Vaksin Berbayar Dibatalkan, Ini Fakta Beserta Alasannya!

Pernyataan pemerintah terkait vaksin berbayar dibatalkan resmi dipublikasikan. Apa yang menjadi penyebab hal tersebut? Simak informasi lengkap beserta berbagai fakta lainnya berikut ini.

Vaksin Berbayar Dibatalkan, Ini Fakta Beserta Alasannya!

Pandemi Covid-19 memasuki masa yang baru. Meskipun lonjakan kasus masih terjadi di Indonesia dan keadaannya semakin memprihatinkan karena ketidakseimbangan jumlah fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, dan pasien, namun di sisi lain distribusi vaksin juga terus berlangsung.

Ya, sejak Januari 2021 ini, pemerintah mulai mendistribusikan vaksin secara bertahap. Dimulai dari pemberian vaksin untuk tenaga kesehatan (nakes) sebagai garda terdepan yang merawat pasien Covid-19, kemudian vaksin untuk lansia sebagai kalangan yang rentan tertular Covid-19 dan berisiko merasakan gejala berat, serta disusul dengan pemberian vaksin untuk masyarakat usia 12 tahun ke atas.

Hingga saat ini, vaksin yang digunakan Indonesia adalah vaksin buatan luar negeri yang diimpor, seperti vaksin Sinovac dari Tiongkok, dan vaksin Oxford-AstraZeneca dari Inggris. Vaksin diberikan secara gratis melalui program vaksinasi massal yang digelar di Puskesmas dan rumah sakit rekanan pemerintah, serta beberapa lokasi lain milik swasta.

Penyuntikan vaksin gencar dilakukan untuk mencapai herd immunity atau kekebalan massal, dimana setidaknya sebuah negara sudah menyuntikkan vaksin kepada 70 persen warganya.

Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kesehatan pernah menargetkan untuk mencapai herd immunity pada November 2021. Namun, seiring dengan bertambahnya jumlah masyarakat yang divaksin dari golongan usia 12 tahun ke atas (sebelumnya hanya 18 tahun ke atas, red), maka target ini pun otomatis akan mundur.

Capaian herd immunity di Indonesia kemungkinan besar akan membutuhkan waktu yang lama, namun hal ini bukan menjadi penghalang untuk terus digencarkannya program vaksinasi massal. Maka dari itu, berbagai cara dilakukan agar distribusi vaksin Covid-19 meluas, salah satunya dengan cara memproduksi vaksin berbayar yang dicanangkan pemerintah.

Rencana Vaksin Berbayar Kimia Farma

Di tengah program vaksinasi massal gratis yang masih digelar di berbagai daerah di Indonesia, pemerintah secara mengejutkan mengeluarkan pernyataan bahwa aka nada vaksin berbayar yang diproduksi dari hasil kerjasama dengan pihak swasta, Kimia Farma.

Vaksin yang diberinama Vaksin Gotong Royong itu merupakan vaksin Sinopharm buatan Tiongkok yang diimpor dalam bentuk setengah jadi, kemudian diproduksi lebih lanjut oleh Kimia Farma hingga siap pakai. Vaksin ini memang sudah melalui uji klinis di berbagai negara, dan dinilai aman digunakan.

Produksi vaksin berbayar diklaim dilakukan untuk mempercepat progress pencapaian herd immunity. Sehingga bagi masyarakat yang bersedia mengeluarkan kocek pribadi, bisa mendapatkan vaksin dengan cepat di klinik-klinik Kimia Farma.

Adapun rencana pemasaran Vaksin Gotong Royong tahap pertama akan dilakukan di klinik Kimia Farma berikut ini:

  • Klinik Kimia Farma Pulo Gadung, Jakarta Timur
  • Klinik Kimia Farma Blok M, Jakarta Selatan
  • Klinik Kimia Farma Senen, Jakarta Pusat
  • Klinik Kimia Farma Supratman, Bandung
  • Klinik Kimia Farma Citarum, Semarang
  • Klinik Kimia Farma Sedati, Surabaya
  • Klinik Kimia Farma Sukoharjo, Solo
  • Klinik Kimia Farma Batubulan, Bali

Vaksin Gotong Royong dijual seharga Rp879.140 (isi dua dosis), dan direncanakan mulai dijual pada 12 Juli 2021.

(Baca Juga: 4 Negara dengan Program Vaksinasi Berbayar)

Alur Cerita Vaksin Berbayar Sebelum Dibatalkan

Akan tetapi, akhirnya program vaksin berbayar dibatalkan oleh pemerintah dan dikonfirmasi oleh pihak Kimia Farma. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Simak alur informasi vaksin berbayar dibatalkan ini.

27 Mei 2021

Dalam sebuah Dialog Produktif, dikatakan oleh Ganti Winarno selaku Sekretaris Perusahaan Kimia Farma bahwa kedatangan vaksin Sinopharm akan dilakukan secara bertahap dengan jumlah 7,5 juta dosis.

