Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

Persiapkan Rencana Finansial Jika Anda Divonis Penyakit Kritis

by JTO on 28 April, 2015

Bangkrut karena tidak miliki asuransi kesehatan?. Ya, CekAja pernah menulis artikel itu. Bukan tanpa alasan, saat ini biaya perawatan dan pengobatan sebuah penyakit kritis memang cukup mencengangkan. Bagai serdadu yang siap senjata dan amunisi di medan perang, butuh langkah taktis untuk mencegah kerugian yang bisa terjadi.

Bukan zamannya lagi ketika sakit kritis Anda cukup memanggil dukun atau tabib. Kemudian pengobatan pun dilakukan, dengan bayaran seikhlasnya, selanjutnya hanya doa dan takdir yang bisa menentukan. Hello… please deh!, Mungkin itu bisa dilakukan jika Anda masih hidup di zaman kerajaan.

Saat ini penyakit kritis butuh pengobatan modern. Mulai dari penanganan khusus, alat bantu pengobatan khusus, dan hal-hal khusus lainnya. Ya, tanpa memiliki perlindungan yang bisa menjamin dan mengalihkan biaya atas risiko yang terjadi, bisa jadi orang terdekat Anda akan tersiksa dan bangkrut dibuatnya.

Walau telah memiliki asuransi, terkadang masih banyak orang yang belum memaksimalkan perlindungan yang bisa didapat. Khususnya untuk masalah penyakit kritis ini. Padahal, ada langkah persiapan finansial yang bisa dilakukan agar perlindungan lebih maksimal. Apa saja yang bisa dilakukan? Tuntaskan saja di artikel ini.

Ambil semua benefit kelebihan asuransi yang Anda miliki

Tindakan ini memang butuh biaya tambahan. Sebab, semakin banyak benefit yang ditawarkan oleh sebuah asuransi dimasukkan dalam perlindungan Anda, maka semakin mahal pula tarif premi yang harus dibayarkan. Namun, tindakan ini mungkin cukup sebanding dengan apa yang akan didapatkan jika – walau Anda wajib berharap jangan sampai atau tidak terjadi – risiko sebuah penyakit kritis menimpa.

Faktanya, penanganan risiko penyakit jantung perlu dana setidaknya minimal Rp30 juta. Bahkan, jika diperlukan tindakan pemasangan ring pada jantung (angioplasty), perlu dana minimal Rp60 juta per ring yang dipasang. Jika harus cangkok jantung, perlu dana hingga Rp1 miliar untuk melakukannya. Bukan menakuti, tapi apakah Anda punya atau siap dengan uang sebanyak itu?

Ambil benefit kesehatan yang disediakan kantor untuk pencegahan

Dengan diwajibkannya BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, setiap kantor wajib mengasuransikan karyawannya. Atau, kantor Anda mungkin menyediakan asuransi swasta tambahan lainnya agar perlindungan kesehatan yang diberikan lebih maksimal. Bisa juga, untuk rawat jalan dan konsultasi serta cek kesehatan yang dilakukan, kantor Anda memberikan sistem  reimburse atau penggantian uang. Saran kami, dengan motif bisa lebih sehat dan lebih hemat, gunakanlah semua itu!

Bikin tabungan khusus untuk berobat (diluar dugaan)

Taruhlah Anda punya asuransi yang bisa memberikan jaminan perlindungan biaya atas segala risiko yang terjadi. Tapi ada saat di mana Anda butuh uang tunai untuk tindakan berobat yang diluar dugaan dan tidak bisa ditanggung oleh asuransi yang dimiliki. Artinya, Anda butuh dana darurat berbentuk uang tunai yang selalu siap untuk hal itu.

Jadilah orang yang tahu tentang penyakit Anda

Pihak yang sangat mengerti kondisi kesehatan Anda, ya hanya Anda sendiri. Dokter hanya membantu untuk memeriksa, mendeteksi penyakit apa yang Anda derita, kemudian memberikan rencana pengobatan yang harus dilakukan. Saat dokter sedang memeriksa, jangan menjadi orang yang irit bertanya tentang obat dan pengobatan yang sebenarnya tidak perlu. Tindakan itu sangat bisa menghemat uang Anda. Selanjutnya, hanya disiplin diri untuk menjaga kesehatan yang diperlukan.

Jadilah orang yang pertama mengerti akan nilai pentingnya menjaga kesehatan terhindar dari penyakit kritis bagi diri anda maupun keluarga, dapatkan perlindungan kesehatan dengan bergabung bersama program asuransi kesehatan yang bisa anda dapatkan dari CekAja menggunakan perbandingannya.

Tentang Penulis

JTO

Penulis dan jurnalis yang menetap di tanjung laut Batavia.