Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

5 Alasan Wanita Harus Lebih Matang Siapkan Rencana Pensiun

by Ariesta on 21 Maret, 2016

tips menabung - CekAja.com

Semua orang pasti ingin pensiun dalam keadaan sejahtera. Tidak perlu memikirkan untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak perlu merepotkan anak karena semua sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari.

Setelah kerja berpuluh-puluh tahun, kamu pantas menerima penghargaan berupa pensiun sejahtera.  Tak sekadar santai di rumah menikmati masa tua. Mungkin kamu bisa liburan dalam waktu lama atau bahkan keliling dunia bersama pasangan ketika menikmati hari tua nanti.

Oleh karenanya, pensiun harus benar-benar dipersiapkan terutama dari segi finansial. Dan jika kamu wanita, nampaknya kamu harus dua kali lebih peduli pada dana pensiunmu. Mengapa demikian? Ini alasannya.

Karena wanita hidup lebih lama dari pria

Berdasarkan survey Social Security Administration Amerika, rata-rata harapan hidup wanita lebih tinggi daripada pria dan akan semakin tinggi di masa depan. Wanita yang saat ini berusia 65 tahun bisa hidup sampai usia 86,6 tahun, sedangkan pria sampai usia 84,3 tahun. Dan itu hanya angka rata-rata. Karena satu dari empat wanita berusia 65 tahun bisa hidup melewati angka 90 tahun. Dan satu dari 10 mampu hidup melewati usia 95 tahun.

Di Indonesia sendiri, data pada 2014 menyebutkan bahwa umur harapan hidup masyarakat Indonesia rata-rata akan mencapai 72 tahun. Padahal, pada 2004, umur harapan hidup hanya pada kisaran 66,2 tahun. Berdasarkan statistik, anak perempuan yang dilahirkan tahun 2012 bisa hidup hingga 73 tahun dan anak laki-laki hingga 68 tahun.

(Baca juga: Jika Tidak Mau Miskin Saat Pensiun, Stop Lakukan 4 Kesalahan Ini)

Semakin tingginya harapan hidup ini disebabkan karena semakin canggihnya pegobatan dan kualitas pelayanan kesehatan. Semakin lama hidup wanita, itu artinya wanita harus membayar  pajak lebih banyak karena hidup lama. Wanita harus mempersiapkan dana pensiun lebih banyak sehingga sejak muda harus menabung lebih banyak pula.

Karena banyak wanita yang saat pensiun berstatus janda

Karena perbedaan usia harapan hidup yang sudah disebutkan di atas, akhirnya banyak wanita yang pensiun berstatus janda karena ditinggal suami yang tiada lebih dulu. Berdasarkan data Federal Interagency Forum on Aging Related Statictics, lebih dari setengah wanita yang berusia 65 tahun adalah janda.

Hidup sendiri tanpa pendamping di usia tua tidak mudah. Pastikan asuransi kesehatan menanggungmu agar tidak menjadi beban anak tercinta.

Karena wanita lebih sulit mendapatkan pekerjaan di usia lanjut

Banyak wanita memutuskan untuk berhenti bekerja demi fokus mengurus anak di rumah. Tapi ketika mereka ingin kembali ke dunia kerja, mereka baru sadar kalau skill mereka sudah out of date. Meski menjadi ibu rumah tangga juga mensyaratkan keahlian manajemen uang, menjadi guru, sampai menjadi dokter untuk keluarga, semua pengalaman tersebut tidak dipertimbangkan sebagai pengalaman kerja.

Perusahaan menghargai pengalaman kerja. Selama apapun kamu terjun sebagai relawan atau bekerja 1×24 jam sebagai ibu rumah tangga, pengalaman tersebut tidak dihitung sebagai pengalaman kerja. Dan jika saat usia tua, pria masih bisa bekerja kasar, wanita justru sebaliknya.

Pensiunan wanita lebih miskin daripada pensiunan pria

Sebagai konsekuensi dari berkurangnya pemasukan akibat berhenti bekerja, rata-rata wanita punya tabungan pensiun yang lebih sedikit dibandingkan pria. Berdasarkan data tahun 2009 di Amerika, pemasukan wanita usia 65 ke atas adalah US$15.282. Angka ini jauh lebih rendah daripada pria yang memperoleh US$25.877.

(Baca juga: Tips Tenang Secara Finansial di Usia Pensiun untuk Wanita Single)

Karena bekerja part time bukanlah solusi

Bekerja paruh waktu telah menjadi pilihan kompromi bagi banyak perempuan yang membatasi jam kerja dalam rangka agar bisa lebuh fokus mengurus keluarga. Masalahnya, pekerjaan paruh waktu umumnya tidak menawarkan rencana pensiun. Menurut Departemen Ketenagakerjaan AS, lebih dari 62 juta wanita pekerja di Amerika, lebih dari setengahnya atau 55 persen dari mereka tidak berpartisipasi dalam rencana pensiun di tempat kerja.

Tentang Penulis