Tren Industri Otomotif Saat Corona Menurun? Ini Kebijakan Pemerintah

4 min. membaca Oleh Nadhillah Kusindriani on

Wabah virus corona nyatanya tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial masyarakat saja, tetapi juga berdampak pada industri otomotif. Di Indonesia sendiri, tren industri otomotif saat corona mengalami penurunan.

tren industri otomotif saat corona

Indonesia sejatinya setiap tahun memiliki target penjualan sebanyak 1 juta unit, namun rasanya kini harus terputus. Lantas, apa saja yang menjadi penyebab menurunnya tren industri otomotif saat corona?

Berikut ulasan yang telah CekAja.com rangkum khusus untuk kamu. Simak bersama-sama, yuk!

Tren Industri Otomotif saat Corona

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, karena adanya wabah virus corona, tren industri otomotif mengalami penurunan. Salah satu faktornya adalah karena orang-orang sedang sibuk mengkarantina diri untuk menghentikan persebaran virus Covid – 19.

Maka dari itu, fokus dan minat orang-orang terhadap pembelian otomotif berkurang.

Penyebab penurunan lainnya yaitu terletak pada suku cadang. Seperti yang diketahui, bahwa tidak ada produsen otomotif yang memproduksi semuanya sendiri, mulai dari bahan baku hingga suku cadangnya.

Dalam memproduksi otomotif, semua produsen saling bergantung dalam sebuah sistem rantai pasok global. Di Indonesia sendiri, untuk suku cadang rata-rata mengimpor dari negara-negara yang memproduksi bahan baku dan suku cadang seperti China.

Sedangkan, beberapa pabrik otomotif di China terlihat masih belum beroperasi hingga saat ini. Hal tersebut dikarenakan kebijakan pemerintah China yang memerintah seluruh pengusaha di China untuk tetap tutup setelah libur tahunan.

Kebijakan itu dibuat dengan tujuan untuk membendung penyebaran virus Covid – 19, yang mulanya muncul di Negeri Tirai Bambu ini. Tutupnya beberapa pabrik otomotif di China tentu sangat mengganggu rantai pasok global dan industri otomotif global secara khusus.

Hal itu terlihat dari banyaknya pembuat mobil yang kini terancam kekurangan suku cadang. Sebab, kondisi China saat ini sangat mempengaruhi perekonomian global.

Melansir otomotif.bisnis.vom, perekonomian China sendiri kini mencapai 17 hingga 18 persen, seperti yang dikatakan oleh Yohannes Nangoi selaku Ketua Umum Gaikindo.

(Baca Juga: Biar Dompet Gak Boncos di Musim Corona, Tinggalkan 5 Kebiasaan Ini)

Kebijakan Pemerintah Indonesia Menangani Tren Otomotif saat Ini

Minimnya pasokan suku cadang dari negara pemasok karena wabah virus Corona, tentu sangat mengganggu produksi otomotif. Terlebih, hal itu juga akan berdampak pada menjulangnya harga suku cadang.

Jika harga suku cadang sudah melonjak, maka beban biaya suku cadang tersebut dimasukkan ke dalam harga akhir kendaraan. Dan sudah pasti hal tersebut akan menjadi beban konsumen nantinya ketika membeli suatu kendaraan.

Nah, untuk mengatasi hal semacam itu, pemerintah sudah berupaya untuk melakukan relaksasi pajak di bidang manufaktur, di antaranya yaitu relaksasi Pajak Penghasilan Pasal 21 (Pph Pasal 21), relaksasi Pajak Penghasilan Pasal 22 Impor (PPh Pasal 22 Impor), relaksasi Pajak Penghasilan Pasal 25 (PPh Pasal 25) dan relaksasi restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Adanya kebijakan relaksasi pajak memang sengaja ditujukan, untuk memudahkan industri domestik dalam mencari bahan baku ke negara-negara lainnya, sesuai dengan kebutuhan operasional masing-masing.

Oleh karena itu, relaksasi pajak tersebut rencananya akan diberlakukan selama enam bulan.

Namun tidak hanya itu, pemerintah juga akan melindungi industri otomotif dalam negeri, khususnya produsen untuk kendaraan komersial dengan cara tidak memberikan izin masuk untuk impor truk-truk bekas ke pasar domestik.

Optimisme Menteri Perindustrian terkait Industri Otomotif

Dari semua faktor melemahnya tren industri otomotif saat corona, Agus Gumiwang Kartasasmita selaku Menteri Perindustrian menegaskan bahwa peningkatan kinerja industri otomotif nasional tetap harus berjalan demi pembangunan ekonomi nasional.

Salah satu caranya adalah melalui acara Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC). Acara yang diselenggarakan pada 5-8 Maret 2020 lalu merupakan pameran otomotif yang digelar setiap dua tahun sekali.

Melalui acara ini, asosiasi industri otomotif Indonesia berharap dapat membangkitkan industri otomotif nasional di segmen komersial yang sempat menurun pada 2019.

Begitu pula yang diharapkan Menteri Agus Gumiwang, di mana industri otomotif untuk tahun ini dapat mencapai pertumbuhan sebesar 6 persen dibandingan tahun lalu.

Pasalnya, kendaraan komersial saat ini sangat menjanjikan, khususnya kendaraan berjenis bus, truk dan pick up. Jika melihat data tahun 2019, jenis kendaraan tersebut telah berhasil terjual di pasar domestik sebanyak 232 ribu unit dari total produksi sebesar 241 ribu unit.

Maka dari itu, meski Indonesia tengah berada di dalam wabah virus corona, namun Menteri Agus Gumiwang yakin bahwa industri otomotif memiliki potensi yang besar dan mampu menekan defisit neraca perdagangan melalui peningkatan ekspor.

Acara GIICOMVEC dianggap sebagai momentum yang tepat dan ajang untuk menunjukkan kepercayaan diri para pelaku industri nasional. Lebih dari itu, acara ini juga dinilai dapat membantu meningkatkan perekonomian Indonesia dari sektor otomotif.

(Baca Juga: Mengapa Rupiah Melemah saat Wabah Corona? Ini Jawabannya!)

Namun perlu diingat, bahwa peningkatan perekonomian Indonesia dari sektor otomotif akan terjadi apabila daya beli masyarakatnya kembali seperti semula sebelum adanya wabah virus corona.

Maka dari itu hal pertama yang wajib kamu lakukan adalah dengan menerapkan kebijakan pemerintah yaitu social distancing. Di mana, untuk saat ini kamu sebaiknya melakukan semua aktivitas di rumah, jika tidak ada keperluan mendesak yang harus dilakukan di luar rumah.

Kebijakan tersebut bertujuan untuk menjaga kesehatan masyarakat Indonesia. Lebih dari itu, alangkah baiknya jika kamu juga melindungi diri dengan asuransi kesehatan.

Kamu tidak perlu khawatir jika belum memilikinya, sebab kamu bisa mengajukannya dengan mudah dan cepat hanya di CekAja.com. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, ajukan sekarang!

Tentang kami

Nadhillah Kusindriani

Nadhillah Kusindriani