9 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, Mulai dari yang Unik sampai Sakral

6 menit membaca Oleh Kyla Damasha pada

Tradisi tahun baru Islam di Indonesia sejatinya berbeda-beda dari wilayah ke wilayah lainnya. Sebab, Indonesia yang notabene sebagai negara kepulauan memang memiliki segudang perbedaan yang tak bisa dihindarkan.

Berbeda wilayah, maka berbeda pula budaya atau tradisi yang dianut, termasuk dalam hal memperingati tahun baru Hijriah yang jatuh pada hari Kamis, 20 Agustus 2020. Lalu kira-kira, apa saja sih tradisi tahun baru Islam di Indonesia? Yuk kita simak bersama-sama.

Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia

Dilansir dari berbagai sumber, berikut beberapa tradisi tahun baru Islam dari berbagai daerah yang ada di Indonesia, sebagaimana berikut ini:

1. Yogyakarta – Mubeng Beteng

Tradisi tahun baru Islam di Indonesia yang akan kita bahas pertama berasal dari Yogyakarta, yang diberi nama Mubeng Beteng atau Lampah Mubeng.

Tradisi ini biasa dilakukan dengan para abdi dalem Punokawan, Keprajan, dan prajurit keraton yang mengeliling benteng keraton di malam hari dengan mengenakan pakaian adat Jawa peranakan, namun tanpa membawa keris dan tidak beralas kaki.

(Baca Juga: Rekomendasi Buku Filsafat Islam Terbaik)

Pada saat menjalani ritual, para peserta dilarang berbicara satu sama lain, dan hanya diperbolehkan untuk memanjatkan doa permohonan keselamatan lahir dan batin serta kesejahteraan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa.

Disisi lain, tradisi Mubeng Benteng ini juga dijadikan sebagai sarana evaluasi terhadap segala perbuatan di tahun lalu. Unik banget ya!

2. Solo – Kirab Kebo dan Pusaka

Tradisi tahun baru Islam di Indonesia selanjutnya berasal dari Solo. Sebagai salah satu kerajaan Islam, Kasunanan Surakarta hingga saat ini masih menyelenggarakan tradisi dalam rangka menyambut tahun baru di bulan Muharram, diantaranya adalah Kirab Kebo Bule Kyai Slamet dan Pusaka.

Bukan hanya sekedar tradisi, acara ini pun juga nyatanya mampu menarik antusias masyarakat lokal dan wisatawan yang tengah berkunjung.

Di dalam tradisi Kirab, benda pusaka peninggalan Dinasti Mataram, seperti tombak, keris, dan sebagainya, diarak sembari dikawal oleh Kebo Bule.

Sedangkan untuk Kebo bulenya itu sendiri, merupakan hewan kesayangan susuhunan (sunan). Tak hanya itu, kerbau juga dianggap sebagai lambang rakyat kecil, khususnya petani. Sehingga, hal ini diharapkan mampu memberikan kemakmuran untuk rakyat di tahun baru.

Bahkan pada saat menjalani tradisi, masyarakat juga berebut untuk menyentuh kotoran dari kerbau ini lho, karena dipercaya bisa membawa berkah.

3. Pati – Barik’an

Ada tradisi khusus yang dilestarikan oleh masyarakat Pati dalam menyambut Tahun Baru Islam hingga saat ini, yaitu adalah Barik’an.

Tradisi ini meliputi acara kenduri bersama, yang mana warga setempat akan membawa nasi serta lauk dari rumah untuk didoakan, sebagai bentuk rasa syukur atas berkah yang diberikan oleh Allah SWT sekaligus memohon keselamatan.

Nah, setelah memanjatkan doa, maka kegiatan dilanjutkan dengan menggelar makan bersama sembari saling bertukar lauk satu sama lain, guna meningkatkan kerukunan dan saling mengasihi antar warga. Sungguh kegiatan yang begitu hangat.

4. Bengkulu – Upacara Tabot

Tradisi tahun baru Islam di Indonesia selanjutnya berasal dari Bengkulu, yang mana sekaligus menjadi wadah untuk mengenang kepahlawanan dan kematian Husein bin Ali Abu Thalib, cucu dari Nabi Muhammad SAW, di medan perang Karbala, Irak.

Pada awalnya, upacara satu ini dibawa oleh penyebar agama Islam di Punjab, India, ke Indonesia ketika masa penjajahan Inggris.

Upacara Tabot mengandung 2 aspek, yaitu aspek ritual dan aspek non ritual. Nah, untuk aspek ritual, upacara hanya bisa dilakukan oleh keluarga dengan garis keturunan tertentu yang telah memenuhi sejumlah syarat tertentu juga. Sedangkan untuk aspek non ritual, kegiatan bisa diikuti oleh masyarakat umum dengan bebas.

Namun, masyarakat setempat percaya bahwa jika mereka tidak melakukan tradisi ini, maka musibah dan bencana akan datang.

Saat ini, upacara tabor menjadi festival khusus di bulan Muharram yang digelar oleh pemerintah Provinsi Bengkulu dengan dimeriahkan oleh berbagai perlombaan, mulai dari tari kreasi, rebana, hingga pukul gendang bagi anak-anak.

5. Jawa Barat – Tradisi Bubur Suro

Dalam rangka menyambut tahun baru Islam, masyarakat Jawa Barat memiliki sebuah tradisi yang diberi nama tradisi Bubur Suro. Serupa dengan Upacara Tabot di Bengkulu, tradisi Bubur Suro ini juga dilakukan guna memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad ketika perang.

Pada tanggal 10 Muharram, masyarakat setempat akan menyiapkan bubur merah dan bubur putih yang disajikan secara terpisah, atau yang dikenal sebagai bubur Suro ini.

