Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

8 menit waktu bacaan

Dampak Bisnis Saat Corona Mewabah, Nasabah KTA CTBC Bisa Dapat Kemudahan?

by Maria Nofianti on 24 Maret, 2020

Adanya wabah virus Corona yang menyerang hampir di seluruh negara di dunia sangat berpengaruh kepada semua aspek kehidupan masyarakat. Sektor ekonomi adalah yang paling terdampak dari mewabahnya virus Corona. Jika di Indonesia bisnis masker dan hand sanitizer melambung tinggi saat ini, maka sektor lain di sebagian besar dunia mengalami kegiatan ekonomi yang amburadul selama wabah virus Corona berlangsung. Banyak kebijakan pemerintah yang mengharuskan untuk masyarakat tetap tinggal di rumah saja, sementara kegiatan perekonomian hampir semuanya berada di luar rumah. Yang paling terasa melambatnya perekonomian adalah China. Bahkan itu juga mempengaruhi kegiatan ekonomi secara global mengingat China menguasai pasar dunia sekarang ini.

dampak bisnis saat Corona

Perekonomian China juga berpengaruh kepada kegiatan ekonomi di Indonesia. Dampak bisnis saat Corona mewabah semakin buruk. Meski belum begitu terlihat sekarang tapi itu bisa saja terjadi. Lalu dampak bisnis saat Corona mewabah yang kemungkinan paling buruk? Tentu saja krisis ekonomi. Tapi sebelum berlanjut ke krisis ekonomi berikut kita akan berikan informasi dampak apa saja yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan mewabahnya virus Corona ini.

Menurunnya perdagangan

Karena China yang juga menutup hampir sebagian kotanya, maka perekonomian juga berpengaruh. China sebagai penguasa pasar saat ini juga memberikan pengaruh turunnya perdagangan terutama di Indonesia. Nilai ekspor  bahkan turun drastis sebesar 12,07%. Ekspor migas dan nonmigas menjadi sektor yang paling banyak mengalami penurunan.

Impor dari negeri Tirai Bambu itu juga menurun sebesar 2,71% dengan penurunan paling tajam dari sektor komoditas buah-buahan. Tidak heran beberapa buah menjadi sangat mahal saat ini di Indonesia seperti anggur dan apel. China adalah negara pengimpor minyak mentah paling besar. Salah satunya adalah dari Indonesia. Jika impor saja turun tentu saja pemasukan negara juga akan berkurang.

Jadi, mulailah mengkonsumsi buah buahan lokal asli Indonesia, karena di negeri kita ini juga banyak buah yang enak dan bermanfaat baik. Selain itu buah lokal juga sangat cocok dikonsumsi oleh kita, karena menyesuaikan dengan musim yang sedang terjadi. Dengan begitu, kita tak perlu khawatir dengan harga apel dan anggur yang melambung tinggi, ganti saja dengan duku, pepaya, sirsak, atau durian.

Pariwisata Loyo

Di China setelah ada wabah virus Corona ini pemerintahnya melarang warganya untuk bepergian keluar negeri. Bahkan untuk masuk ke negara itu saja susah. Jadi hal yang paling mengkhawatirkan adalah sektor pariwisata. Ketika Indonesia juga menerapkan aturan larangan masuk bagi orang dari beberapa negara yang terjangkit maka sektor pariwisatanya akan semakin loyo. Tidak adanya kunjungan turis ke tempat-tempat pariwisata menjadikan tak ada pemasukan. Di Indonesia kunjungan turis asal China adalah yang paling banyak di urutan ketiga setelah Malaysia dan Singapura. Jika tak ada kunjungan dari turis turis asing maka banyak pengusaha atau pemilik bisnis yang akan merugi.

Bahkan saat ini tempat tempat wisata pun ditutup untuk mencegah penularan dan penyebaran virus Corona yang tak pandang bulu menjangkit manusia. Meski di awal awal peraturan work from home, sekolah diliburkan, banyak tempat wisata yang masih buka dan ramai dikunjungi, karena mungkin masyarakat Indonesia menganggapnya sebagai liburan. Dan ini tentunya sangat ironis sekali. Namun setelah ditegaskan lagi, maka banyak tempat wisata yang tutup sementara. Selain itu masyarakat pun semakin melihat bahwa virus Corona bukanlah virus main main, melainkan butuh kewaspadaan kita sendiri agar tak terjangkit. Terlebih saat satu dua tiga korban berjatuhan karena Corona.

