Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

6 menit waktu bacaan

Bagaimana Cara Mendapatkan Banyak Uang dan Kenapa Generasi Milenial Sulit Mendapatkan Uang?

by Ariesta on 27 Maret, 2017

penyebab kemiskinan - CekAja.com

Apakah kamu generasi milenial? Generasi milenial adalah istilah untuk menyebut generasi kelahiran tahun 1981-1994.

Ada juga yang menyebutkan kelahiran 1981-1997. Generasi milenial bukan semata karena rentang masa kelahiran, melainkan lebih lebih pada pola pikir dan gaya hidup yang banyak dipengaruhi teknologi digital.

Setiap generasi pastinya punya masalah finansial masing-masing. Meski sejak dulu, inti dari persoalan finansial pribadi tidak banyak berubah (jika dulu berutang pada tetangga, sekarang utang kartu kredit). Tapi jika melihat generasi orangtua kita, mungkin kamu yang generasi milenial sepakat kalau sekarang semakin serba sulit.

Misalnya jika dulu orangtua kita bisa membeli rumah secara tunai, sekarang rumah terasa sangat tidak terjangkau dan baru bisa dimiliki jika mencicil selama puluhan tahun. Ya, kalau mengutip lirik lagu Nicky Astria, kira-kira seperti ini masalah finansial generasi milenial:

Tiada bukan, tiada lain
mereka mencari cara tepat
untuk mendapatkan uang

Lagi-lagi uang!

Memang apa sih uang itu?

Mengenal Uang

Pada zaman dulu, orang menggunakan sistem barter jika ingin mendapatkan sesuatu. Beras ditukar dengan ayam. Sayuran ditukar dengan telur. Nilai dari sebuah benda ditentukan oleh dua pelaku barter berdasarkan kesepakatan bersama.

Namun lama-kelamaan, transaski barter ini dinilai rumit dan kurang adil. Orang-orang zaman dulu butuh metode untuk merepresentasikan nilai akurat dari suatu benda. Kemudian lahirlah uang.

Sekarang, uang mengandung nilai-nilai (kesatuan hitungan) yang sah dan dikeluarkan oleh pemerintah. Inilah yang disebut harga. Jadi kalau kamu ingin menghasilkan lebih banyak uang, makan kamu perlu memaksimalkan nilai dan harga.

(Baca Juga: Begini Cara Cepat Dapat Uang Jelang Libur Akhir Tahun)

Ya, sesederhana ini. Tapi tidak sesederhana kenyataannya.

Meski demkian, kamu generasi milenial yang punya kelebihan di usia muda dan badan yang masih fit untuk mencari rezeki harusnya tidak mudah menyerah. Apalagi di tengah teknologi maju yang makin memudahkan aktivitasmu. Lantas, strategi seperti apa sih yang bisa dilakukan untuk mendapatkan lebih banyak uang?

Memaksimalkan nilai (dengan cara memberikan lebih dari yang diharapkan)

Prinsip melakukan hal sesedikit atau seringan mungkin untuk mendapatkan keuntungan besar sebaiknya kamu buang jauh-jauh. Kakau kamu ingin mendapatkan banyak uang, maka kamu harus mulai dengan memaksimalkan nilai yang kamu berikan untuk orang yang membayarmu. Entah itu bos, klien, atau pelanggan, kamu harus fokus dalam memberikan yang terbaik dan lebih dari yang mereka harapkan.

Dengan memaksimalkan nilai yang kamu berikan, bosmu akan mengingat semua hal terbaik yang kamu kerjakan. Klienmu juga akan mengingatmu ketika kamu minta naik gaji dan sedang mencari rekomendasi.

Memaksimalkan hasil

Proses memang penting. Tapi di dunia kerja, proses yang tidak menghasilkan hasil tidak akan membuatmu sukses. Ketika kamu memaksimalkan nilai, belum tentu bos atau klienmu akan mengapresiasi.

Mungkin kamu menghabiskan 20 jam mendisain sesuatu yang tidak diminta. Tapi pada akhirnya, klien atau bosmu tidak akan melihat 20 jam yang kamu habiskan, mereka hanya akan melihat hasilnya. Untuk bisa memberikan hasil terbaik inilah kamu harus mengasah keahlianmu. Jangan kira setelah masuk di dunia pekerjaan artinya kamu berhenti belajar. Setelah bekerja, justru kamu harus belajar lebih banyak untuk menghadapi ujian kehidupan.

Memaksimalkan efisiensi

Waktu adalah uang. Pepatah ini pasti sudah sering kamu dengar. Kalau kamu ingin kariermu semakin maju, maka kamu harus semakin efisien dalam bekerja.

