Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

Tips Aman Gunakan THR untuk Investasi

by Ariesta on 24 Juni, 2016

Setelah menyisihkan untuk keperluan lebaran, mudik, liburan, membayar cicilan, dan menabung, tidak ada salahnya jika uang THR digunakan untuk investasi. Daripada uang THR habis percuma, memutar uang lewat investasi jelas lebih mendatangkan keuntungan.

Beragam investasi bisa dipilih. Yang pertama adalah investasi reksadana yakni investasi di mana kamu mempercayakan sejumlah uang kepada sebuah manajer investasi untuk diinvestasikan ke sejumlah instrumen di pasar modal.

Kemudian investasi saham, yang artinya penanaman modal yang berhubungan dengan pembelian dan penyimpanan saham pada sebuah pasar modal dimana investor biasanya akan mengharapkan adanya dividen dan capital gain. Ada juga investasi obligasi (surat utang), emas, serta perak. (Baca juga: Belajar Investasi dari Cara Warren Buffett Menjual Sahamnya)

Dari semua jenis investasi yang telah disebutkan, kamu harus jeli memilih. Pasalnya, momen pembagian THR sering dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab untuk menawarkan investasi. Bukannya untung, kamu malah buntung karena terjebak investasi bodong.

Lantas bagaimana agar uang THR tidak digunakan investasi bodong?

 

Hanya berinvestasi pada instansi/perusahaan legal

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah membuat panduan bagi calon investor pemula. Salah satunya adalah meilihat legalitas perusahaan yang memayungi investasi. Perusahaan yang menawarkan investasi haruslah terdaftar dan diawasi OJK.

Sebelum menanam uangmu, pastikan izin usaha dari instansi yang berwenang, ada tidaknya tentang underlying usaha kegiatan investasi yang memenuhi aspek kewajaran dan kepatutan di setiap kegiatan investasi, dan ada tidaknya penjelasan tentang cara pengelolaan investasi. (Baca juga: 10 Investasi Bodong Terbesar yang Pernah Terjadi di Dunia)

Selain itu, perhatikan jug struktur kepengurusan, struktur kepemilikan, struktur kegiatan usaha, dan alamat domisili usaha. Terakhir, cari tau juga reputasi instansi dengan menilik ada tidaknya keluhan dari investor. Jangan malas bergabung dengan forum-forum investor supaya kamu tahu perusahaan mana saja yang masuk daftar hitam.

Jangan mudah tergiur dengan imbalan tinggi

Investasi bodong biasanya akan menawarkan imbalan di luar kewajaran. Tawaran yang kerap muncul adalah investasi dengan skema Ponzi. Misalnya kamu diminta menyetor modal Rp1 juta untuk mendapatkan Rp2 juta di bulan berikutnya. Keuntungan pun semakin meningkat setiap bulan. Makin besar uang yang kamu tanam, makin besar pula keuntunganmu.

Kamu patut curiga dengan penawaran macam ini. Apalagi kalau kamu tidak mendapat penjelasan pengelolaan uang yang tiap bulan disetorkan.

Jangan tergiur iming-iming investasi tanpa risiko

Investasi jenis apapun selalu memiliki risiko meskipun risikonya kecil. Karena investasi pasti ada masa naik dan turun, kamu patut curiga saat ada tawaran untuk berinvestasi tanpa risiko. Bahkan investasi emas dan perak pun berisiko. (Baca juga: Bagaimana Memulai Investasi Logam Mulia yang Tepat?)

Pertumbuhan harga emas kerap kalah dibandingakan instrumen investasi lain termasuk perak. Selain itu, pembelian emas juga mengharuskan investor untuk mengeluarkan dana tambahan yakni biaya pembuatan. Emas juga instrumen investasi yang sangat buruk pertumbuhannya dalam jangka pendek. Investasi emas sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang.

Sedangkan perak lebih sensitif pada krisis ekonomi. Kekuarangan perak juga ada pada likuiditasnya. Perak tidak mudah dibeli dan dijual. Jika dibandingkan dengan emas, pasar yang bisa menyerap perak lebih sedikit.

 

Tentang Penulis