Sektor selain pariwisata juga loyo

Nah, dalam sektor pariwisata ternyata tak Cuma soal wahana wisatanya saja loh, tapi juga mencakup banyak usaha seperti kuliner, hotel atau penginapan, tempat hiburan dan lainnya yang ada di sekitar tempat wisata yang mendukung pariwisata tersebut. Tidak adanya pemasukan untuk sektor ini tentu menjadi salah satu dampak bisnis saat Corona mewabah. Pemasukan dalam sektor pariwisata adalah salah satu cadangan devisa bagi negara. Jika cadangan devisa negara ini terganggu maka stabilitas perekonomian Indonesia juga mungkin akan terganggu. Terlebih beberapa tahun belakangan ini, wisata menjadi salah satu trend dan lifestyle bagi masyarakat.

Dalam kegiatan ekonomi tentu erat kaitannya dengan dunia perbankan. Kemungkinan meningkatnya kredit macet akibat wabah virus Corona menjadi hal yang harus diperhatikan. Jika tak ada penanganan yang baik mengenai wabah virus Corona ini maka dikhawatirkan resiko kredit macet akan melambung tinggi. Salah satu bank yang ikut merasakan dampak bisnis saat Corona mewabah adalah Bank CTBC. Bank yang mengeluarkan KTA Dana Cinta ini memang menjadi salah satu favorit masyarakat. KTA Dana Cinta ini bisa dipakai untuk keperluan apa saja. Bisa untuk bisnis, memperbaiki rumah, bahkan liburan.

KTA Dana Cinta

Bagi para pengusaha KTA Dana Cinta memiliki banyak keuntungan. Ini adalah pinjaman yang cocok untuk berbisnis loh. Plafonnya saja bisa sampai Rp 200 juta rupiah. Seperti namanya yaitu KTA Dana Cinta, ini adalah kredit yang tidak mewajibkan adanya jaminan untuk mengajukannya. Pilihan waktu untuk melakukan pelunasan pun panjang sampai 60 bulan. Dengan suku bunga yang kompetitif mulai dari 1,29% menjadi daya tarik bagi masyarakat. Apalagi bunga ini adalah bunga flat yang tidak akan berubah sampai lunas.

Resiko bagi para nasabah saat virus Corona mewabah adalah ketidakmampuan untuk membayar cicilannya. Kebijakan pemerintah yang menutup sekolah sekolah, perkantoran dan tempat wisata tentu saja berdampak bagi para nasabah bank CTBC. Apalagi yang berprofesi sebagai pengusaha akan terasa sekali dampaknya. Anjuran pemerintah untuk di rumah saja dan bekerja dari rumah sedikit banyak membuat lesu perekonomian Indonesia. Beruntung jika bisnis dijalankan secara online dan yang menjadi produk pun adalah produk digital, maka usaha tetap bisa jalan seperti biasa. Tapi sangat disayangkan jika bisnisnya adalah bisnis offline, dimana transaksi harus dilakukan tatap muka dan langsung.

Dampak buruk bagi bisnis membuat para pengusaha yang memiliki KTA Dana Cinta dari Bank CTBC mengalami kewalahan untuk membayarkan cicilannya. Sebenarnya bukan hanya dari Bank CTBC saja yang mengeluhkan risiko peningkatan kredit macet tapi semua bank dalam dunia perbankan. Maka dari itu OJK membuat kebijakan stimulus untuk acuan bagaimana sikap menghadapi pandemi virus corona bagi para pengusaha.

Sesuai dengan POJK No.11/POJK.03/2020 bahwa stimulus diberikan bagi debitur yang mengalami dampak buruk dari wabah virus Corona ini seperti UMKM dan non-UMKM. Dalam aturannya penilaian bagi kualitas kredit atau penyediaan dana didasarkan pada pembayaran pokok yang tepat dan/ bunga kredit untuk Rp 10 miliar rupiah. Yang kedua adalah adanya restrukturisasi dengan meningkatkan kualitas kredit atau pendanaan menjadi lancar setelah direstrukturisasi.

