Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

6 Fakta IFW 2020 dengan Tema Magnificent Borneo

by Anes Saputra on 19 Februari, 2020

Industri fesyen Indonesia, terutama busana muslim memang makin meningkat setiap tahunnya. Tidak heran, gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) akan kembali digelar pada tahun ini.

Berikut adalah 6 fakta menarik pelaksanaan IFW tahun ini, yang perlu kamu ketahui:

1. Mengangkat Budaya Dayak

Perhelatan IFW 2020 merupakan yang kesembilan, dan rencananya akan digelar pada 1-5 April 2020 di Jakarta Convention Center (JCC). Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) kembali memilih Kalimantan sebagai sumber inspirasi persembahan ke mata dunia.

Tales of the Equator” – Treasure of the Magnificent Borneo menjadi tema pilihan APPMI, khususnya untuk mengangkat budaya suku Dayak, Kutai, dan Banjar yang dimiliki oleh Kalimantan.

2. Perancang Indonesia dan Internasional

Sebagian dari koleksi para perancang yang akan tampil di IFW 2020 antara lain, Warwick Purser, Poppy Dharsono, Naniek Rachmat, Misan Kopaka, Julie Kaimuddin, Hattaco by Rani Hatta, Wahyo Abraham, Merah Chumaero, Ida Royani, Dana Duriyatna, Vini Alya Hapsari, Katherine Sumanto, dan Aam Hamada.

Selain dari dalam negeri, berbagai perancang busana dari mancanegara juga sudah memastikan komitmennya untuk dalam IFW 2020; seperti Bianca Lami (Italia), Tiziano Guardini (Italia), Jaroslaba Wurll (Slovakia), Chourouk Bennani (Tunisia), Hama Hinnawi (Jordan), Marcela Alvarez & Claudia Trujillo (Colombia), Cristina Chiriac (Romania), Mac Taug (Filipina), ReZa Shah (Malaysia), Bernard Chandran (Malaysia), May Myat Waso (Myanmar), Yone Yone (Myanmar), Carlos Vigil (Peru), Dilnoza Erkinova (Uzbekistan), Gulruh Erkinova (Uzbekiztan), dan Maftuna Murodkobilova (Uzbekistan).

(Baca juga: Bangga! Batik Indonesia di Luar Negeri Sangat Diapresiasi)

Keikutsertaan para desainer asing ini diharapkan dapat memberi inspirasi baru bagi para desainer muda tanah air. Selain perancang busana, tamu internasional lainnya yang akan ikut berjalan sebagai model dalam upacara penutupan dari IFW 2020 adalah cucu dari Ferdinand de Lesseps, pembangun terusan Suez, yakni Alexandre de Lesseps.

Tema yang diangkat merupakan komitmen nyata APPMI untuk mendukung kemajuan dan pengembangan promosi khasanah kekayaan budaya Indonesia. Kalimantan adalah wilayah yang budayanya sangat kaya, seolah tak pernah habis untuk dijadikan inspirasi industri fesyen.

Pada perhelatan ini, akan ditampilkan beragam jenis fesyen dari ready to wear, conventional, kontemporer, hingga modest fashion akan ditransformasikan oleh para desainer ke dalam karya-karya yang tetap mempertahankan budaya dan menyematkan sentuhan identitas modern. Hal ini juga dilakukan untuk melindiungi budaya dan sejarah Indonesia bisa semakin meningkat dan berkembang.

3. Pemberdayaan perempuan Dayak

Selain industri fesyen, semangat para perempuan Dayak siap terefleksi lewat sederet produk aksesori fesyen. Pemberdayaan para perempuan Dayak ini dinilai perlu, lantaran menganyam, termasuk menganyam rotan, sebenarnya sudah jadi budaya turun-temurun.

Pelestarian ini mesti didorong dengan turut serta menaikkan taraf hidup, di samping perempuan Dayak, juga para petani rotan lokal, lewat perputaran ekonomi.

Pemberdayaan ini setidaknya sudah dilakukans selama 1,5 tahun dari kerja sama dengan 20 artisan dari satu desa menjadi 110 artisan di lima desa. Karya khas dari tangan perempuan dayak ini akan tercermin dari berbagai produk seperti tas, topi, dan gelang khas Kalimantan.

4. Mendukung gerakan Sustainable Fashion

APPMI bekerja sama dengan Indonesia Global Compact Network (IGCN) yang merupakan aliansi dari United Nations akan mengampanyekan gerakan ramah lingkungan yang kini juga menjadi salah satu komitmen industri fesyen di Tanah Air.

Busana yang diperagakan nantinya akan berkonsep hijau (ramah lingkungan) dan minim limbah. Pasalnya, selama ini industri fesyen disebut menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar (produksi dalam jumlah besar dan cepat).

5. APPMI cari desainer muda Berbakat

Dalam rangkaian IFW 2020, APPMI juga akan menggelar Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC). Kompetisi ini bertujuan untuk mencari bibit-bibit baru yang berbakat dalam dunia desain fesyen. Setiap tahunnya, IYFDC bekerja sama dengan Accademia di Alta Moda Koefia yang memberikan beasiswa studi satu tahun di Roma untuk pemenang IYFDC.

(Baca juga: Industri Fesyen: Bahan Kulit dan Motif Polkadot Kembali Jadi Tren Tahun 2020)

Tahun ini, APPMI gandeng para desainer muda berbakat dan berpengaruh di industri fesyen untuk menjadi juri dalam ajang pencarian desainer muda terbesar di Indonesia ini. Diantaranya; Ayla Dimitri (Fashion Influencer), Bimo Permadi (Fashion Stylist & Managing Editor of Her World) dan Aam Hamada (Sustainable Fashion Designer dari APPMI). Harapannya APPMI dapat menjaring lebih banyak lagi perancang-perancang muda yang berbakat yang dapat dikembangkan menjadi pengusana fesyen di tanah air dan juga mancanegara.

6. Aplikasi IFW

Untuk mengakomodir kebutuhan generasi muda masa kini, IFW 2020 juga akan menambah fitur-fitur baru dalam aplikasi IFW yang dapat diunduh pengguna Android maupun iOS. Dalam aplikasi ini nantinya pengunjung dapat mengakses jadwal show, tiket, denah booth, dokumentasi acara, dan informasi lain terkait IFW 2020.

Berencana datang ke IFW 2020 untuk menambah referensi tren berbusana tahun ini? Siap-siap berburu tiketnya yang biasanya dijual terbatas ya. Manfaatkan berbagai penawaran dan diskon dari  kartu kredit Citibank untuk membeli tiket IFW 2020 ya.

Pilih dan ajukan kartu kredit Citibank sesuai kebutuhan kamu lewat CekAja.com, sekarang juga! Prosesnya cepat, syaratnya mudah. Tunggu apa lagi? 

Tentang Penulis

Anes Saputra

Artikulasi Sinekdoke