Misalnya jika saat pertama kali membuat website kamu butuh waktu hingga dua hari, tapi setelah dua tahun kamu hanya butuh satu hari dengan hasil yang sama bagusnya. Semakin terasah keahlianmu, mestinya semakin cepat kamu mengerjakan sesuatu.

Memaksimalkan harga

Kalau kamu selalu menganggap harga skill-mu rendah, niscaya kamu susah kaya. Jangan heran jika ada karyawan baru yang gajinya dua kali lipat di atasmu padahal jabatannya sama denganmu. Karena mungkin dia memang pasang harga tinggi, sedangkan kamu?

Tapi tentu saja, nilai yang kamu berikan juga harus sepadan. Begitu juga dalam bisnis. Kalau kamu menjual cilok bikinanmu seharga Rp80.000 sedangkan cilok lainnya hanya Rp10.000, kamu harus bisa membuktikan kalau cilok bikinanmu punya kelebihan.

Beramal

Coba tengok, mayoritas orang suskes dan terkaya di dunia memberikan uang yang mereka dapatkan pada orang membutuhkan. Mereka berpikir, semakin banyak uang yang dihasilkan, makan semakin besar pula tanggung jawab untuk ‘mengembalikannya’. Sebut saja Bill Gates dan istrinya Melinda, Warren Buffet, J.K. Rowling, belum lagi sederetan aktor dan aktris Hollywood yang sepertinya mudah saja memberikan jutaan dollat untuk amal.

Percayalah perbuatan baik yang kamu lakukan pasti akan kembali padamu. Tidak hanya itu saja, beramal bisa mempertemukanmu dengan orang sukses dan baik lainnya!

Nah, cara-cara mendapatkan lebih banyak uang sudah dibahas. Tapi kenapa sih, generasi milenial masih saja sulit dapat uang?

  • Pekerjaan makin sulit didapat

Sekarang ini, sebenarnya jenis profesi semakin beragam. Jika dulu kita bercita-cita jadi dokter, pilot, atau arsitek, sekarang kita bisa menjadi web developer, content writer, social media specialist, atau business creative.

Tapi kenapa pekerjaan tetap sulit didapatkan? Jawabannya ada banyak faktor. Bisa jadi latar belakang ilmu tidak sesuai dengan pekerjaan yang di lamar. Misalnya kamu berkuliah di fakultas peternakan, tapi melamar sebagai staff IT.

Di tengah persaingan yang makin ketat, perusahaan cenderung menyeleksi orang-orang yang latar belakang keilmuannya sesuai yang dibutuhkan. Tapi bukan berarti kamu yang kuliah jurusan A tidak bisa mendapat pekerjaan B. Kuncinya ada pada dirimu sendiri. Kalau CV-mu oke dan memang punya skill yang dibutuhkan, kamu juga bisa mendapat pekerjaan yang diinginkan.

  • Persaingan ketat dan angka pengangguran tinggi

Sebenarnya poin ini tidak berbeda dengan poin sebelumnya. Sekedar informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2016 mencapai 7,02 juta orang atau 5,5 persen. Jumlah ini hampir menyamai penduduk negara Austria!

Bayangkan dalam setahun, ada berapa banyak lulusan perguruan tinggi, sekolah tinggi, dan SMA yang mencari pekerjaan. Sedangkan lahan pekerjaan tidak sepadan.

Di sinilah dibutuhkan entrepreneur-entrepreneur muda yang tidak hanya bisa menggaji diri sendiri, tapi juga membuka lahan pekerjaan bagi orang lain.

Bahkan yang bergaji Rp4 juta saja termasuk dalam masyarakat berpenghasilan rendah. Lalu apa kabar yang bergaji 1-3 juta? Tapi begitulah kenyataannya. Ditambah lagi pertumbuhan gaji tidak selaras dengan inflasi. Makanya kita selalu merasa harga-harga makin mencekik.

Kalau cicilan rumah Rp300 juta saja bisa mencapi Rp3 juta untuk tenor 15 tahun, tak heran kalau Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sendiri menyebutkan bahwa generasi muda Indonesia semakin kesulitan membeli rumah.

  • Banyak godaan

Di mana biasanya generasi milenial menghabiskan akhir pekan? Di bioskop, mal, kafe, atau restoran yang sedang ngehits? Ya, jika dibandingkan generasi orangtua kita dulu, generasi milenial menghadapi lebih banyak godaan.

Niatnya hanya lihat-lihat, tapi akhirnya belanja karena ada SALE. Belum lagi pakai kartu kredit hanya untuk gaya-gayaan tanpa paham kalau justru bisa berhemat banyak dengan memanfaatkan kartu kredit.

Nah, generasi milenial, strategi finansial apa yang kamu miliki supaya masa depanmu lebih sejahtera?

Tentang Penulis