Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 5.000 Triliun

by Gito on 16 Mei, 2018

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal I tahun ini membengkak 8,7% dari periode yang sama 2017 menjadi 358,7 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 5.062,87 triliun. Adapun posisi ULN pada Maret 2017 hanya mencapai 330,04 miliar dolar AS.

negara berutang terbesar

Meningkatnya utang pemerintah dan bank sentral menjadi salah satu penyebab bertambahnya ULN tanah air, maklum sekitar 51,48% ULN Indonesia atau sekitar 184,68 miliar dolar AS bersumber dari utang pemerintah dan bank central.

Pertumbuhan utang luar negeri pemerintah dan juga bank sentral di kuartal perdana tahun ini mencapai 11,04% dari posisi Maret 2017. Sedangkan untuk utang luar negeri dari pihak swasta, pertumbuhannya hanya sebesar 6,3% menjadi 174,04 miliar dolar AS.

Mengacu pada keterangan resmi Bank Indonesia (BI), ULN pemerintah selain untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kegiatan produktif dan investasi, juga digunakan untuk turut mendukung komitmen terhadap pendanaan hijau yang ramah lingkungan.

Alhasil hingga akhir kuartal I 2018, ULN pemerintah sudah mencapai 181,1 miliar dolar AS. Jumlah tersebut terdiri dari SBN (SUN dan SBSN/Sukuk Negara) yang dimiliki oleh non-residen sebesar 124,8 miliar dolar AS dan pinjaman kreditur asing sebesar 56,3 miliar dolar AS. Posisi ULN Pemerintah pada akhir Maret tahun ini meningkat 3,8 miliar dolar AS dari kuartal sebelumnya.

Peningkatan tersebut dipicu oleh penerbitan Global Sukuk sebesar 3 miliar dolar AS, yang di dalamnya termasuk dalam bentuk Green Bond atau Green Sukuk Framework senilai 1,25 miliar dolar AS. Sementara di sisi SBN, investor asing masih mencatat net buy SBN pada kuartal pertama 2018.

Perkembangan ini tidak terlepas dari kepercayaan investor asing atas SBN domestik yang masih tinggi. Meningkatnya hasil pemeringkatan utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Rating and Investment (R&I) pada tanggal 7 Maret 2018 juga ikut meningkatka kepercayaan investor asing.

Menyoal utang swasta, pertumbuhan ULN swasta tidak dapat dilepaskan dari sektor industri pengolahan, LGA, pertambangan dan juga keuangan. Pasalnya keempat sektor tersebut berkontribusi sekitar 72,2% terhadap total ULN swasta

Dominasi Utang Jangka Panjang

JIka lihat berdasarkan jangka waktunya, ULN Indonesia masih didominasi oleh utang yang memilki jatuh tempo lebih dari 1 tahun atau masuk dalam kategori utang jangka Panjang. Sekitar 86,1% dari total ULN atau sebesar 308,78 miliar dolar AS merupakan utang jangka panjang, sedangkan 49,94 miliar dolar AS tersisa merupakan utang jangka pendek yang memiliki jatuh tempo kurang dari atau sama dengan 1 tahun.

Untuk itu BI terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk terus memantau perkembangan ULN guna mengoptimalkan peran ULN dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Utang Bukan Berarti Negatif

Memiliki utang sendiri bukanlah bermakna negatif. Dana utangan di Indonesia biasanya dialokasikan untuk sektor-sektor produktif, seperti infrastruktur dan juga energi. Lagipula BI menyebutkan bahwa perkembangan ULN total pada kuartal I 2018 tetap terkendali dengan struktur yang sehat.

Hal itu tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang stabil di kisaran 34% di Maret 2018. Batasan rasio ULN terhadap PDB yang ditetapkan pemerintah adalah sebesar 60%, artinya rasio ULN per Maret 2018 masih berada dalam level yang aman. Rasio ini juga diklaim BI masih lebih baik dibandingkan rata-rata negara peers.

Pemerintah sendiri menggunakan ULN untuk membayar utang sebelumnya dan juga untuk membiayai kegiatan produktif seperti pembiayaan infrastruktur, pembangunan, dan penambahan modal negara. Kegiatan tersebut dilakukan tidak hanya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, melainkan juga memberikan subsidi kepada masyarakat.

Utang untuk Hal Produktif

Anda juga bisa mengajukan pinjaman untuk memulai hal yang produktif. Untuk memulai bisnis misalnya ataupun untuk mengembangkan bisnis yang sudah ada. Perusahaan besar sekalipun dapat dikatakan sehat jika rasio utangnya rendah, bukan berarti tidak memiliki utang lho.

Nah bagi Anda yang sudah memiliki niatan untuk berbisnis, cobalah ajukan kredit tanpa agunan (KTA). Melalui produk itu Anda tidak perlu menjaminkan barang ataupun surat berharga untuk mendapatkannya. Bunganya pun relatif murah dan pencairannya cenderung cepat dan mudah.

Ajukan segera permohonan Anda di CekAja,com. Temukan beragam penawaran menarik dari beberapa bank terkait KTA, cek produk yang terbaik untuk Anda.

Tentang Penulis

Gito

Veritas Vos Liberabit

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami