Tak Harus Jauhi Pengidapnya, Cegah HIV/AIDS dengan Cara Ini

4 min. membaca Oleh Sindhi Aderianti on

AIDS merupakan penyakit mematikan yang dibawa oleh virus bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus). Memiliki kepanjangan Acquired Immunodeficiency Syndrome, kondisi ini terjadi apabila virus penyebabnya terus berkembang dan memasuki stadium akhir. AIDS menyumbang kerusakan lebih serius pada sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak ada satupun orang yang mampu bertahan melawannya.

makanan untuk penderita vertigo

Penularan AIDS disebabkan oleh beragam hal, di antaranya meliputi seks bebas, pemakaian jarum suntik bergantian, kontak cairan tubuh seperti darah. Jika seorang ibu hamil mengidap penyakit tersebut, AIDS juga bisa ditularkan melalui persalinan normal dan menyusui.

Bagi hampir semua orang, AIDS adalah momok yang menakutkan. Sebab, hampir tidak ada pengidap yang bisa selamat karena penyakit ini. Terlebih hingga sekarang, belum ada obat yang bisa secara tuntas menyembuhkannya. Namun seperti yang selalu dikatakan dalam setiap penyuluhan, “Jauhi virusnya, bukan pengidapnya”.

Memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember, yuk ketahui cara mencegah penyakit ini. Tak sepenuhnya harus menjauhi apalagi mengucilkan pengidap AIDS, kok!

1. Jangan pernah sharing alat suntik

Jarum suntik

HIV dapat sangat mudah ditularkan lewat jarum suntik yang terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi. Tahun lalu, kasus penularan HIV dari alat facial bahkan pernah terjadi. Alat facial yang memiliki komponen jarum-jarum kecil, ternyata juga bisa menularkan virus tersebut. Menurut dokter yang ia datangi, alat facial wajah tersebut kemungkinan besar tidak steril.

(Baca juga: Ria Irawan Kembali Dirawat, Yuk Mengenal Penyakit Kanker Lebih Jauh!)

2. Tidak melakukan seks bebas

Tidak berhubungan seks

Selanjutnya, hindari seks dengan bergonta-ganti pasangan. Jadilah pribadi setia dan jangan suka ‘jajan’  bagi pasangan yang sudah menikah. Kamu tidak pernah tahu apakah lawan mainmu, selain pasangan sendiri bersih atau tidak dari penyakit. Meski telah menggunakan pengaman, apapun alasannya hubungan seks tak tahu aturan sangat cepat menularkan virus HIV.

3. Hindari menyentuh cairan tubuh pengidap

Hindari menyentuh cairan tubuh pengidap

Cara ini tak berarti menjauhi pengidapnya. Namun, sebisa mungkin hindari kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang dapat menyebarkan HIV. Terutama jika kamu memiliki luka terbuka di bagian tubuh manapun. Cairan tubuh yang bisa membawa virus HIV meliputi:

  • ASI
  • Cairan vagina
  • Mukus rektum (pelumas alami anus)
  • Air mani dan cairan praejakulasi
  • Cairan ketuban, cairan cerebrospindal, dan cairan synovial

4. Khitan bagi laki-laki

Khitan

Bila dilihat dari sisi medis, khitan ternyata memiliki banyak manfaat kesehatan termasuk mencegah AIDS. Web MD menambahkan, sebuah penelitian yang dilakukan Unit Penelitian Pencegahan HIV di Afrika Selatan menunjukkan bahwa dari 3.000 pria muda, 60% pria yang menjalani khitan memiliki risiko terkena HIV/AIDS lebih kecil.

4. Lakukan pre-exposure prophylaxis (PrEP)

pre-exposure prophylaxis

PrEP merupakan metode pencegahan HIV dengan cara mengonsumsi antiretroviral bagi mereka yang berisiko tinggi tertular HIV, yaitu mereka yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual, memiliki pasangan dengan HIV positif, menggunakan jarum suntik yang berisiko dalam 6 bulan terakhir, atau mereka yang sering berhubungan seksual tanpa pengaman.

