Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Toko Konvensional Masih Dicari, Ini 4 Perilaku Konsumen Saat Membeli Ban Sepeda Motor

by Anes Saputra on 6 Februari, 2020

Di tengah maraknya aktivitas jual beli barang melalui marketplace atau e-commerce, produsen ban sepeda motor masih membutuhkan toko konvensional dalam memasarkan produknya ke konsumen.

Berbeda dengan sifat produk fesyen, makanan dan minuman, atau peralatan rumah tangga yang setelah dibeli secara online bisa langsung digunakan, konsumen membutuhkan peralatan dan keahlian khusus untuk bisa mengganti ban sepeda motornya.

Hal ini yang membuat bisnis toko ban sepeda motor konvensional tidak akan surut peminatnya, meskipun toko online menjamur di Indonesia.

Berikut adalah 4 fakta yang merekam perilaku konsumen dalam membeli ban sepeda motor di Indonesia:

1. Toko konvensional masih jadi andalan

Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) mencatat, perusahaan-perusahaan produsen ban yang menjadi anggotanya masih mengandalkan jalur penjualan konvesional. Meski ada kecenderungan perubahan perilaku konsumen membeli ban di toko online.

Agus Sarsito, Sekretaris Jenderal APBI, mengatakan karakter konsumen masih menginginkan pembelian dan pemasangan ban sepeda motor di toko dan bengkel konvesional.

APBI mencermati memang terjadi perubahan perilaku konsumen di segmen ritel. Sehingga memicu produsen ban agresif menambah kanal penjualan ban sepeda motor di ecommerce dan toko online.

“Memang ada kecenderungan agresif untuk menawarkan secara online, tetapi konsumen akan kesulitan pasangnya karena perlu alat,” tutur Agus kepada CekAja di Jakarta, Jum’at (31/1) lalu.

2. Beli di toko online kena biaya pasang

Agus menilai kalaupun sekarang marak pembelian secara online, ia memperkirakan sifatnya mungkin hanya sementara saja.

(Baca juga: Mengintip Kecanggihan NMax Baru, Motor Pertama yang ‘Terkoneksi’ dengan Pengendara)

“Sebab konsumen yang sudah membeli ban secara online tetap harus bayar ongkos pasang dan balancing lagi di bengkel. Tarif jasanya bisa lebih mahal dibandingkan membeli di toko ban yang harganya sudah termasuk ongkos pasang,” jelasnya.

3. Merek IRC dan Zeneos paling dicari

Dari sisi pangsa pasar, Agus menyebut ban sepeda motor yang diproduksi PT Gajah Tunggal Tbk dengan merek IRC dan Zeneos saat ini memimpin pangsa pasar ban sepeda motor nasional di tahun 2019.

“Disusul sangat dekat oleh Suryaraya Rubberindo dengan produksi ban FDR dan Federal,” kata Agus.

Raihan pangsa pasar itu diestimasikan APBI hingga menjelang akhir tahun lalu, yakni periode Januari-November 2019. Namun menurut Agus, kemungkinan besar posisi pemimpin pasar ban sepeda motor itu tak banyak berubah.

Selain empat merek tersebut, pasar ban sepeda motor di Indonesia juga diramaikan oleh merek Duro, Ascendo, Comet, Maxio, Fir, V-Rubber, Sportivo, Villeto, Rasenda, Mabon Diamond, Pomad, dan Terrano.

4. Prospek bisnis toko ban sepeda motor di Indonesia

Dari hasil wawancana CekAja dengan Agus bisa disimpulkan bahwa prospek bisnis toko ban sepeda motor di Indonesia masih sangat menjanjikan.

Sampai saat ini saja, jumlah produsen ban sepeda motor yang menjadi anggota APBI ada sebanyak 12 pabrik.

Ditambah lagi ada dua produsen ban sepeda motor yang belum menjadi anggota APBI, yang jika ditotal mampu memproduksi 90 juta ban sepeda motor di Indonesia.

“Kabarnya ada beberapa pabrik lagi (dalam skala kecil) yang memproduksi ban sepeda motor tapi belum terdaftar (karena tidak semua produsen ban anggota APBI), kalau tidak salah ada 2 lagi pabrik ban sepeda motor,” ungkapnya.

Seluruh pabrikan tersebut tentu membutuhkan banyak saluran penjualan. Sehingga terjun ke bisnis toko ban sepeda motor jelas sangat menjanjikan.

Gajah Tunggal sebagai penguasa pasar di Indonesia juga tetap optimistis permintaan ban sepeda motor akan terus meningkat meskipun industri otomotif tengah lesu.

Caranya adalah dengan menggenjot penjualan di pasar replacement.

“Kontribusi penjualan ke pabrikan sepeda motor atau original equipment manufacturer (OEM) terhadap total penjualan kami hanya 10-15 persen, relatif kecil. Oleh karena itu, kondisi industri otomotif yang stagnan hanya berdampak kecil,” ucap Direktur Corporate Communication and Investor Relation Gajah Tunggal, Catharina Widjaja.

(Baca juga: Tips Cara Klaim Asuransi Motor Kredit Hilang Yang Benar)

Penjualan ban di pasar purna jual itu berkontribusi sekitar 85-90 persen terhadap total penjualan perusahaan.

Gajah Tunggal meyakini bisnis ban di tahun ini masih prospektif, dengan menetapkan target pertumbuhan penjualan ban sekitar 5-8 persen. Serta meningkatkan utilisasi pabrik sebesar 80 persen dibandingkan tahun 2019 yang baru sebesar 70 persen.

Jadi, sudah siap membuka toko ban sepeda motor kamu sendiri? Mulai saja dengan satu toko terlebih dahulu, dan jajaki kerja sama penjualan dengan pabrikan-pabrikan ban tersebut.

Siapa tahu, jika penjualan kamu lancar maka bisnis toko ban kamu bisa maju dengan terus membuka cabang baru.

Jangan khawatir urusan permodalan, karena lewat CekAja.com, kamu bisa mengakses Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk mulai merintis usaha.

Pilih dan ajukan KTA sesuai kebutuhan bisnis kamu sekarang juga!

Tentang Penulis

Anes Saputra

Artikulasi Sinekdoke