(Baca Juga: Daftar Pejabat yang Terinfeksi Virus Corona di Dunia)

Anjuran ini juga perlu memperhatikan prinsip hati-hati terutama saat proses penagihan. Bagi para pelaku usaha yang memiliki KTA Dana Cinta pasti berharap bahwa bank akan berbaik hati untuk memberikan kelonggaran atau kemudahan untuk membayarkan cicilan. Kebijakan pemerintah untuk bekerja di rumah memang disayangkan sangat mengganggu pemasukan bagi para pengusaha UMKM dan non-UMKM. Bahkan untuk para pedagang yang sehari-harinya keliling pun merasa sangat sedih dan merugi karena mau tak mau dia memilih libur ketimbang terancam tularan virus, atau pilihan lainnya ya membuka sistem delivery order agar dapur tetap ngebul. Setidaknya ini adalah alternatif yang bisa dilakukan, dan menuntut pelaku usaha untuk lebih kreatif menjalankan bisnis agar tidak gulung tikar karena virus Corona.

OJK dalam memberikan kebijakan stimulus juga diharapkan memberikan pengertian kepada bank agar bisa menangguhkan pembayaran kredit bagi debitur. Salah satunya tentu debitur Bank CTBC.  Dengan adanya penangguhan pembayaran kredit bagi debitur maka ini akan menjaga daya beli masyarakat. Maka dari itu proses penagihan oleh petugas juga ditangguhkan. Penerapan untuk stimulus yang diberikan OJK ini disesuaikan dengan kemampuan dan kebijakan masing-masing bank.

Ada banyak tantangan bagi para pengusaha debitur KTA Dana Cinta dari Bank CTBC mulai dari perusahaan kecil, menengah hingga perusahaan besar. Pekerjaan yang biasa dilakukan dengan sebuah pertemuan menjadi semakin sulit dan kita sebagai masyarakat diharuskan menjadi lebih “digital” sekarang ini. Berikut tantangan saat harus berbisnis di situasi sulit.

Susah Ekspansi

Bagi para pelaku usaha atau bisnis, untuk mencapai target di saat mewabahnya virus Corona ini adalah hal yang sulit. Selain itu mereka juga enggan melakukan ekspansi bisnis. Lesunya perekonomian dan sulitnya untuk menjajaki produk di dalam maupun luar negeri adalah dampak bisnis saat Corona mewabah. Ketika wabah mulai reda pelaku bisnis diperkirakan baru akan melakukan ekspansi.

Terganggunya keuangan

Adanya penurunan akibat lesunya perekonomian membuat pendapatan juga menjadi berkurang. Hal ini tentu sangat mengganggu keuangan dari usaha itu. Jika keadaan ini terus berlanjut maka bisa-bisa usaha itu bangkrut dan tutup. Dan tingkat kemiskinan pun akan meningkat jika memang itu yang terjadi.

Nah bagi para pemilik KTA Dana Cinta dari Bank CTBC yang memiliki usaha tentu sangat khawatir dengan keadaan sekarang. Meskipun mereka telah diberikan penangguhan untuk membayar cicilannya, mereka tetap harus mendapatkan penghasilan. Tips bagi para pelaku usaha adalah dengan menyusun strategi bisnis agar tidak terlalu terpengaruh oleh dampak bisnis saat Corona mewabah. Salah satunya adalah dengan tetap menjaga arus kas tetap terjaga dan sehat. Biasanya bisnis dilakukan dengan sebuah pertemuan, maka sekarang gunakanlah segala sesuatunya dengan lebih “digital”. Seperti memakai email untuk saling memberikan dokumen atau surat penting. Proses transaksi juga dilakukan dengan internet banking atau transfer. Dengan tidak perlu bertemu maka ini juga usaha untuk menekan penyebaran virus Corona. Lagipula, saat ini sebagian pelaku usaha juga sudah sangat familiar dengan sistem online, dan ini bisa menjadi salah satu alternatif agar usaha bisa tetap berjalan.

Nah itu dia dampak bisnis saat Corona mewabah bagi para nasabah Bank CTBC. Pemberian kebijakan untuk menangguhkan pembayaran cicilan tentu sangat membantu nasabah melewati wabah virus Corona yang menyebabkan lesunya dunia. Semoga pemberian kebijakan di dunia perbankan ini menjadi salah satu cara menanggulangi wabah virus Corona. Dan semoga wabah virus segera berakhir.

Tentang Penulis