Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

6 menit waktu bacaan

Buku Pramoedya Ananta Toer Paling Laris dan Paling Eksis Selain Bumi Manusia

by Estrin Vanadianti Lestari on 1 Maret, 2020

Sangat fenomenal, siapa yang tak tahu Pramoedya Ananta Toer, yakni seorang sastrawan terbaik Indonesia. Karya-karyanya berbentuk novel atau buku Pramoedya Ananta Toer pun, tak kalah terkenal. Sebut saja seperti Tetralogi Pulau Buru, di mana mampu menghasilkan empat novel.

buku pramoedya ananta toer

Tetralogi Pulau Buru, merupakan karya yang membahas tentang roman sejarah Indonesia pra kemerdekaan. Bahkan, satu di antara empat novel tersebut yakni Bumi Manusia, telah diadaptasi menjadi film oleh sutradara handal, Hanung Bramantyo.

Lewat film Bumi Manusia juga, buku Pramoedya Ananta Toer menjadi semakin terkenal, terutama di kalangan milenial. Bahkan, karya-karyanya juga sering diulas di media sosial, dan banyak menginspirasi kaum muda.

Nah, sebelum membahas terkait buku Pramoedya Ananta Toer yang terkenal dan selalu best seller ini, mari intip dulu perjalanan sang sastrawan terbaik Indonesia berikut ini.

Mengenal Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang sastrawan yang lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Namun, ia telah wafat pada 30 April 2006 di Jakarta, yakni di usianya yang telah menginjak 81 tahun.

Pramoedya Ananta Toer yang memiliki nama asli Pramoedya Ananta Mastoer, merupakan anak sulung dari kedua orang tuanya. Ayah Pramoedya Ananta Toer adalah seorang guru, sedangkan ibunya seorang penjual nasi.

(Baca Juga: 4 Rekomendasi Buku Motivasi Diri Terbaik Sepanjang Masa)
Perjalanan Karier Pramoedya Ananta Toer

Bagaimana perjalanan Pramoedya Ananta Toer, hingga akhirnya bisa menjadi seorang sastrawan kebanggan Indonesia? Pramoedya Ananta Toer menempuh pendidikan di Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya.

Setelah lulus, ia bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta. Pasca tahun 1945 setelah merdeka, Pramoedya mengikuti kelompok militer di Jawa.

Selama karir militernya ia menulis cerpen serta buku, bahkan ketika ia dipenjarakan Belanda di Jakarta pada tahun 1948. Setelah banyak mengalami hal-hal manis dan pahit yang terjadi di hidupnya, di situlah banyak karya-karyanya tercipta dengan sangat baik. Seperti Bumi Manusia, Gadis Pantai, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, dan masih banyak lagi.

Selain sejarah, banyak tulisannya yang menyentuh tema interaksi antar budaya. Di antaranya adalah antarbudaya Belanda, Kerajaan Jawa, Orang Jawa secara umum, dan Tionghoa.

Pramoedya Ananta Toer Wafat Karena Didiagnosa Radang Paru-paru

Hingga akhir hayatnya, ia pun masih aktif menulis, meski kesehatannya menurun akibat dimakan usia, serta kegemarannya terhadap rokok. Di tanggal 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer pun akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Pramoedya Ananta Toer didiagnosa menderita radang paru-paru, di mana penyakit tersebut tidak pernah ada sebelumnya. Ditambah dengan komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.

Namun, selama Pramoedya Ananta Toer hidup, setidaknya ia telah menghasilkan lebih dari 50 karya. Bahkan, karya-karya tersebut juga telah diterjemahkan ke lebih dari 42 bahasa asing.

Selain itu, ada hal yang membanggakan lainnya terkait novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer. Di mana buku Pramoedya Ananta Toer, menjadi buku yang harus dibaca dan menjadi bahan ajar wajib sekolah-sekolah dan universitas di luar negeri.

Buku Pramoedya Ananta Toer

Nah, dari banyaknya karya Pramoedya Ananta Toer, kira-kira buku Pramoedya Ananta Toer yang mana yah, yang menjadi buku paling laris, paling favorit para pembaca Indonesia?

Berikut deretan buku Pramoedya Ananta Toer yang paling laris dan paling banyak dibaca:

1. Bumi Manusia

Buku Pramoedya Ananta Toer yang paling fenomenal yang pertama adalah Bumi Manusia. Telah diadopsi menjadi film layar lebar di 2019 lalu, membuat cerita Bumi Manusia semakin terkenal.

Buku yang berlatar pada awal abad ke-19 dan abad-20 ini, bercerita tentang seorang pemuda Jawa keturunan ningrat bernama Minke. Jika di film tokoh Minke diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, namun Minke ternyata juga bukanlah nama yang sebenarnya.

