Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Keputusan Krusial yang Bikin Facebook Menjadi Perusahaan Raksasa

by Ariesta on 26 Agustus, 2016

 

Mark Zuckerberg, CEO dan salah satu pendiri Facebook,  banyak dipuji sebagai salah satu entrepreneur di bidang teknologi yang paling sukses.

Zuckerberg memulai Facebook bersama teman-temannya saat berusia 19 tahun. Waktu itu dia masih berstatus sebagai mahasiswa Univeritas Harvard. Facebook sendiri awalnya dibuat supaya mahasiswa Harvard bisa saling terhubung, dan terutama supaya para single bisa mencari pasangan. Diluar perkiraan, saat ini Facebook menajdi perusahaan rakasa dengan nilai mencapai US$350 miliar dan keuntungan sejumlah US$18 miliar pada tahun 2015.

Tahukan kamu, kesuksesan Facebook sekarang tidak terlepas dari berbagai keputusan berani yang diambil Zuckerberg. Berikut keputusan krusial yang bikin Facebook menjadi perusahaan besar.

Keputusan pertama: Menolak tawaran Yahoo

“Salah satu kebimbangan terbesar bagiku adalah saat Yahoo memberikan tawaran untuk membeli perusahaan dengan harga mahal,” kata Zuckerberg. “Itu merupakan pertama kalinya kami harus membayangkan masa depan dan berpikir, ‘Wah, apakah nantinya Facebook akan menjadi lebih besar dari sekarang?'”

Pada saat itu, banyak karyawan di Facebook mendukung agar menerima tawaran US$1 miliar Yahoo. Tawaran tersebut terbilang besar bagi sebuah startup yang masih hijau. Namun Zuckerberg punya misi yang jauh lebih besar.

Zuckerberg sempat merasa bingung untuk menjual perusahaannya. Namun, keputusan yang dia buat sangatlah tepat mengingat nasib Yahoo telah tamat tahun ini. Bukan tidak mungkin jika saat itu Zuckerberg mengiyakan tawaran tersebut, Facebook juga ikut bangkrut. (Baca juga: 5 Perusahaan Raksasa yang Sukses Karena “Nyontek” Ide Kompetitornya)

Keputusan kedua: Mengakuisisi Oculus

Pada tahun 2014, Facebook mengumumkan akuisisi terhadap Oculus, sebuah perusahaan virtual reality yang masih muda. Harga yang ditawarkan adalah US$2 miliar, terlalu tinggi untuk sebuah perusahaan yang bahkan belum meluncurkan produknya ke pasar. Banyak yang menganggap ini merupakan pertaruhan besar.

Zuckerberg mengatakan bahwa ia percaya perusahaan tidak harus berada dalam posisi taruhan besar. “Saya benar-benar berpikir ketika Anda melakukan hal-hal baik, Anda tidak perlu melakukan hal-hal gila yang besar,” katanya. “Saya pikir kuncinya adalah membangun sebuah perusahaan yang berfokus pada pembelajaran secepat mungkin.”

Contohnya adalah News Feed Facebook. Awalnya fitur tersebut kontroversial karena dianggap sebagai perubahan masif dalam layanan Facebook. Tapi Zuckerberg tidak setuju pada anggapan tersebut. Menurutnya, fitur tersebut justru lahir untuk membantu pengguna karena pengguna tidak perlu meng-klik profil teman untuk melihat update terbaru.

Bagi Zuckerberg, fitur News Feed tersebut bukan merupakan pertaruhan besar, melainkan evolusi natural dari produk Facebook. (Baca juga: Penyesalan Terbesar Empat Bos Perusahaan Raksasa Dunia)

Keputusan ketiga: drop out

“Aku membuat versi pertama Facebook karena memang diperuntukkan untuk sesama mahasiswa Harvard,” katanya. Saat itu dia tidak berpikir apa yang dia lakukan akan menjadi sebuah perusahaan besar bahkan membuatnya jadi kaya raya.

Zuckerberg baru menyadari saat enam bulan kemudian. Tepatnya saat investor Sillicon Valley dan pendiri PayPal, Peter Thiel, menginvestasikan US$500.000 pada Facebook. Mereka merupakan investor pertama, dan sejak saat itu Facebook resmi menjadi perusahaan. Meski demikian, baik Zuckerberg maupun Dustin Moskowitz tetap tidak berpikir Facebook akan menjadi pekerjaan penuh mereka. “Aku dan Dustin tidak berencana untuk drop out demi Facebook.”

Awalnya keduanya mengambil cuti satu semester. Kemudian mengambil cuti lagi. Dan sebelum mereka sadar, ternyata mereka berdua sudah dipecat dari Harvard demi fokus mengembangkan Facebook. “Aku pikir Dustin mungkin sudah tahu kalau kami memang tidak berencana untuk kembali ke bangku kuliah.”

Tapi bukan berarti dia menyarankan setiap entrepreneur untuk mengikuti jejaknya. “Hal paling penting yang harus dilakukan entrepreneur adalah melakukan sesuatu yang mereka sukai, fokus pada hal tersebut, tapi jangan membenarkan diri sepenuhnya sebelum perusahaanmu benar-benar menjanjikan.”

Keputusan keempat : Menentukan fokus

Facebook bisa saja melebarkan sayap ke area lain dengan memanfaatkan nama besarnya. Namun Zuckerberg memutuskan bahwa perusahaannya hanya fokus pada tiga area yakni:

Keputusan kelima: Mengambil risiko

“Dalam dunia yang berubah begitu cepat, risiko terbesar yang dapat lakukan adalah tidak mengambil risiko.” Hal ini merupakan salah satu rahasia kesuksesan Facebook.

Ingin menjadi pegusaha sukses seperti Mark Zuckerberg? Dapatkan tambahan dana melalui pinjaman usaha terbaik di sini

Tentang Penulis