Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

10 Kesenian Tradisional Khas Aceh yang Bikin Bangga Indonesia

by Vera Khairifah on 25 Juni, 2020

Provinsi Aceh memiliki kesenian beragam yang sering ditampilkan di acara kebudayaan dalam maupun luar negeri, sehingga bikin bangga nama Indonesia. Berikut daftar kesenian tradisional khas Aceh yang wajib kamu tahu!

10 Kesenian Tradisional Khas Aceh yang Bikin Bangga Indonesia

 1. Tari Saman

Tari Saman

Kesenian tradisional khas Aceh yang satu ini sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia maupun dunia. Sayangnya, arti Tari Saman yang sebenarnya kerap disamakan dengan tarian lain. seperti Ratoh Jaroe maupun Ratoh Duek.

Sebenarnya, Tari Saman adalah tari yang dibawakan oleh penari laki-laki secara berkelompok. Jumlah penari dalam kelompok Tari Saman berjumlah ganjil, minimal 9 orang. Tarian ini adalah tarian khas Suku Gayo, yakni suku tertua di Aceh.

Tari Saman dibawakan dengan gerakan menepuk dada dan lantai, diiringi gendangan rebana oleh seorang syeh yang juga menyanyikan lagu dalam bahasa Gayo. Kostum yang digunakan pun adalah pakaian adat suku Gayo.

2. Ratoh Jaroe

Ratoh Jaroe

Ini dia tarian yang kerap dimaksud sebagai Tari Saman. Ratoh berarti alat musik pukul atau yang biasanya dikenal dengan rebana. Penampil Ratoh Jaroe adalah para wanita yang tidak ditentukan jumlah penarinya.

Kostum yang digunakan memang hampir sama dengan penari Saman. Yakni pakaian adat khas Aceh dengan warna cerah dan kontras, serta memakai ciput yang dihiasi oleh berbagai aksesoris dan tata rias.

Pada tahun 2018 lalu, Ratoh Jaroe ditampilkan dalam pembukaan Asian Games di Jakarta. Ribuan pelajar berpartisipasi sebagai penampil Ratoh Jaroe. Pertunjukan ini sontak mendapat apresiasi baik dari warga dunia yang menonton.

3. Didong

Didong

Didong yang berarti “nyanyian sambil bekerja” merupakan kesenian tradisional khas Aceh yang menggabungkan seni tari, vokal, dan sastra daerah.

Penampil Didong akan duduk berbaris atau membentuk lingkaran, sambil menggerakkan tangan ke atas dan ke bawah. Sekilas, gerakan ini memiliki sedikit kesamaan dengan Tari Kecak asal Bali. Apalagi Didong juga ditampilkan oleh sekitar 15 orang pria.

Di antara penari, ada seorang penyanyi yang melantunkan lagu dengan bahasa Aceh Gayo diiringi suara tepukan tangan penari.

(Baca Juga: 7 Kesenian Tradisional Khas Bali)
4. Tari Likok Pulo

Tari Likok Pulo

Ini adalah salah satu kesenian tradisional khas Aceh yang populer. Sebab Tari Likok Pulo sering ditampilkan di acara kebudayaan dalam negeri maupun luar negeri. Rupanya, tarian ini sudah ada sejak tahun 1849, lho.

Tari Likok Pulo dahulu ditampilkan setelah masa tanam maupun panen padi. Gerakannya sangat khas, yakni tangan dan kepala yang bergerak dinamis seolah menyerupai gerakan kincir air. Suara instrumen rapai atau alat musik pukul rebana mengiringi tari ini.

5. Rapa’i Geleng

Tari Rapa’i Geleng

Kesenian tradisional khas Aceh ini sudah ada sejak 1952 di daerah Gampong Seuneulop. Umumnya, Rapa’i Geleng ditampilkan oleh penari laki-laki berjumlah 10 orang.

Sesuai namanya, tarian ini memiliki gerakan kepala yang menggeleng, dan rapa’i atau rebana yang berpindah dari tangan penari yang satu dengan yang lainnya. Nilai yang terkandung dalam syair lagu dan tarian ini adalah nilai moral masyarakat, serta nilai dakwah Islam.

6. Rapa’i Geurimpheng

Rapa'i Geurimpheng

Formasi penari Rapa’i geurimpheng hampir sama dengan formasi penari Rapa’i Geleng. Hal yang membedakan adalah gerakan Rapa’i Geurimpheng lebih beragam. Mulai dari penari yang memukul rapai sambil ikut bernyanyi, serta gerakan badan dan kepala yang lebih dinamis.

Ada sekitar delapan sampai 12 penari dalam sekali pertunjukan Rapa’i Geurimpheng. Syair lagu yang dibawakan pun beragam, seperti shalawat maupun kisah teladan para Nabi. Nilai tariannya pun masih sama, yakni seputar dakwah dan nilai-nilai Islam lainnya.

7. Tari Laweut atau Tari Seudati

tari seudati

Kesenian tradisional khas Aceh memang identik dengan wadah dakwah Islam yang diiringi doa dan pujian pada Tuhan Yang Maha Esa. Tari Laweut sendiri dibawakan dengan menyanyikan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW.

Sebanyak delapan penari wanita dan satu penyanyi tampil dalam pertunjukkan tarian asal daerah Pidie ini yang juga dikenal dengan nama Tari Seudati. Gerakannya hampir sama seperti Tari Saman, tetapi dibawakan dalam posisi berdiri, dan tanpa iringan musik.

8. Tari Bines

Tari Bines

Tari Bines adalah tarian dari Kabupaten Gayo Lues yang dibawakan dengan tujuan hiburan. Tarian ini tidak menentukan jumlah penari, hanya saja harus dibawakan dalam jumlah genap.

Berbeda dengan kesenian tari Aceh lainnya, penari Bines menggunakan kostum berupa baju lukup, kain sarung dan kain panjang yang seragam, beberapa aksesoris hiasan tangan, dan tata rambul yang tinggi seperti sanggul.

Tari Bines mulai dibawakan dengan gerakan lambat, kemudian beralih menjadi semakin cepat dalam posisi berdiri. Keseruan penampilan Tari Bines ini membuatnya dijadikan sebagai tarian untuk menyambut tamu maupun dalam acara pesta pernikahan.

(Baca Juga: 18 Kesenian Tradisional Khas Jawa Tengah Terlengkap)
9. Tari Tarek Pukat

Tari Tarek Pukat

Kesenian tradisional khas Aceh juga kerap mengambil nilai-nilai keseharian masyarakatnya. Tari Tarek Pukat mengandung nilai sejarah tradisi nelayan saat menangkap ikan dengan jaring.

Sekitar tujuh orang penari wanita menari dengan menggunakan kostum khas pakaian Aceh. Tarian dibawakan dengan ekspresi ceria, dengan menonjolkan sikap gotong royong, rasa kebersamaan dan kerja keras. Terdapat pula seutas tali yang dibentuk menyerupai jaring nelayan.

10. Tari Ula Ula Lembing

Tari Ula Ula Lembing

Eksistensi Tari Ula Ula Lembing saat ini kian menurun. Sehingga sebagian orang menilai tarian ini hampir langka dan punah dimakan oleh zaman. Tarian ini berasal dari Kabupaten Aceh Tamiang.

Kesenian tradisional khas Aceh ini berfungsi sebagai tarian ritual adat maupun pertunjukan hiburan yang dibawakan oleh sepuluh sampai 16 penari. Tari diiringi oleh lagu Arab, dengan alat musik biola, rebana, telempong, dan canang.

Sedangkan untuk kostum, penari memakai baju tangan panjang teluk belanga khas Aceh Tamiang, dengan warna cerah dan kontras.

Itulah sederet kesenian khas Aceh. Biar makin seru, mempelajari kesenian daerah bisa dilakukan sambil jalan-jalan. Di masa new normal seperti sekarang, tidak ada salahnya untuk mencoba pergi jalan-jalan ke daerah wisata yang dekat dan tidak terlalu ramai.

Untuk menambah rasa amanmu, lengkapi perjalanan wisata dengan asuransi perjalanan yang bisa kamu miliki melalui CekAja.com. Yuk, ajukan sekarang juga!

Widget TRV Insurance

Tentang Penulis

Vera Khairifah

A content writer and socmed enthusiast