Tokoh Minke merupakan anak seorang bupati yang bersekolah di Hogere Burger School (H.B.S) Surabaya. Selain itu, disebut-sebut, Surabaya juga memiliki anggapan bahwa, kegiatan menulis merupakan suatu hal yang penting.

Nah, di sini Minke sangat dikenal sebagai putra pribumi yang pandai menulis, sehingga karya-karyanya berhasil dipublikasikan di koran. Di Bumi Manusia ini, sangat menggambarkan karakter tokoh Minke yang revolusioner, bahkan kerap menantang ketidakadilan terhadap bangsanya.

Untuk kamu yang belum tahu kisah tentang Bumi Manusia, kamu bisa membacanya atau bisa juga dengan menonton filmnya. Buku Pramoedya Ananta Toer “Bumi Manusia” bisa kamu beli di toko buku offline atau online, begitupun buku yang lainnya.

Harga buku: Sekitar Rp130.000

2. Gadis Pantai

Tidak hanya Bumi Manusia, buku Pramoedya Ananta Toer yang juga menjadi best seller adalah Gadis Pantai. Di mana buku ini menceritakan tentang gadis berusia 14 tahun, yang berasal dari kampung nelayan di pesisir Utara Jawa Tengah, Kabupaten Rembang.

Gadis Pantai ini adalah buku Pramoedya Ananta Toer yang mencoba membongkar tradisi feodalisme Jawa, yang sarat dengan ketidakadilan terhadap perempuan.

Pasalnya, perempuan selalu ditempatkan dalam posisi terbawah dalam budaya patriarki Jawa. Nah, si Gadis Pantai ini sendiri merupakan gambaran kasar tentang siapa nenek Pramoedya Ananta Toer, yang setelah diusir dari rumah Bendro, mencoba untuk hidup mandiri.

Harga buku: Sekitar Rp75.000

3. Arus Balik

Selanjutnya ada Arus Balik, yang juga merupakan buku Pramoedya Ananta Toer paling laris. Buku ini menceritakan tentang Nusantara di masa kejayaannya.

Memiliki 760 halaman, buku ini bercerita pada zaman Majapahit, di mana Nusantara merupakan kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar di dunia.

Akan tetapi, arus pun berbalik, utara menguasai selatan dan menguasai kehidupan Nusantara dan menimbulkan perpecahan. Sampai pada akhirnya Indonesia dan sekitarnya harus menerima kenyataan sekian abad lamanya telah dijajah.

Harga buku: Sekitar Rp40.000

4. Jejak Langkah

Selanjutnya ada Jejak Langkah yang merupakan buku Pramoedya Ananta Toer lanjutan dari Tetralogi Pulau Buru, setelah Anak Semua Bangsa.

Nah, di buku ini Pram menceritakan Minke melawan pemerintah kolonial dengan membentuk organisasi serta membangun pers. Hal tersebut digunakannya sebagai alat untuk memobilisasi massa, agar terlibat melawan kolonial.

Setelah itu, Minke melanjutkan sekolahnya di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi, pada 1901. Siswa yang sekolah di sini akan dipekerjakan oleh gubermen (pemerintah kolonial Belanda).

Dari awal ia bersekolah, Minke tidak pernah berhenti untuk menulis. Bahkan, tulisannya banyak yang berkaitan dan mengkritik pemerintah dan diterbitkan di koran.

Harga buku: Sekitar Rp143.000

5. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Ada satu lagi buku Pramoedya Ananta Toer yang wajib banget dibaca, yakni Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Buku ini bercerita ketika Pram berada di Pulau Buru dan diizinkan untuk menulis.

Di sana, Pram selalu menuliskan surat yang ingin diberikan kepada putrinya. Namun, sayangnya surat tersebut tidak bisa keluar, bahkan tidak pernah tersampaikan.

Nah, dari tulisan-tulisan itulah, buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu muncul tahun 1995. Di buku tersebut, Pram menuliskan bagaimana keluh kesah dan pandangan Pram mengenai kehidupan di Pulau Buru.

Harga buku: Sekitar Rp75.000

Nah, itu dia beberapa dari sekian banyak buku Pramoedya Ananta Toer yang paling banyak dibaca. Buat kamu yang enggak mau ketinggalan tentang kisah-kisah karya Pramoedya Ananta Toer, kamu bisa membeli bukunya sekarang juga.

Buku-buku nya masih tersedia di toko buku offline maupun online. Nah, agar lebih praktis ketika membeli buku, kamu bisa menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayarannya.

Belum Punya Kartu Kredit? Ajukan Lewat Cekaja.com Saja!

Yuk, ajukan segera kartu kredit pilihanmu, yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, hanya di Cekaja.com!

Dapatkan juga informasi menarik lainnya, seperti perbandingan antara kartu kredit yang satu dan yang lainnya, hingga informasi promo menarik lainnya, terkait produk kartu kredit.

Tentang Penulis

Estrin Vanadianti Lestari

Sisuka makan banyak, tapi enggak gemuk-gemuk