Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mantap, 42% Konsumsi Rumah Tangga ASEAN+6 di Hasilkan Dari Indonesia

by Gito on 22 November, 2019

Indonesia menduduki peringkat atas untuk jumlah penduduk di Asia Tenggara (ASEAN). Bahkan berdasarkan data Statista, pada tahun 2018 lalu total penduduk Indonesia mencapai 1/3 dari total penduduk di ASEAN, atau mencapai 264,16 juta jiwa.

resolusi kaya 2018 - CekAja

Melimpahnya jumlah penduduk menjadi berkah bagi bangsa ini untuk bisa menggerakkan roda perekonomiannya.

Apalagi, selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak didorong oleh sektor konsumsi, sehingga semakin banyak jumlah penduduk, maka potensi uang yang keluar untuk dibelanjakan juga semakin besar.

DBS Grup Research Maynard Arif menuturkan peringkat konsumsi rumah tangga Indonesia berhasil melampaui negara tetangga di kawasannya. Pada akhir tahun lalu, total pengeluaran rumah tangga Indonesia diproyeksikan mencapai US$0,6 triliun.

“Jumlah itu mencapai 42% total pengeluaran rumah tangga di ASEAN+6. (ASEAN dan China, Australia, India, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru). Kami memperkirakan angka tersebut tumbuh menjadi 44% pada 2030, dengan pengeluaran meningkat dua kali lipat menjadi 1,2 triliun dolar AS,” katanya dalam keterangan resminya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan pada tahun 2018 lalu konsumsi pribadi per kapita negeri ini mencapai US$2,4 ribu. Jumlah tersebut konstan sejak tahun 2010 lalu.

Nah pada tahun 2030 mendatang, jumlah konsumsi pribad per kapita masyarakat Indonesia diperkirakan mampu mencapai angka US$4 ribu dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) di atas 4%.

Meskipun jumlah konsumsi rumah tangga masih didominasi oleh konsumsi pangan yang mencapai 49,5%.

Namun Maynard mengungkapkan pada tahun 2030 persentasenya akan menjadi lebih rendah lagi, yakni turun ke level 46,7%. Bergesernya persentase pengeluaran konsumsi di masyarakat merupakan imbas dari meningkatnya pendapatan dan pola konsumsi.

Ke depannya pola konsumsi masyarakat akan banyak didorong oleh kebutuhan non pangan seperti perumahan, fasilitas rumah tangga, barang dan juga jasa.

“Selain itu, kami memperkirakan konsumsi condong kepada kebutuhan sekunder dengan bobot lebih rendah untuk kebutuhan dasar, seperti, pangan dan sandang,” tambahnya.

(Baca juga: Konsumsi Daging Kambing Ternyata Punya 5 Manfaat untuk Kesehatan)
Rasio belanja penduduk pedesaan terhadap penduduk perkotaan mencapai 1:1,6

Kesenjangan antara masyarakat perkotaan dan desa ternyata masih terjadi cukup lebar. Hal itu terlihat dari perbedaan pola belanja yang menunjukkan bahwa masyarakat desa membelanjakan uang lebih kecil dari masyarakat perkotaan.

Untuk setiap satu dolar yang dibelanjakan oleh penduduk desa, penduduk kota mengeluarkan sekitar 1,60 dolar.

Pada 2010, rata-rata pengeluaran bulanan penduduk kota mencapai Rp627.000, atau setara dengan 1,69 kali rata-rata pengeluaran bulanan konsumen pedesaan.

Rasio ini menjadi lebih kecil, 1 berbanding 1,58, jika dibandingkan dengan rasio pada 2010. Selain itu, kesenjangan juga terlihat dari pola konsumsinya, rerata pengeluaran konsumsi penduduk kota condong untuk barang bukan pangan.

Nilainya mencapai 54% dari total pengeluaran. Sedangkan bagi masyarakat pedesaan 56,3% dari total pengeluaran dihabiskan untuk pangan.

(Baca juga: Mengapa Anda Sebaiknya Kurangi Konsumsi Makanan Olahan? Yuk Cek!)
Angin Segar Bagi Calon Pengusaha

Bergesernya pola pengeluaran dan pola konsumsi masyarakat mengindikasikan bahwa kekuatan ekonomi masyarakat Indonesia sudah berada dalam tahap yang baik.

Karena artinya, kebutuhan masyarakat akan pangan sudah terpenuhi sehingga mereka mulai memikirkan untuk kebutuhan lainnya.

Hal tersebut merupakan hal yang positif untuk perekonomian. Para pelaku usaha juga mulai bertepuk tangan menyambut hal itu.

Karena dengan begitu, bisnis yang dijalankan bisa berputar semakin cepat, seiring dengan tingginya jumlah konsumsi.

Nah buat kamu yang memiliki jiwa petualang dan juga minat usaha, peluang itu bisa kamu manfaatkan untuk mendulang untung. Kamu bisa mulai memikirkan usaha riil yang bisa bermanfaat bagi diri kamu dan juga orang lain.

Galilah ide kreatif dan wujudkan ide liarmu didalam sebuah konsep bisnis. Karena sesuatu yang terjadi biasanya diawali dengan perasaan “tidak mungkin”.

Jika kamu memliki hobi untuk membuat peralatan rumah tangga dari bahan bekas, kamu bisa menekuninya.

Mulai dari membeli kayunya, kemudian merancang desainnya dan menentukan sisi artificial lainnya yang bisa diaplikasikan dalam karya kamu kelak. Atau bisa juga kamu bergelut dalam bisnis jasa laundry.

Semakin tinggi aktivitas pekerjaan masyarakat biasanya semakin sedikit pula waktu yang tersedia untuk mengerjakan aktivitas rumah tangga.

Kamu bisa memanfaatkan ceruk bisnis ini, tidak perlu langsung membeli mesin cuci atau setrika uap,kamu bisa mulai menjadi agen laundry.

Coba buka di sekitar rumah kamu, maka tetangga kamu adalah captive market untukmu. Jemput pakaian kotornya, antarakan ke laundry dan ambil komisinya.

Dari komisi itu kamu bisa mulai mengumpulkan modal untuk membuka jasa laundry secara mandiri.

Tetapi jika kamu ingin memulainya segera, tidak ada salahnya juga untuk mengajukan pinjaman ke bank.

Terpenting kamu sudah tahu akan dialokasikan untuk apa dana tersebut. Kalau mau mudah, kamu bisa akses CekAja.com dan temukan produk keuangan yang cocok untuk kebutuhan bisnismu.

Tentang Penulis

Gito

Veritas Vos Liberabit