Positif HIV Belum Tentu AIDS

Jangan salah kaprah, positif HIV ternyata belum tentu AIDS. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia hingga rentan terkena berbagai penyakit. Sedangkan, AIDS merujuk pada stadium akhir dari infeksi virus HIV.

Infeksi HIV memiliki 3 stadium. Agar lebih paham bagaimana kerjanya virus tersebut menyerang tubuh seseorang, cek tahap demi tahap pergerakan HIV hingga menjadi AIDS berikut ini:

  • Stadium I

Stadium pertama disebut dengan infeksi akut atau serokonversi, yang biasanya terjadi dalam waktu 2-6 minggu setelah terinfeksi HIV. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh masih berusaha melawan HIV. Berbagai gejala yang terjadi pada stadium pertama ini, biasanya sama dengan berbagai infeksi virus lainnya dan seringkali dikira sebagai flu. Gejala dapat berlangsung selama 1-2 minggu.

  • Stadium II

Pada stadium kedua, kebanyakan penderita tidak menyadari dirinya telah terinfeksi oleh HIV. HIV membunuh sel CD4 secara perlahan dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh. Dalam keadaan normal, CD4 biasanya berjumlah antara 450-1.400 sel/µL. Namun jika sudah memasuki stadium ini, penurunan kadar CD4 secara konstan membuat pengidap rentan terserang berbagai infeksi lain. Stadium ini pun dapat berlangsung selama 10 tahun atau lebih.

  • Stadium III

Memasuki stadium III, pengidap HIV disebut telah mengalami AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), dimana kadar CD4 semakin merosot hingga kurang dari 200 sel/µL. Selain penurunan CD4 tersebut, seorang penderita HIV dapat positif terdiagnosa AIDS bila ia juga menderita sarkoma kaposi (suatu jenis kanker kulit) atau pneumonia pneumokistik (suatu gangguan paru-paru).

(Baca juga: Mengenal Autoimun, Penyakit yang Diderita Raditya Dika!)

Sebentar Lagi Ada Vaksin HIV

Upaya pencegahan HIV, selama ini mungkin hanya terbatas pada kesadaran menjauhi pemicunya dan mengonsumsi obat antiretroviral yang disebut PrEP. Kabar baiknya, bakal ada vaksin HIV dalam beberapa tahun ke depan!

Melansir dari Nature, 31 Juli 2019; Susan Buchbinder, seorang epidemiologis di University of California, San Fransisco, yang tergabung dalam tim peneliti menyebut bahwa vaksin HIV ini akan menjadi gebrakan besar. Kini, uji klinis vaksin HIV sudah memasuki tahap akhir.

Sebenarnya ada lebih dari 100 vaksin HIV yang sudah diuji coba ke manusia dalam tiga dekade terakhir. Namun, peluncuran vaksin ini terkendala oleh beragam strain HIV yang ada di seluruh dunia. Sehingga perlu memberi berbagai materi untuk lebih menyesuaikannya.

Lalu kalaupun ada satu vaksin yang ampuh mencegah HIV, tidak begitu long last alias tak bertahan lama. Vaksin yang telah diuji di Thailand tersebut misalnya, memang terbukti bisa menurunkan risiko HIV terkena hingga 60 persen. Akan tetapi, efek perlindungannya menurun dalam waktu setahun dan dalam 3,5 tahun hanya tersisa 31 persen.

Meski demikian, hadirnya vaksin HIV kelak akan menjadi alternatif dan solusi penanggulangan AIDS terbaik, di mana selama ini penyakit tersebut adalah momok  mengerikan bagi semua kalangan.

Tentang kami

Sindhi Aderianti

Sindhi Aderianti Penulis yang kadang jadi pedagang