Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Strategi Ajukan KPR Rp 1 miliar Bagi Kamu Berpenghasilan Kurang dari Rp 10 Juta

by Arfan Wiraguna on 29 Oktober, 2015

ajukan kredit rumah_KPR - CekAja.com

Naiknya harga properti pada tahun-tahun belakangan ini tak menyurutkan minat konsumen untuk memiliki rumah idaman yang menjadi dambaan setiap keluarga. Bagi masyarakat Indonesia, kemudahan untuk memiliki rumah pada hari-hari ini bukanlah hal sulit, sebab sudah banyak tersedia fasilitas keuangan yang dapat membantu mewujudkan keinginan itu. Salah satunya dengan memanfaatkan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) melalui perbankan.

Produk KPR termasuk dalam tipe kredit jangka panjang yang pelunasannya dilakukan dalam setidaknya 15 tahun hingga 20 tahun. Oleh karenanya, KPR memerlukan komitmen jangka panjang juga dan persiapan yang matang.

Namun, sebelum mengajukan permohonan KPR, ada banyak hal yang harus dicermati sehingga keputusan untuk memanfaatkan fasilitas KPR merupakan keputusan tepat yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial kita.

Survei Terlebih Dahulu

Sebagai langkah awal, pertama-tama kita perlu melakukan survei harga pasaran rumah dan membandingkannya dengan kemampuan finansial jangka panjang sebelum menentukan pilihan. Selain itu, ukuran rumah yang besar atau kecil, lokasinya di pusat atau pinggir kota, kondisinya baru atau bekas, juga perlu kita pertimbangkan.

(Baca juga: 5 Alasan Kenapa Kamu Masih Sulit Membeli Rumah di Usia 30-an)

Setelah memperoleh gambaran tentang harga pasaran rumah yang tepat, kita bisa mulai melakukan survei produk KPR yang ditawarkan perbankan. Dengan demikian, kita dapat mengetahui jumlah dana yang perlu dipersiapkan untuk mengakses fasilitas KPR, yang terdiri dari uang muka dan cicilan serta bunga.

Dalam memilih produk KPR yang tepat, sebaiknya kita mencermati beberapa hal, antara lain reputasi institusi penyedia KPR, fasilitas suku bunga, manfaat-manfaat layanan dan bantuan yang ditawarkan ketika KPR berjalan, seperti ada atau tidaknya penalti jika dilakukan pelunasan lebih awal, biaya administrasi, dan lainnya.

Siapkan Uang Muka

Di sisi lain, kita juga perlu menyiapkan dana dan komitmen yang kuat, mengingat masa tenor umumnya berlangsung belasan hingga puluhan tahun. Dana awal yang perlu disiapkan sebagai uang muka (down payment/DP) adalah sebesar 20 hingga 30 persen dari harga rumah dan sisanya dicicil selama masa tenor.

Inilah poin yang biasanya banyak membuat orang gentar mengajukan kredit properti. Karena harga rumah yang terus melambung, maka semakin besar pula uang muka yang dibutuhkan untuk mengajukannya. Namun, kita tak bisa lari dari kenyataan. Sebab, kredit pemilikan rumah memang uang muka.

(Baca juga: Cara Mudah Siapkan Uang Muka KPR)

Secara mudah, biasanya bank akan memberikan kita plafon kredit maksimal sebesar 70% dari nilai properti yang ingin dibeli. Terlebih, sejak September 2013, Bank Indonesia memperketat KPR melalui regulasi rasio pinjaman terhadap aset (loan to value/LTV) dan pelarangan KPR inden.

Artinya, dengan persentase tersebut kita butuh menyiapkan uang muka sebesar 30% dari harga properti yang ingin kita beli atau sekitar Rp 300 juta jika properti yang ingin kita beli seharga Rp 1 miliar.

Mulai Investasi untuk DP

Daripada membiarkan uang tabungan “tergeletak” di rekening begitu saja, cobalah untuk mulai berinvestasi dari sekarang. Dengan begitu, uang tabungan tersebut bisa bertumbuh lebih cepat. Jika berpenghasilan Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan, kita bisa berinvestasi di reksa dana atau jenis pasar uang lainnya, bila jangka waktu kebutuhan penggunaan dananya dalam jangka pendek, misalnya dalam satu tahun ke depan. Sementara jika kita ingin kemapanan arus kas atau cash flow, tidak ada salahnya untuk memilih investasi jangka sedang dan panjang, seperti reksa dana pendapatan tetap atau campuran.

(Baca juga: Langkah Jitu Ajukan KPR untuk Pasangan Muda)

Dengan begitu, misalnya investasi itu dapat memberikan tingkat pengembalian sebesar delapan kali lipat selama lima tahun dan dana awal yang kita masukkan adalah sebesar Rp 37,5 juta, maka kita akan mendapatkan hasil sebesar Rp 300 juta—jumlah yang cukup untuk DP. Asumsinya, kita sudah menabung terlebih dahulu sebesar Rp 3,13 juta per bulan selama setahun, sebelum kita melakukan investasi tersebut.

Perhatikan Cicilannya


Baru setelah itu, kita perlu memerhatikan suku bunga, jenis bunganya, biaya provisi dan administrasi, serta biaya penalti apabila pelunasan dipercepat. Jika kamu termasuk kaum muda yang baru bekerja, penghasilan kamu tentu masih bisa terus meningkat sesuai dengan peningkatan karir.

(Baca juga: 4 Rambu Sebelum Ajukan KPR Pertama Kali)

Oleh karena itu, pilihlah masa tenor yang sesuai dengan kondisi keuangan saat ini dan prediksi di masa depan. Pilihan tenor di perbankan ada banyak ragam, mulai dari 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun, 25 tahun, hingga 30 tahun. Beragam pilihan tenor kredit ini merupakan cara perbankan untuk bisa menjangkau berbagai kelas calon debitur, karena kondisi kocek setiap orang yang berbeda-beda.

Misalnya, tawaran KPR bank A dengan bunga 10% per tahun. Memakai simulasi KPR, untuk pembelian rumah seharga Rp 1 miliar dengan DP sebesar Rp 300 juta, maka total pinjaman kita adalah sebesar Rp 700 juta. Dengan demikian, jumlah cicilan per bulannya menjadi sekitar Rp 6 juta. Itu jika kita memilih tenor KPR 30 tahun.

Sebagai catatan, kita tak perlu memaksakan diri mengambil tenor lebih pendek untuk mengejar biaya bunga lebih murah. Dengan memilih tenor sesuai kemampuan, arus kas kita juga masih menyisakan cukup dana untuk biaya kebutuhan sehari-hari, kebutuhan proteksi, dan juga berinvestasi lain. (FAN)

Tentang Penulis

Writer & Coffe Lover - Finansial dan ekonomi adalah makanan sehari-hari.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami