Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

7 menit waktu bacaan

Prospek Investasi Mengilap di Balik Tren Koleksi Tas Branded

by Ariesta on 15 August, 2017

Ladies, mengoleksi tas branded ternyata bukan hanya sebagai penegasan status sosial saja, melainkan juga bisa sebagai investasi lho.

Di balik harganya yang mahal, tas dengan merek-merek tertentu bisa menjadi sangat menguntungkan bertahun-tahun ke depan.

Hal ini berdasarkan riset Baghunter.com, sebuah situs yang memasarkan tas mewah second di mana kolektor, fashionista, serta kalangan atas melakukan jual-beli tas branded otentik, vintage, dan limited edition, terutama untuk merek Hermès dan Chanel.

1. Nilai tas terus meningkat bahkan di saat resesi

Dalam waktu enam tahun saja, Chanel Medium Classic Flap Bag mengalami kenaikan sebanyak 71,92% selama kurun 2010-2016. Saat pertama kali rilis di tahun 1955, tas tersebut dirilis seharga US$220, dan 45 tahun kemudian di tahun 1990 menjadi US$1,150.

Hermès khususnya Kelly bag sudah naik 1000% dari pertama kali peluncurannya tahun 1950-an dan harga Kelly bag menjadi dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Sedangkan Hermès Birkin mengalami peningkatan harga 14,2% per tahun dan tidak pernah turun bahkan saat resesi ekonomi.

2. Sulit didapatkan

Kenapa sebuah tas Hermès dan Chanel bisa sangat mahal? Baik Chanel, Hermès Birkin, maupun Kelly menjadi barang yang semakin sulit didapatkan karena kualitasnya yang premium dan pembuatannya yang rumit serta handmade. Tingginya persaingan untuk mendapatkannya menyebabkan harga tas menjadi sangat mahal, apalagi biasanya Hermès cenderung ‘pilih-pilih konsumen’ dalam menjualnya.

Jangan heran kalau kita harus masuk ke dalam waiting list yang sangat lama atau bahkan terang-terangan ditolak untuk masuk daftar. Belum lagi materi yang dipakai seperti kulit buaya, sutra, emas, dan batu berharga yang semakin menambah nilai jual dari sebuah tas Hermès.

Semakin langka, semakin mahal pula harganya. Contohnya Hermès White Himalayan Niloticus Crocodile Diamond Birkin bag yang terjual US$379.261 alias Rp4.9 miliar di balai pelelangan Christie di Hongkong. Wajar saja, tas yang diproduksi tahun 2014 tersebut dilengkapi emas 18 karat dan tali yang bertahtahkan 240 berlian. Istimewanya lagi, Hermès yang kita miliki gratis reparasi seumur hidup. Artinya tas tersebut bisa diturunkan ke anak dan cucu kita.

Hermès membatasi jumlah produksinya karena inilah salah satu cara mereka dalam mengontrol harga dan pasar. Setiap tas dibuat secara manual oleh tangan-tangan artisan terampil. Setiap artisan bahkan harus dilatih selama tiga atau empat tahun sebelum mereka boleh mulai mengolah kulit.  Selain itu, proses pembuatan sebuah tas pun dilakukan oleh satu artisan saja dari awal sampai akhir. Inilah yang membuat produksi Birkin dan Kelly tidak dapat dipastikan jumlahnya.

3. Second pun diburu

Sulit dan mahalnya mendapatkan tas branded yang asli membuat banyak wanita Indonesia berburu barang second lewat akun jasa preloved di internet. Pemilik tas bisa menitipkan tasnya untuk dijual, atau bisa menitip beli tas baru dengan membayar sejumlah DP (Down Payment). Pemilik jasa preloved akan langsung membelikan di Amerika atau Eropa.

Jacqueline Evania, pemilik @lablux, akun Instagram yang menjual tas-tas preloved branded turut membenarkan kalau tas bisa menjadi instrumen investasi. “Tas sebagai investasi itu benar, terutama Chanel dan Hermès. Karena yang harga tiap tahunnya naik kurang lebih memang dua brand ini. Kalau brand-brand lain dijual second belum tentu bisa buat investasi. Tapi kalau Chanel dan Hermès aku berani bilang bisa untung,” tuturnya membagikan pengalaman sebagai reseller.

Dalam menjalankan bisnisnya, kebanyakan tas second yang diterima Jacqueline datang dari pembeli yang sebelumnya melakukan titip beli (pre-order) lewat @lablux, atau teman-temannya sendiri. Hal ini untuk menghindari barang palsu, karena @lablux berkomitmen hanya menjual barang otentik.

Di luar negeri, tas-tas branded second bahkan dijual di mal-mal. Shantica Warman, Editor-in-Chief Herworld dan BRIDE Indonesia juga pernah menyambangi toko preloved branded di Jepang. Meski demikian, ibu dua anak ini tidak terlalu menganggap tas sebagai investasi.

Baginya, tas-tas yang dibeli harus memiliki kedekatan emosional. Misalnya saat pertama kali mengunjungi sebuah negara, Shantica akan membeli sebuah tas, sehingga tas tersebut akan mengingatkan pada kunjungan pertama ke tempat tersebut.

“Waktu membeli tas saya nggak berpikir akan dijual kembali. Tapi saya juga suka belanja tas preloved di Jepang untuk seru-seruan aja, karena orang Jepang kan apik-apik ya, jadi barangnya pasti masih bagus. Harganya bisa lebih murah Rp6 juta daripada di toko,” tuturnya.

Namun, untuk Hermès, harga di pasar preloved bisa hampir sama atau bahkan lebih mahal dari harga di toko lho ladies. Karena dengan berburu tas second, kita bisa mendapatkan tas yang diinginkan tanpa harus masuk waiting list. Ini juga berlaku dengan Chanel saat koleksi limited edition dirilis.

4. Nilai investasi tas lebih tinggi dibanding investasi konvensional

Masih ragu berinvestasi tas? Simak tabel berikut di mana kenaikan harga tas mewah melebihi rata-rata inflasi di Indonesia yang mencapai 5,94% per tahun (2007-2016), kenaikan apartemen, IHSG, S&P stock, maupun emas.

Belum lagi kalau kita berinvestasi properti, misalnya, kita harus mengeluarkan biaya untuk perawatan, keamanan, renovasi, serta bunga KPR, ditambah pasar properti kadang tidak menentu. Sedangkan dengan tas, kita bisa menikmatinya sekaligus berinvestasi.


*Kenaikan harga apartemen berdasarkan riset Colliers International Indonesia

*IHSG berdasarkan data Yahoo Finance

*S&P stock dan emas berdsasarkan data Baghunter.com

*Kenaikan harga Chanel Medium Classic Flap rata-rata 12% per tahun dan Hermès Birkin rata-rata 14,2% per tahun berdasarkan riset Baghunter.com

Ingin investasi tas? Bidik yang akan jadi hits di masa depan

Sama halnya dengan investasi saham, emas, atau properti, berinvestasi tas juga butuh strategi. Jacqueline berbagi tips jika ingin berinvestasi tas. Menurutnya jenis tas yang akan menjadi ‘it bag’ di masa depan masih akan tetap sama dengan sekarang yaitu seri klasik dari Chanel dan Hermès.

“Biasanya Hermès yang dibuat untuk investasi justru yang seri klasik seperti Birkin, Kelly, dan Lindy. Kalau mau untung mungkin investasinya dalam waktu lima tahun ke atas. Soalnya kalau satu tahun harganya belum terlalu jauh beda. Tapi kalaupun sudah lebih dari lima tahun, asalkan kualitasnya masih bagus dan masih lengkap box, dust bag, dan ada receipt, pasti lebih cepat lakunya.”

Warna juga turut mempengaruhi lho ladies. Untuk investasi jangka panjang, pilihlah warna standar seperti hitam, taupe, dan merah. “Untuk warna merah, kode warnanya banyak. Tapi yang biasanya mahal adalah RC (Rouge Casaque). Kalau untuk material, pastinya Himalayan Croco. Kelly epsome leather, Birkin togo leather, dan Lindy clemence leather juga banyak dicari orang,” jelas Jacqueline.

Sedangkan Shantica Warman berpendapat justru merek Fendi dan Gucci yang akan makin hits di masa depan. “Fendi, dulu nama ini kurang begitu dilirik tapi dua tahun terakhir semakin banyak peminatnya. Kemudian sejak Alessandro Michele menjadi desainer baru Gucci, dia bisa menggali hartanya Gucci dan disambut antusias sama pencinta tas. Bahkan pencinta brand lain yang tadinya tidak melihat Gucci, sekarang jadi tertarik.”

Apapun strateginya, baik membeli model klasik seperti Kelly, Birkin, Chanel Flap, atau yang neo-classic seperti Chanel Boy Bag, yang menurut Baghunter.com akan menjadi collector bag di masa depan, mungkin sebaiknya pilihlah yang memang kita sukai seperti yang dilakukan Shantica dalam membeli tas.

Jangan lupa perawatan

Memutuskan berinvestasi pada tas berarti harus paham soal perawatan. Karena tas yang kondisinya tidak baik tentu akan menurunkan harga jual. Leather bag tidak disimpan di lemari tertutup tanpa dikeluarkan dalam waktu yang lama. Kalaupun tidak dipakai, tas harus tetap diangin-anginkan supaya tidak berjamur.

Nah supaya tas yang baru dibeli lebih awet, lakukan coating/color wash alias treatment di bag spa, agar jika tergores atau kotor tidak langsung mengenai permukaan kulit tas.  Sayang kan kalau tas branded yang bernilai investasi tidak dirawat dengan baik.

Hermès dan Chanel memang tergolong klasik dalam urusan fesyen, walau keduanya akan selalu mengeluarkan beberapa model yang sifatnya musiman. Namun secara garis besar, mereka akan selalu relevan di dunia fesyen dan tidak pernah ketiggalan zaman. Wajar saja kalau Samantha Jones dalam Sex and the City 2 sampai bilang, “It’s not a bag, It’s a Birkin!”

Jadi bagaimana ladies? Pilih investasi konvensional atau tas?

Tentang Penulis