Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Menilik Kisruh Fintech Peer to Peer Lending di China

by Giras Pasopati on 14 Desember, 2018

Industri teknologi finansial (fintech) di China beberapa saat lalu dihantam badai. Penyebabnya, bisnis pinjam meminjam (peer to peer lending) di Negeri Tirai Bambu tersebut bermasalah dan menyebabkan pemerintah turun tangan untuk menenangkan masyarakat yang panik. Bagaimana awal mulanya?

Peer to Peer Lending - CekAja

China merupakan pasar peer to peer lending terbesar di dunia. Perputaran uang dari industri ini ditaksir mencapai US$192 miliar atau setara Rp2.745,6 triliun hingga semester I tahun ini. Nah, bagaimana industri sebesar itu bisa bermasalah?

Sebelum masuk ke permasalahan tersebut, ada baiknya Anda mengenal model bisnis peer to peer lending dan perubahannya setelah ada fintech. Mari mengenal bagaimana sistem peer to peer lending berjalan dan kemajuannya di era fintech.

Mengenal bisnis peer to peer lending

Peer to peer lending adalah praktik atau metode memberikan pinjaman uang kepada individu atau bisnis dan juga sebaliknya. Individu atau bisnis juga bisa mengajukan pinjaman kepada pemberi pinjaman.

Fintech peer to peer lending menjadi wadah yang menghubungkan antara pemberi pinjaman dengan peminjam atau investor secara online.

Terdapat dua subjek dalam peer to peer lending, yakni sebagai peminjam atau sebagai pemberi pinjaman alias investor. Namun, sistem peer to peer lending ini bukanlah tanpa risiko. Sama seperti kegiatan finansial lainnya, tetap harus berhati-hati dalam menjalankannya.

Bisnis fintech peer to peer lending ini memungkinkan setiap orang untuk memberikan pinjaman atau mengajukan pinjaman antara satu dengan yang lain. Bedanya, hal itu bisa dilakukan untuk berbagai kepentingan tanpa menggunakan jasa dari lembaga keuangan konvensional.

Model bisnis di era fintech

Pada dasarnya, sistem bisnis fintech peer to peer lending ini sangat mirip dengan konsep marketplace online, yang menyediakan wadah sebagai tempat pertemuan antara pembeli dengan penjual.

Nah, untuk investor atau pemberi pinjaman, keuntungan yang diraih berasal dari bunga pinjaman yang dipatok ketika dana tersalurkan. Sementara, keuntungan dari peminjam adalah dapat memperoleh dana dengan cepat tanpa proses yang panjang dan rumit.

Hal yang saling menguntungkan tersebut kemudian membuat sebuah ekosistem perputaran uang yang berkelanjutan. Namun, seperti bisnis pinjaman lainnya, terdapat beberapa hal yang bisa menjadi hambatan. Hal itu seperti kredit macet dan tingkat bunga yang tidak menguntungkan salah satu pihak.

(Baca juga: Mengenal Berbagai Lembaga Keuangan di Indonesia)
Perkembangan fintech peer to peer lending di China

Pada 2015, Perdana Menteri China, Li Keqiang dan mantan gubernur bank sentral China, Zhou Xiaochuan, secara terbuka mendorong peer to peer lending sebagai cara untuk mengembangkan keuangan online dan mendukung usaha kecil menengah.

Dibandingkan dengan sistem perbankan tradisional, peer to peer lending memiliki ambang investasi yang lebih besar bagi para penabung, sementara menawarkan para peminjam kemudahan untuk memperoleh dana tanpa kerumitan soal historis kredit.

Dengan dukungan publik untuk sektor ini, ditambah dengan rujukan dari mulut ke mulut, jutaan pemberi pinjaman kecil muncul. Hal itu membantu menjadikan China sebagai pasar peer to peer lending terbesar di dunia, dengan 1,2 triliun yuan (US$175 miliar) dalam pinjaman yang beredar pada 2017.

Hal itu kemudian membuat jumlah perusahaan peer to peer lending meroket dari 10 pada 2010, menjadi lebih dari 3.000 pada 2015. Tetapi karena semakin banyak pemain masuk ke pasar, beberapa perusahaan fintech peer to peer lending mulai menjanjikan suku bunga jauh lebih tinggi daripada pesaing.

Janji untung selangit

Dibandingkan dengan tingkat bunga kurang dari 2 persen di bank-bank China, banyak platform peer to peer lending menjanjikan imbal hasil hingga 10 persen. Mereka bahkan, juga mulai menjanjikan investor dengan imbal hasil yang lebih baik.

Syaratnya, investor mampu mendapatkan lebih banyak orang di jaringan mereka untuk berinvestasi di platform peer to peer lending-nya.

Bahkan, terdapat platform peer to peer lending yang menjanjikan keuntungan hingga 60 persen. Akibatnya, sang pendiri melarikan diri karena gagal membayar kembali lebih dari 200 juta yuan (US$29 miliar).

Tak hanya masalah tersebut, fakta lainnya, pinjaman ini sangat berisiko di China. Menurut laporan DBS, peminjam peer to peer lending biasanya memiliki usia 20 hingga 39, dengan penghasilan antara US$300 hingga US$1200 per bulan, dan dengan sejarah kredit yang minim.

Hal itu ditambah dengan kurangnya transparansi mengenai bagaimana platform peer to peer lending menggunakan uang dari para pemberi pinjaman membuat sulit bagi investor untuk mengetahui apa yang terjadi.

(Baca juga: OJK Pastikan Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Indonesia Terjaga)
Penyebaran masalah dan turun tangan pemerintah

Berbagai permasalahan yang melanda fintech peer to peer lending di China tersebut kemudian semakin menyebar. Imbasnya, banyak masyarakat yang kehilangan dana investasinya dari memberikan pinjaman akibat platform yang gagal bayar.

Arus penarikan dana (rush) pun terjadi secara masif, karena kehawatiran masyarakat setelah terdapat beberapa perusahaan yang gulung tikar akibat gagal bayar. Hal itu kemudian memicu gelombang unjuk rasa dari masyarakat.

Menghadapi kepanikan masyarakat yang kehilangan dana investasinya sebagai peminjam, Pemerintah China pun turun tangan dengan melakukan pengetatan regulasi. Mulai dari pengaturan imbal hasil atau suku bunga pinjaman, hingga beragam aturan pengawasan yang ketat.

Pada saat itu, Ketua Komisi Regulator Perbankan dan Asuransi China, Guo Shuqing kemudian mengeluarkan peringatan keras bahwa publik harus mempertanyakan apabila bunga imbal hasil di atas 6 persen. Pasalnya, tingkat imbal hasil 8 persen adalah sinyal berbahaya, dan masyarakat bisa bersiap untuk kehilangan semuamnya jika imbal hasil lebih dari 10 persen.

Sejak awal tahun hingga Juli lalu, sebanyak 221 perusahaan fintech peer to peer lending gulung tikar karena gagal bayar. Angka itu meningkat dari 217 perusahaan yang bangkrut pada sepanjang 2017.

Pemerintah China saat ini menggencarkan kampanye untuk menurunkan jumlah perusahaan fintech peer to peer lending yang berperforma buruk. Tak hanya itu, perusahaan dengan aset yang kecil dan di bawah ketentuan baru, diminta untuk segera mengembalikan dananya kepada masyarakat dalam setahun.

Nah, bagaimana menurut Anda? Pemahaman akan sebuah bisnis pinjam meminjam sangat diperlukan sebelum Anda memutuskan untuk terjun ke dalamnya. Apabila Anda membutuhkan pinjaman yang aman dan terpercaya, silakan kunjungi CekAja.com. Kami bekerja sama dengan puluhan perbankan dan lembaga keuangan yang terdaftar secara resmi. Yuk segera ajukan!

Tentang Penulis

Giras Pasopati

Penulis dan mantan jurnalis. Penikmat sate kambing, musik punk dan rock. Senang membaca buku sejarah dan sastra.