Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Wah! Bank Indonesia Siapkan Jurus untuk Perkuat Rupiah

by Achmad Fauzi on 11 Mei, 2018

Mata uang rupiah masih loyo terhadap dolar AS. Bagaimana tidak? Hingga akhir pekan ini, rupiah masih bertengger di level Rp14.000 per dolar AS. Walaupun rupiah menguat pada pembukaan Jumat (11/5/2018), tetapi rupiah masih tercatat sebesar Rp14.048 per dolar AS.

Kondisi seperti ini memang tidak bisa didiamkan begitu saja, harus ada tindakan dari pihak otoritas yakni Bank Indonesia. Jika tidak, kondisi seperti krisis moneter 1998 berpotensi kembali terjadi dengan kondisi rupiah di level Rp16.650 per dolar AS. Dan, apabila hal semacam itu terjadi, maka akan membuat sengsara banyak pihak.

Bagusnya, Bank Indonesia cepat merespon kondisi yang dialami rupiah. Bank sentral garuda ini berupaya untuk memulihkan otot rupiah agar perkasa terhadap dolar AS dengan mengintervensi rupiah.

Namun, upaya tersebut berimbas pada turunnya cadangan devisa pada akhir April 2018 sebesar 124,9 miliar dolar AS atau setara Rp1.754,5 triliun (1 dolar AS = Rp 14.048).

Meski begitu, Bank Indonesia sebagai otoritas penyembuh rupiah mempunyai langkah-langkah lain untuk memulihkan performa rupiah yang masih loyo. Apalagi, kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo, melemahnya nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir sudah tidak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

“Terkait hal tersebut, dan melihat masih besarnya potensi tantangan dari kondisi global yang dapat berpotensi menganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah panjang, Bank Indonesia akan secara tegas dan konsisten mengarahkan dan memprioritaskan kebijakan moneter pada terciptanya stabilitas,” kata Agus seperti yang dikutip dalam siaran pers.

Langkah Bank Indonesia Bangkitkan Rupiah

Nah, apa aja sih langkah-langkah yang ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga keberlangsungan stabilitas rupiah terhadap dolar AS? Berikut langkah-langkah bank sentral garuda ini.

BI isyaratkan suku bunga akan naik

Ada cara lain untuk memulihkan laju rupiah terhadap dolar AS tanpa harus menggerus cadangan devisa. Salah satunya, dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate. Saat ini suku bunga acuan bertengger di level 4,25 persen. Level tersebut telah bertahan selama 8 bulan sejak 19 Oktober 2017.

Dan Bank Indonesia pun memberi isyarat akan menaikkan suku bunga acuannya pada bulan ini. Hal ini, dilakukan dalam rangka upaya untuk stabilisasi rupiah.

Namun, Bank Indonesia harus jeli dalam menaikkan suku bunga acuannya. Karena apabila menaikkan suku bunga terlalu tinggi, maka akan menurunkan daya beli masyarakat terhadap kredit perbankan.

Selain itu, Bank Indonesia terus menempuh langkah-langkah stabilisasi yang diperlukan termasuk terus melanjutkan intervensi di pasar valuta asing secara terukur, stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter valas dan Rupiah, termasuk membuka lelang Forex Swap untuk menjaga ketersediaan likuditas Rupiah.

(Baca juga: Yuk Persiapkan Mudik 2018 dari Sekarang!)

Kolaborasi dengan semua pihak

Tidak hanya menaikkan suku bunga, Bank Indonesia juga bakal berkolaborasi dengan semua pihak untuk menstabilkan laju rupiah. Bank Indonesia akan mengajak industri keuangan hingga pemerintah dalam upaya untuk menguatkan otot-otot rupiah.

Kolaborasi itu misalnya, menambahkan variasi instrumen, penguatan infrastruktur pasar keuangan, dan memperkuat kredibilitas suku bunga acuan pasar. Selain itu, Bank Indonesia bersama pemerintah juga akan memperkuat struktur neraca transaksi berjalan dan neraca modal, serta berbagai kebijakan struktural lainnya untuk meningkatkan daya saing perekonomian.

Mata Uang Negara Lain juga Alami Pelemahan

Perlu Anda ketahui, bukan hanya rupiah saja yang sedang loyo. Mata uang negara lain juga terbilang sedang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Ini terjadi karena semakin solidnya ekonomi AS di tengah lambatnya pemulihan ekonomi di berbagai kawasan.

Bank Indonesia mencatat secara year to date (ytd) per 8 Mei 2018 rupiah sudah melemah 3,44 persen. Sementara, mata uang negara lain seperti, Peso Filipina melemah 3,72 persen, Rupee India 4,76 persen, Real Brasil 6,83 persen, Rubel Rusia 8,93 persen, dan Lira Turki 11,51 persen. Dengan melihat pelemahan itu, perlu Anda lihat bahwa pelemahan rupiah masih di bawah negara berkembang lainnya.

Nah, setelah melihat langkah-langkah otoritas, Anda juga harus mempunyai langkah-langkah untuk menghadapi kondisi sulit ini. Salah satunya, adalah dengan cara berinvestasi. Dengan investasi, Anda bisa mempunyai cadangan uang dikala membutuhkan seperti kondisi saat ini.

(Baca juga: Traveling Saat Ramadan? Mengapa Tidak!)

Investasi bermacam-macam jenisnya, mulai dari emas, saham sampai reksa dana. Apalagi saat ini, berinvestasi sudah seperti membalikkan tangan atau bisa dibilang mudah, karena Anda bisa membeli produk investasi secara online. Segera pilih dan ajukan produk investasi melalui CekAja.com.

Tentang Penulis

Achmad Fauzi

Jurnalis yang hampir menjadi pemain bola internasional.