Adanya vaksin Gotong Royong diharapkan dapat membantu percepatan timbulnya herd immunity bagi 181,5 juta rakyat Indonesia yang ditargetkan menerima vaksin hingga dosis lengkap (dua dosis per orang).

10 Juli 2021

Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo mengatakan bahwa vaksin berbayar akan tersedia di klinik-klinik Kimia Farma, khususnya di area Jawa-Bali terlebih dulu.

Rencana pemasaran vaksin berbayar dijadwalkan dimulai pada Senin, 12 Juli 2021.

10 Juli 2021 – 13 Juli 2021

Setelah pernyatan rencana realisasi program vaksin berbayar Kimia Farma dirilis ke publik, masyarakat memberi respon yang didominasi oleh kontra terhadap hal tersebut.

Banyak orang menilai, tidak sepantasnya pemerintah memperdagangkan vaksin Covid-19 di tengah lonjakan kasus yang sedang signifikan terjadi saat ini. Masih banyak warga yang belum mendapatkan akses vaksin gratis di berbagai daerah. Apalagi dengan harga vaksin yang terbilang mahal.

13 Juli 2021

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma, Ganti Winarno, meminta maaf kepada publik karena program vaksin berbayar akan ditunda hingga waktu yang belum dapat dipastikan. Pihak Kimia Farma memilih memperpanjang masa sosialisasi Vaksin Gotong Royong tersebut.

Di sisi lain, kritik dari publik pun terus mengalir, bahkan dari World Health Organization (WHO) yang menegaskan bahwa seharusnya setiap warga negara memiliki akses yang sama untuk mendapatkan vaksin (dalam hal ini secara gratis), untuk menghindari timbulnya masalah etika dan akses vaksin itu sendiri.

Alih-alih menjual vaksin, pemerintah sebaiknya memilih program kerjasama internasional dari WHO yakni Covax Facility, yang memberikan vaksin gratis dalam jumlah yang banyak bagi negara yang membutuhkan.

Negara yang mengajukan program kerjasama ini hanya perlu mencari biaya impor dan distribusi vaksin, yang apabila dananya tidak ada bisa digalang dengan meminta donasi ke lembaga internasional.

16 Juli 2021

Presiden Joko Widodo melalui Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan bahwa rencana penyaluran vaksin berbayar dibatalkan secara resmi.

Setelah itu, giliran pihak Kimia Farma yang mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut, dan menyatakan sudah sepakat dengan pemerintah untuk keputusan vaksin berbayar dibatalkan ini.

(Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Efek Samping Vaksin Covid-19)

Alasan Vaksin Berbayar Dibatalkan

Lalu, apa yang menjadi alasan vaksin berbayar dibatalkan? Dalam keterangan pers yang digelar di Istana Negara pada 16 Juli 2021, Sekretasi Kabinet Pramono Anung menyatakan bahwa pemerintah mempertimbangkan masukan dan respon masyarakat terkait program vaksin berbayar ini.

“Setelah mendapatkan masukan dan juga respon dari masyarakat, Presiden telah memberikan arahan dengan tegas untuk vaksin berbayar yang rencananya disalurkan melalui Kimia Farma semuanya dibatalkan dan dicabut,” jelas Pramono Anung, sebagaimana yang dikutip di situs resmi Presiden RI.

Ini berarti, pemerintah membatalkan program vaksin berbayar karena alasan menerima respon masyarakat yang sebelumnya didominasi oleh penolakan akan hal tersebut.

Dengan ini, maka program vaksinasi tetap berjalan menggunakan mekanisme vaksin gratis untuk seluruh masyarakat yang bisa didapatkan di fasilitas kesehatan pemerintah (Puskesmas dan rumah sakit), maupun di berbagai acara vaksinasi massal gratis yang digelar pihak swasta.

Itulah informasi seputar alasan di balik vaksin berbayar dibatalkan. Intinya, jangan sia-siakan kesempatan vaksin. Segera daftarkan diri ke fasilitas kesehatan terdekat di daerah tempat tinggalmu, agar tubuh lebih kebal menangkan virus Covid-19 yang meresahkan ini.

Agar perlindungan makin maksimal, sertakan manfaat asuransi kesehatan agar biaya rumah sakit bisa ter-cover untuk berbagai penyakit dan risiko kesehatan lainnya di masa mendatang.

Jangan bingung memilih produk asuransi kesehatan terbaik, sebab kamu bisa membandingkan berbagai produk finansial di CekAja.com.

Proses pengajuan juga dijamin gampang, karena hanya perlu mengisi formulir online dan membayar premi bulan pertama yang terjangkau.

Soal legalitas, kamu tak perlu khawatir. Sebab CekAja.com hanya merekomendasikan produk finansial dari lembaga keuangan terpercaya yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ayo segera bandingkan dan ajukan asuransi kesehatan terbaik di masa pandemi melalui CekAja.com!