Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Sederet Pantangan Unik di Balik Kemeriahan Perayaan Imlek

by Miftahul Khoer on 22 Januari, 2020

Tahun baru China atau yang biasa disebut Imlek untuk tahun 2571 Kongzili akan jatuh pada hari Sabtu, 25 Januari mendatang. Kemeriahan menyambut Imlek di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia sudah mulai terasa dengan maraknya hiasan ber-ornamen khas China di pusat perbelanjaan, jalan-jalan, ataupun perkantoran.

Di Indonesia Imlek mulai diperingati pada tahun 2000 di era pemerintahan Abdurrahman Wahid setelah sebelumnya dilarang pada era Orde Baru dan pada 2001 ditetapkan sebagai hari libur nasional. Untuk turut menyemarakkan Imlek, berikut ini serba-serbi menarik dari Tahun Baru Imlek yang memasuki Tahun Tikus Logam:

  • Identik dengan warna merah

Sering kali kita lihat perayaan Imlek identik dengan dominasi warna merah serta dihiasi warna emas. Namun, warna-warna itu bukan hanya sekedar pemanis saja, melainkan juga memiliki arti yang dipercayai oleh masyarakat Tionghoa. 

Warna merah dipercaya sebagai pembawa keberuntungan ataupun keselamatan untuk memulai tahun yang baru, sementara warna emas diyakini sebagai lambang dari kehangatan, kemakmuran, kesejahteraan, kekayaan, dan juga kebahagiaan.

Oleh karena itu, pada setiap perayaan Imlek, seluruh ornamen yang terkait dengan tahun baru tersebut mulai dari pakaian hingga pernak-pernik selalu memiliki unsur dua warna tersebut.

  • Dilarang menyapu saat Imlek

Komunitas Tionghoa memiliki kepercayaan untuk tidak melakukan kegiatan yang lazim dilakukan pada hari-hari lainnya saat merayakan Imlek, ataupun beberapa hari setelahnya. Salah satu kegiatan yang dilarang adalah menyapu.

Masyarakat Tionghoa seperti pada umumnya komunitas lain pasti membersihkan rumah-rumah maupun tempat peribadatan secara menyeluruh menjelang hari raya, termasuk pada saat menyambut Imlek.

Mereka meyakini kegiatan bersih-bersih merupakan upaya dan juga simbol untuk menyingkirkan segala kesialan ataupun marabahaya jelang pergantian tahun.

Akan tetapi, setelah masuk hari Imlek ataupun beberapa hari setelahnya, menyapu sangat dilarang untuk dilakukan baik di rumah ataupun tempat peribadatan karena dianggap akan mengusir keberuntungan yang baru didapat ataupun yang akan diraih pada saat Imlek tersebut.

  • Gak boleh menyeduh dan minum obat

Selain itu, masyarakat Tionghoa sangat tabu menyeduh obat herbal ataupun meminum obat-obatan walaupun dalam kondisi sakit saat hari raya Imlek. Meminum obat pada saat Imlek diyakini bisa membuat orang tersebut akan menderita penyakit sepanjang tahun.

Beberapa daerah pedesaan di China biasanya mendentangkan lonceng di kuil-kuil pada tengah malam menjelang tahun baru Imlek. Pada saat lonceng berdentang, orang-orang yang sedang sakit akan memecahkan gerabah tempat obat dan meyakini tradisi tersebut akan membuat penyakit pergi dan menjauh.

  • Jangan mencuci pakaian

Masyarakat Tionghoa juga tidak boleh mencuci pakaian pada hari pertama dan kedua Imlek karena dua hari tersebut dipercaya sebagai hari ulang tahun Dewa Air.

  • Gak perlu keramas

Selain itu, mereka juga tidak boleh keramas karena dalam dialek Mandarin, rabut (fā) memiliki pengucapan dan karakter huruf yang sama dengan kata facai yang berarti menjadi kaya. Oleh karena itu, keramas dianggap tidak baik karena bisa mencuci bersih keberuntungan atau menghilangkan keberuntungan di awal tahun.

  • Hindari sarapan bubur

Mereka juga tidak diperbolehkan sarapan bubur pada pagi hari saat Imlek karena meyakini bahwa hanya orang miskin yang memakan bubur sebagai sarapan. Sehingga mereka tidak mau memulai awal tahun dengan kemiskinan karena bisa membawa pertanda buruk bagi keberuntungan.

  • Berharap hujan saat imlek

Komunitas Tionghoa sangat mengharapkan hujan turun pada saat Imlek karena menganggap hujan sebagai pertanda yang membawa rezeki dan keberkahan. Maka tidak heran Imlek selalu jatuh pada saat musim hujan sehingga perayaan Imlek identik dengan hujan. Mereka akan sangat bergembira apabila hujan turun di tengah perayaan Imlek.

  • Angpao bagi yang belum menikah

Selain itu, Imlek juga menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh anak muda karena mereka bisa mendapatkan angpao Imlek. Angpao atau amplop berisi uang biasanya diberikan oleh orang-orang yang sudah menikah kepada yang belum menikah. Selama orang tersebut belum menikah, berapapun usianya ataupun kemapanannya, masih akan menerima angpao.

Nominal angpao Imlek memang tidak ada ketentuannya, namun biasanya ada unsur angka 8 dalam jumlahnya karena angka 8 merupakan simbol kekayaan.

Berbagai serba-serbi seputar Imlek tersebut merupakan bumbu-bumbu penambah kemeriahan Imlek bagi komunitas Tionghoa yang merayakannya. Dan semoga di tahun Tikus Logam ini bisa membawa keberuntungan dan keberkahan untuk kita semua.

Belanja pakai kartu kredit Mayapada

Salah satu bank yang membagikan keberkahan bagi nasabahnya adalah PT Bank Mayapada Internasional Tbk, bank yang didirikan oleh taipan Dato’ Sri Tahir. Mayapada memanjakan nasabah kartu kreditnya menikmati promo belanja dan diskon menarik lainnya untuk berbelanja di dua marketplace terbesar di Indonesia, yaitu Tokopedia dan JD.ID.

Detail dari promo belanja di Tokopedia dan JD.ID yang bisa dinikmati selama musim Imlek antara lain:

Mayapada menggandeng Tokopedia, salah satu marketplace di Indonesia untuk memberikan diskon 8% hingga Rp 188.000 bagi pemilik kartu kreditnya.

Syaratnya mudah saja, pembeli harus memasukkan kode promo: MAYAPADACUAN saat check out di halaman pembayaran.

Promo berlaku mulai 13 – 26 Januari 2020 dengan minimum transaksi Rp1.880.000. 

Senada dengan Tokopedia, marketplace yang banyak menjual produk elektronik berkualitas ini juga memberi promo diskon Rp188.000 untuk semua produk JD.ID.

Diskon akan otomatis diberikan saat melakukan pembayaran memakai kartu kredit Mayapada. Promo berlaku mulai 13 – 26 Januari 2020 dengan minimum transaksi Rp1.888.000.

Kapan lagi kamu dapat cuan promo bank Mayapada dengan diskon sebesar ini? Pilih dan ajukan kartu kredit Mayapada sekarang juga melalui CekAja.com.

Tentang Penulis

Miftahul Khoer

Mantan jurnalis yang suka makan jengkol di hari Minggu.