Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

4 menit waktu bacaan

Siapkan Dana Pendidikan Anak Lewat Investasi, Ini Langkahnya!

by Tisyrin N. T on 30 Oktober, 2016

investasi pendidikan anak - CekAja.com

Biaya pendidikan terus mengalami kenaikan, sehingga orangtua harus pandai mengatur strategi untuk menyiasatinya. Orangtua bisa mencoba investasi untuk memastikan anak-anak dapat mengecap pendidikan yang layak.

Oleh karena itu, Bank DBS Indonesia melalui DBS Treasure bersama PT Puncak Finansial Utama (CekAja.com) menyelenggarakan acara 360 Degree of Generation Z yang mengangkat tema Invest for Happiness. Ajang tersebut berupa talkshow yang berlangsung pada Sabtu, 29 Oktober 2016 di Jade Room, Fairmont Hotel Jakarta.

Salah satu pembicara yaitu VP Head of Market Intelligence & Investment Specialist Team Bank DBS Indonesia Markus Erik A. mengatakan investasi dapat menyelamatkan dari inflasi, termasuk dalam hal biaya pendidikan yang terus meningkat. (Baca juga: Harus Investasi Jika Tidak Mau Bangkrut, Ini Alasannya)

Secara sederhana dia mencontohkan, rata-rata inflasi mencapai sekitar 7% per tahun. Uang sebesar Rp45.000 – Rp50.000 saat ini dapat dipakai untuk membeli segelas kopi di kedai ternama, 20 tahun kemudian harga kopi sudah mencapai Rp174.000.

Jika uang sebesar Rp50.000 hanya tersimpan dalam tabungan, maka tidak akan bisa membeli kopi di kedai ternama 20 tahun mendatang. Jika tersimpan di deposito akan mendapatkan imbal hasil 6% per tahun sehingga nilainya menjadi Rp160.000, jumlah ini pun masih kurang untuk membeli kopi.

Namun, jika uang Rp50.000 tersimpan di instrumen investasi dengan imbal hasil mencapai 10% per tahun saja, nilainya akan menjadi Rp336.000. Artinya investasi dapat menggerus inflasi.

Nah, untuk melawan biaya pendidikan yang semakin tinggi, segeralah berinvestasi. Berikut langkah-langkah yang dapat ditempuh olehmu sebagai orangtua.

banner-dbs-1744x542

Mengetahui kebutuhan

Investasi akan lebih lancar jika kamu memahami betul apa kebutuhanmu. Kebutuhan inilah yang akan menjadi tujuanmu dalam berinvestasi. Kali ini, tetapkan kebutuhan untuk mempersiapkan pendidikan anak-anak. (Baca juga: 8 Cara Agar Saat Pensiun Bisa Lebih Kaya)

Selain itu, pertimbangkan pula berapa lama waktu yang tersedia untuk investasi. Caranya, lihat berapa usia anakmu sekarang? Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mempersiapkan kebutuhan dana pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi?

Setelah masalah waktu, tentukan juga berapa jumlah yang bisa kamu alokasikan untuk investasi. Namun, menurut Markus, yang terpenting bukanlah seberapa besar kamu berinvestasi tetapi seberapa cepat kamu mulai berinvestasi.

Orang yang investasi dengan jumlah Rp10 juta bisa menghasilkan jumlah yang besar karena memulai lebih cepat dibandingkan orang yang investasi dengan jumlah Rp20 juta tetapi memulai belakangan. Artinya, lebih cepat kamu memulai investasi untuk persiapan pendidikan anak-anak, maka akan semakin baik hasilnya.

Kenali profil risiko

Sebelum serius berinvestasi, kenali dulu profil risiko kamu. Profil risiko akan berpengaruh terhadap pilihan instrumen investasi. Secara umum di dunia perencana keuangan, terdapat tiga profil risiko investasi yaitu konservatif, moderat, dan agresif.

Kamu akan tergolong konservatif jika cenderung menghindari risiko atau ingin aman dalam berinvestasi. Karena tidak mau bermain risiko, biasanya tipe ini akan mendapatkan hasil yang tak terlalu tinggi.

Tipe moderat juga ingin stabil dalam berinvestasi. Namun, tipe ini siap menghadapi sedikit risiko. Sementara tipe agresif siap menghadapi risiko yang besar. Justru semakin tinggi risiko dalam berinvestasi, semakin tinggi pula potensi hasilnya.

Kenali berbagai instrumen investasi

Coba pelajari berbagai jenis instrumen investasi agar mendapat gambaran mana yang paling tepat dengan profil risiko kamu dan tujuan kamu. Salah satu contoh instrumen investasi yang tepat untuk tipe konservatif adalah emas, tipe moderat contohnya reksa dana pasar uang dan properti, lalu tipe agresif contohnya saham. (Baca juga: Cara Miliarder Kelola Uang agar Makin Kaya)

Lakukan monitoring secara periodik

Monitoring bertujuan menyesuaikan investasi dengan kondisi ekonomi. Misalnya ketika kondisi ekonomi tak menentu, bisa melakukan rebalancing pada investasi kamu agar tetap aman. Padukan instrumen investasi yang berisiko tinggi dengan yang rendah.

Selamat berinvestasi!

Tentang Penulis

Penulis konten yang pernah mencicipi profesi sebagai jurnalis bidang finansial, kesehatan, seni, dan lifestyle.