Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

Mengenal Sistem Bagi Hasil Syariah

by JTO on 15 Juli, 2014

Dalam sistem syariah, Anda pasti kenal dengan istilah nisbah (porsi) bagi hasil. Ya, dengan tidak dikenalnya sistem bunga, perbankan syariah mengenal proporsi pembagian keuntungan antara nasabah dan bank syariah dengan istilah ini.

Sebenarnya, istilah bagi hasil bukanlah istilah yang baru dalam kegiatan ekonomi. Bahkan, sistem bagi hasil sudah dikenal sejak dahulu dengan aplikasinya pada sektor pertanian, yaitu antara penggarap dan pemilik lahan. Dalam terminologi asing, istilah bagi hasil juga sudah dikenal dengan nama profit sharing(Baca juga: 3 Mitos yang Wajib Anda Tahu Tentang Produk Syariah

Bagaimana skema bagi hasil dijalankan?

Skema ini berupa pembagian atas hasil usaha yang dibiayai dengan kredit/pembiayaan. Skema bagi hasil dapat diaplikasikan baik pada pembiayaan langsung maupun pada pembiayaan melalui bank syariah (dalam bentuk pembiayaan mudharabah dan musyarakah).

Untuk deposito syariah, nasabah ditawarkan pilihan skema penyertaan (mudharabah) dan investasi spesial (mudharabah muqoyyadah) sesuai keinginan nasabah. Keuntungan yang diperoleh akan dibagi-hasil sesuai dengan porsi (nisbah) yang telah disepakati antara nasabah dan bank.

Bagi hasil yang ditawarkan juga sangat kompetitif, bahkan bisa lebih tinggi dibandingkan suku bunga bank konvensional. Namun, penentuan nisbah bagi hasil ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jenis produk simpanan, perkiraan pendapatan investasi dan biaya operasional bank.Produk simpanan dengan skema investasi atau istilahnya mudharabah adalah yang mendapatkan bagi hasil. Sementara untuk produk simpanan dengan skema titipan atau wadiah, return yang diberikan berupa bonus.

Bagaimana nisbah bagi hasil dihitung?

Sebelum menghitung nisbah bagi hasil, pertama-tama akan dihitung dahulu besarnya tingkat pendapatan investasi yang bisa dibagikan kepada nasabah. Jika sebuah bank syariah menawarkan nisbah bagi hasil tabungan sebesar 60:40, artinya nasabah bank syariah akan memperoleh bagi hasil sebesar 60 persen dari  investasi.

(Baca juga: Mau Tahu Cara Hitung Bagi Hasil Deposito Syariah)

Harapan pendapatan investasi ini dihitung oleh bank syariah dengan melihat performa kegiatanekonomi di sektor-sektor yang menjadi tujuan investasi. Misalnya saja sektor properti, perdagangan,pertanian, telekomunikasi atau sektor transportasi. Setiap sektor tersebut memiliki karakteristik danperforma yang berbeda-beda, sehingga akan memberikan imbal balik investasi yang juga berbeda.

Untuk menghitung ekspektasi /proyeksi pengembalian investasi, bank syariah akan menggunakan berbagai indikator ekonomi dan keuangan yang dapat mencerminkan kinerja dari sektor tersebut. Termasuk juga indikator riwayat aktivitas investasi bank syariah yang telah dilakukan, yang tercermin dari nilai rata-rata seluruh jenis pembiayaan yang selam ini dilakukan.

Dari situ, akan diperoleh besarnya pendapatan investasi dalam bentuk rata-rata ekuivalen yang akan dibagikan kepada nasabah. Akan dihitung pula besarnya pendapatan investasi yang merupakan bagian untuk bank syariah sendiri, biaya operasional, dan berapa pendapatan yang wajar untuk diberikan.

Tentang Penulis

JTO

Penulis dan jurnalis yang menetap di tanjung laut Batavia.