Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami

3 menit waktu bacaan

5 Tanda Pasangan Anda Punya Masalah Keuangan

by JTO on 27 April, 2015

bebas utang KPR - CekAja.com

Artikel ini bisa jadi lebih cocok dibaca oleh pasangan yang telah menikah. Telah banyak penelitian yang telah membuktikannya, bagaimana perbedaan pendapat tentang masalah finansial akhirnya berbuntut perceraian. Namun, yang belum menikah pun boleh saja membaca artikel ini. Agar bisa mengetahui dan terbantu untuk lebih terbuka dengan pasangan sebelum melangkah ke sebuah hubungan yang lebih serius.

Sebuah hubungan perlu keterbukaan dan transparan tentang banyak hal. Apalagi, statusnya adalah menikah. Masalah finansial adalah salah satu poin penting yang wajib ditempatkan di posisi teratas untuk selalu memiliki diskusi. Pasalnya, Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kansas State University menempatkan masalah uang sebagai penyebab nomor wahid dalam perceraian rumah tangga. Diungkapkan pula, dibanding masalah lain pertengkaran karena masalah uang lebih banyak munculkan argumentasi dan menurunkan kepuasan hubungan. Cukup mengkhawatirkan, bukan?

Berikut adalah tanda-tanda yang bisa menggambarkan bila pasangan Anda memiliki masalah keuangan. Jadi, Anda bisa mengetahui masalah keuangan apa yang ada dan dialami pasangan.

Besar pasak daripada tiang

Semua orang tahu peribahasa untuk judul dalam poin ini. Namun, bukan artinya pasangan Anda harus membuktikan dan memraktikkan apa yang diartikan dalam peribahasa tersebut. Pertanyaannya, pernahkah Anda memperhatikan kebiasaan belanja yang dilakukan pasangan. Bahkan, menghitung berapa pengeluaran keuangan yang selalu dilakukan dibanding pendapatannya. Bisa jadi pasangan Anda miliki sifat impulsif berbelanja. (Baca juga: Beginilah Cara Uang Mempengaruhi Kehidupan Cinta)

Tidak punya tabungan alias kosong

Poin ini sudah membuktikan jika pasangan Anda memang bermasalah dengan pengaturan keuangannya. Idealnya, apapun alasannya setiap orang wajib menyisihkan 10% dari penghasilan yang dimilikinya untuk kegiatan menabung atau investasi. Alokasi ini pun tidak bisa diganggu gugat, terkecuali ada kondisi yang benar-benar darurat membutuhkan pengeluaran keuangan. Dengan kondisi itu pun, pemakluman bisa dilakukan, asalkan ada kejujuran.

Selalu bertengkar soal uang

Biasanya, pertengkaran ini terjadi karena kurang terbukanya pengelolaan keuangan serta tidak adanya rencana mengatur kebutuhan keuangan secara bersama. Masalah akan bertambah besar saat salah satu pasangan diketahui membeli sebuah barang kebutuhan yang cukup mahal tanpa berdiskusi terlebih dahulu. Salah satu pihak tidak dapat menempatkan antara kebutuhan dan keinginan, hingga berujung ke kebiasaan pemborosan.

Menganggap kartu kredit sebagai penghasilan tambahan

Poin ini juga berawal dari kebiasaan boros. Saat menggunakan kartu kredit, bahkan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak bisa dibeli, pasangan Anda tidak pernah berpikir apakah nantinya bisa membayar tagihan yang datang. Atau, karena uang tunai di dompet habis, kartu kredit selalu menjadi penggantinya. Seakan, limit kartu kredit adalah sesuatu hal manis yang harus dinikmati sampai habis. (Baca juga: Cara Mudah Mendapatkan Pinjaman Uang Tanpa Menjaminkan Barang Berharga)

Sering mengeluh saldo tidak cukup

Boleh saja sebenarnya jika keluhan ini disebabkan karena pasangan Anda memang sedang ingin berhemat dan hanya menyisakan sedikit uang di kartu atm-nya. Tapi buka artinya keluhan ini harus selalu diungkapkan setiap bulan, bahkan tanggal di kalender masih menunjukkan angka 15.

Mau beli hadiah rumah untuk pasangan dengan cara kredit, coba cek bunga KPR murah ini.

Tentang Penulis

Penulis dan jurnalis yang menetap di tanjung laut Batavia.