Kemudian, bubur yang sudah jadi akan dibawa ke masjid terdekat bersamaan dengan hidangan lezat lainnya.

6. Garut – Pawai Obor

Tradisi tahun baru Islam di Indonesia selanjutnya berasal dari daerah Garut. Sesuai dengan namanya, setelah pelaksanaan sholat Isya hingga malam, warga Garut akan berkeliling di beberapa jalanan protokol sambil membawa obor.

Walaupun rute yang diambil cukup jauh, banyak masyarakat dari kalangan muda yang biasa antusias dalam mengikuti kegiatan.

Tak hanya itu, iringan sholawat yang turut didukung oleh suara tabuh bedug membuat pawai obor semakin meriah.

Setelah pawai selesai digelar, maka selanjutnya peserta akan mendengarkan ceramah dari ulama setempat di halaman Masjid Agung Garut.

7. Magetan – Ledug Suro

Di Magetan, dalam rangka menyambut tahun baru Islam, warga setempat akan mengadakan sebuah tradisi bernama Ngalub Berkah Bolu Rahayu, yang dipercaya dapat membawa rejeki.

Nah, Ledug Suro ini akan dilaksanakan satu minggu sebelum jatuhnya tahun baru Islam dan tahun baru Jawa.

Acara akan dimulai dengan lomba lesung bedug yang diikuti oleh masyarakat sekitar serta dimeriahkan dengan berbagai acara seru lainnya, seperti tari tradisional, jalak lawu, wayang kulit, reog, dan masih banyak lagi.

Setelah itu, acara akan diakhiri dengan kirab atau munculnya roti bolu berbentuk lesung dan bedug di tengah kota Magetan.

Bukan hanya sebagai tradisi biasa, Ledug Suro ini juga dilakukan sebagai bentuk syukur masyarakat setempat kepada Allah SWT atas berkah dan rejeki yang telah diberikan.

8. Sukabumi – Ngadulag

Tradisi tahun baru Islam di Indonesia selanjutnya berasal dari Sukabumi yang diberi nama Ngadulag. Bukan hanya dalam menyambut tahun baru Hijriah saja, tradisi ini juga sekaligus dimanfaatkan untuk melestarikan seni rampak bedug.

Karenanya, tradisi Ngadulag ini dapat pula diartikan sebagai lomba kesenian dalam menabuh bedug. Pada nantinya, lomba akan diikuti oleh masyarakat dari berbagai kecamatan di Sukabumi.

Nah, selain sebagai kegiatan yang positif, lomba bedug nyatanya juga dipilih karena merupakan salah satu kesenian yang bisa mencerminkan Islam.

Ketika lomba, masyarakat akan dibagi menjadi beberapa tim yang terdiri dari masing-masing orang dengan perannya, yaitu sebagai pemukul bedug, pemukul kohkol (kentongan), serta pemukul alat-alat tambahan lainnya. Para peserta yang menampilkan irama paling unik akan keluar menjadi pemenangnya.

9. Jawa – Ngumbah Keris

Tradisi tahun baru Islam di Indonesia yang akan kita bahas terakhir berasal dari Jawa, yaitu Ngumbah Keris atau mencuci keris.

Biasanya, tradisi ini hanya dilakukan di bulan-bulan suci dan dianggap sakral. Sementara itu, bulan Suro nyatanya dianggap sebagai bulan keramat yang dapat menambahkan kekuatan ghaib pada keris.

Hanya saja, tradisi tahun baru Islam di Indonesia satu ini justru mengundang banyak perdebatan dan kontroversi, yang berhubungan dengan manfaat mencuci keris itu sendiri.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga dianggap musyrik bagi bagi umat Islam karena terlihat seperti menuhankan keris dan mempercayai bahwa barang mati dalam memberikan kekuatan ghaib.

(Baca Juga: 21 Julukan Kota di Indonesia)

Jadi, itulah beberapa tradisi tahun baru Islam di Indonesia yang dianggap unik. Selain menjadi salah satu acara penyambutan, tradisi ini nyatanya juga mampu menarik minat para wisatawan lho, untuk bisa merasakan sensasi berbeda dari perayaan tahun baru Islam.

Nah, apakah kamu tertarik untuk bisa berkunjung ke daerah-daerah yang baru saja kita sebutkan di masa yang akan datang? Jika jawabannya iya, maka jangan lupa untuk segera mengajukan kartu kredit.

Sebab, hadirnya kartu kredit dinilai mampu memberikan kemudahan bagi para penggunanya dalam hal melakukan transaksi, terutama ketika traveling.

Tak hanya itu, banyaknya promo dan diskon yang ditawarkan oleh kartu kredit juga membuat pengeluaran selama perjalanan menjadi lebih hemat dan murah. Lalu, bagaimana jika belum punya kartu kredit?

Jangan khawatir! Karena CekAja.com hadir untuk membantumu. Bagi kamu yang masih bingung untuk menentukan kartu kredit manakah yang paling sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup, kamu bisa menggunakan fitur perbandingan yang ada di situs resmi CekAja.com.

Nah, setelah menemukan jenis kartu kredit yang diinginkan, baru deh kamu hanya tinggal mengklik tombol “Ajukan Sekarang”.

Seluruh proses pengajuan akan dilakukan secara online, sehingga kamu tidak perlu repot meluangkan waktu ke luar rumah, apalagi di tengah pandemi yang masih mewabah hingga saat ini.

Bahkan, setiap kartu kredit yang telah disetujui bisa langsung dikirimkan ke alamat yang kamu lampirkan di form pada saat membuat pengajuan lho.

Mudah banget kan! Jadi, tunggu apa lagi? Yuk segera ajukan kartu kreditmu hanya di CekAja.com.

Tentang kami

Kyla Damasha

Kyla Damasha