seperti Lazada, Shopee, dan masih banyak lagi.

Tentang Penulis