Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

3 menit waktu bacaan

5 Alasan Psikologis Kenapa Kamu Selalu Ingin Makan

by Ariesta on 29 Maret, 2017

junk food _ asuransi kesehatan - CekAja.com

Kamu merasa terus menerus lapar padahal baru beberapa saat lalu makan? Kamu merasa sulit berkonsentrasi kalau mulut tidak mengunyah?

Perasaan terus menerus ingin makan menjadi musuh utama bagi orang yang sedang diet atau menjalani hidup sehat. Sama seperti anoreksia, gangguan selalu ingin makan atau yang disebut binge eating ini dapat berdampak buruk pada kesehatan. Perlindungan risiko kesehatan pun jadi penting.

Sayangnya gangguan selalu lapar ini tidak seterkenal anoreksia atau bulimia. Padahal, di Amerika saja binge eating diderita oleh 2% pria (hampir 3 juta) dan 5% wanita (hampir 5 juta) berdasarkan data yang dirilis oleh National Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders.

Gejalanya yang paling utama tentu saja susah mengontrol nafsu makan meski dalam keadaan tidak terlalu lapar. Kalau anoreskia dan bulimia disebabkan karena takut gemuk, maka binge eating juga disebabkan karena alasan psikologis. Penasaran?

Perfeksionis

Memang apa hubungannya perasaan selalu ingin makan dengan perfeksionis? Sekarang kita bahas dulu apa itu perfeksionis. Kamu mungkin seorang perfeksionis kalau hari ini punya target lari pagi lebih jauh dari kemarin, punya rencana detai yang harus berjalan sempurna, atau membuat presentasi tanpa kesalahan untuk bahan meeting. Adalah hal yang wajar memiliki keinginan untuk mengerjakan dan menghasilkan yang terbaik.

Bedanya, seorang perfeksionis punya standar sangat tinggi untuk diri sendiri dan tidak menolerir kegagalan. Ketika gagal atau kenyataan tidak sesuai harapan inilah, perfeksionis rentan menjadi binge eating. Menjadi jalan penghibur di kala sedih atau gagal.

Sensasi mengunyah, mencium aroma, atau mencicipi memang berdampak menenangkan bagi si perfeksionis. Namun efek jangka panjangnya menimbulkan perasaan besalah dan malu yang justru memperparah kondisi psikologis si perfeksionis.

Depresi

Depresi sangat erat dengan binge eating. Karena dengan makan, seseorang mendapatkan penawar atas kesedihan, kesendirian, ketakutan, dan kecemasan. Makanan bisa membuat perasaan-perasaan tersebut terobati secara sementara, sehingga orang dengan depresi menggunakan makanan sebagai jalan keluar.

Akhirnya setiap merasa depresi, orang tersebut akan makan dan ini jadi kebiasaan. Orang yang binge eating tidak bisa mengontrol diri sendiri, bermasalah dalam mengungkapkan perasaan, tidak puas, dan tidak percaya diri.

Perasaan terbaikan

Bagi banyak orang, makan menjadi jalan dalam mengatasi rasa sakit emosional. Kebiasaan makan terbentuk dari perasaan kurang kasih sayang, kurang dicintai, dan perasaan tidak dimengerti orang lain.

Bahkan pola seperti ini bisa terbentuk dari kecil ketika diabaikan orangtua, teman, atau orang di sekitar. Perasaan kekurangan cinta inilah yang kemudian memicu tindakan menyalahkan atau membenci diri sendiri yang kemudian berujung pada makan sebagai pelarian. Tak heran orang yang putus cinta awalnya mungkin malas makan, tapi ujung-ujungnya malah makan terus.

Perasaan ingin memberikan hadiah pada diri sendiri

Saat makan makanan manis, otak akan memerintahkan produksi dopamine, yakni hormon keesenangan. Perasaan inilah yang menyebabkan seseorang kecanduan makan.

Karena bisa memberikan kebahagiaan, makanan manis sering dijadikan ‘hadiah’ pada diri sendiri saat stres, cemas, atau setelah melalui masa yang berat seperti ujian. Saat stres berat karena pekerjaan, kamu malah makan kue berlebihan. Baru gajian, langsung makan sushi. Sedang bosan, masak mie instan. Makan dianggap kegiatan yang sangat menyenangkan dan kamu seakan tidak sadar.

Tekanan sosial dan budaya

Cantik itu langsing, cantik itu kurus, dan persepsi sosial budaya tentang cantik membuat orang menginginkan tubuh yang sempurna. Ketika pola diet ketat gagal dilakukan, akhirnya ‘balas dendam’ pun dilakukan dengan makan apapun yang diinginkan.

Tentu kamu sudah bisa menebak apa akibatnya kalau kebiasaan ini tetap dipelihara. Pola dietmu alias asupan kalori jadi tidak terkontrol. Obesitas menjadi ancaman utama.

Jangka panjangnya kamu rentan terkena penyakit seperti kolestrol dan jantung. Biaya-biaya pengobatan untuk penyakit ini tentu saja tidak murah. Makanya, sudahkah punya asuransi kesehatan?

Tentang Penulis

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami