Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Please, Jangan Gunakan Pinjol untuk 5 Hal Ini

by Sindhi Aderianti on 6 November, 2019

Pinjaman online atau lebih populer disebut pinjol merupakan salah satu bentuk kredit yang kini marak disediakan oleh beberapa perusahaan fintech. Lebih mudah daripada harus mengajukannya langung ke bank, dengan pinjol kamu bisa mengajukannya lewat situs website atau aplikasi mobile.

Kepopuleran pinjol ini tak lepas dari beragam kemudahan yang ditawarkannya. Selain tanpa jaminan, calon debitur juga hanya perlu berbekal KTP (Kartu Tanda Penduduk), memiliki rekening tabungan, dan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) saja. Lalu dalam waktu 1-3 hari, dana langsung cair.

Dengan kemudahan tersebut, pinjol sebaiknya digunakan dengan lebih bijak. Contoh, untuk kebutuhan darurat seperti biaya operasi atau sekolah anak. Namun seiring berjalannya waktu, fasilitas pinjol kini justru banyak digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.

Agar pinjol tidak menjadi utang bertumpuk yang akhirnya menyusahkanmu, hindari menggunakannya untuk 5 hal di bawah ini ya. Bisa ambyar nanti!

1. DP rumah atau kendaraan

Rumah dan kendaraan pribadi memang kebutuhan primer yang mau tak mau harus dimiliki. Ketika akan mengajukan dua jenis kredit ini ke bank atau pihak leasing, kamu biasanya diwajibkan untuk membayar uang muka sebagai tanda jadi. Tapi apakah bijak jika membayarkan uang muka (DP) tersebut dengan dana pinjol? Jelas tidak.

Saat kamu mengambil kredit, tentu ada cicilan yang harus dibayar per bulannnya. Jika ditambah mengambil pinjol pribadi sebagai DP, maka jumlah dana yang harus dikeluarkan untuk membayar cicilan bertambah.

(Baca juga: Awas Tertipu Pinjol Ilegal, Ini Sederet Ciri-cirinya!)

Beban utang sebanyak ini tentu akan sangat beresiko untukmu. Risikonya jika tak bisa membayar, cukup ngeri. Kamu bisa kehilangan rumah atau mobil tersebut.

2. Kebutuhan sehari-hari

Uniknya lagi, ada orang yang mengajukan pinjol untuk memenuhi keperluan kebutuhan harian mereka. Mulai dari belanja dapur, ongkos transportasi ke kantor, membayar sewa rumah, membayar listrik, hingga tagihan telepon. Hal ini sebaiknya jangan pernah sekali pun dilakukan.

Sebab untuk membayar kebutuhan harian tersebut, harusnya kamu sudah punya pos dana yang bersumber dari penghasilan bulanan atau gaji. Dahulukan kebutuhan pokok yang harus dibayar duluan, seperti membayar listrik, terakhir baru urusan konsumsi.

Jika masih ada sisa, barulah kamu bisa menggunakannya untuk kebutuhan lain.

3. Liburan

Suntuk kerja? Liburan bareng teman atau keluarga memang jadi solusi terbaik. Untuk berlibur ke tempat impian, tentu butuh dana yang tidak sedikit.

Tapi, jangan lantas mengandalkan dana pinjol. Bahkan sejumlah perencana keuangan berprinsip jangan berutang untuk liburan. Sebab bukannya refreshing, yang ada nanti malah kepikiran utang. Kuncinya adalah dana untuk keperluan berlibur ini harus dianggarkan di depan, bukan dibayar belakangan.

(Baca juga: 3 Solusi OJK Jika Tak Mampu Bayar Utang Pinjol Ilegal)

Jadi lebih baik, menabung lah dari 3-6 bulan sebelum hari H keberangkatan. Sisihkan perlahan untuk transport, bulan selanjutnya akomodasi, terakhir biaya lain-lain seperti tiket masuk tempat wisata dan budget konsumsi selama liburan.

Agar momentum liburan kamu bersama keluarga lebih nyaman dan menyenangkan, lindungi diri dengan asuransi perjalanan yang bisa kamu pilih sesuai kebutuhan lewat CekAja.com ya.

Widget TRV Insurance

4. Shopping

Retail teraphy alias belanja memang sangat menyenangkan. Namun, tidak jika menggunakan dana pinjol. Coba saja bayangkan setelah puas shopping baju, sepatu, atau tas branded yang kamu inginkan demi prestise, nantinya harus membayar cicilan utang.

Alih-alih gaya, kamu malah dipusingkan oleh utang konsumtif tersebut. Bahkan mungkin jumlahnya mendekati penghasilan sendiri. Terapkan prinsp jadul kalau mau sesuatu, cukup menabung terlebih dulu.

Pokoknya, no ngutang ngutang club untuk sesuatu yang sifatnya tidak urgent seperti ini ya.

5. Bayar tagihan kartu kredit

Menggunakan pinjol untuk membayar tagihan kartu kredit sama halnya dengan gali lubang tutup lubang. Cara ini sangat tidak disarankan oleh pakar keuangan karena pada dasarnya kamu akan tetap memiliki utang yang harus dibayar kelak. Tagihan kartu kredit yang menumpuk bisa saja terbayar lunas, tapi tagihan utang pinjol juga menanti.

Solusi lain untuk melunasi tagihan ini adalah mengajukan keringanan pembayaran lewat sistem cicilan. Beberapa bank sudah memiliki layanan tersebut dengan tenor sampai 24 bulan.

Oleh karenanya lain kali, pergunakan kartu kredit dengan bijak dan cerdas. Ingatlah bahwa persentasi utang yang ideal maksimalnya hanya 30 persen dari penghasilan.

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.