Apa Itu Budaya Hustle Culture? Waspada Para Workaholic!

“Keep hustling!” Sering kali kita mendengar ajakan itu, namun sebenarnya apa itu budaya hustle culture? Apakah penting untuk diadopsi semua pekerja di Indonesia? Simak yuk!

Apa Itu Budaya Hustle Culture? Waspada Para Workaholic!

Apa itu budaya hustle culture? Bisa dibilang hustle culture adalah suatu budaya yang merupakan strategi agar bisa mencapai tujuan serta kesuksesan dengan lebih cepat.

Namun perusahaan menuntut pekerja untuk mendorong diri agar bisa melewati batas tanpa memperhatikan termasuk kesehatan karyawannya itu sendiri.

Biasanya tujuan ini dipengaruhi oleh visi dan misi bisnis mulai dari tujuan kekayaan kapitalis kemakmuran sampai kesuksesan.

Namun budaya hustle culture ini bisa mempunyai dampak yang cukup serius terhadap kinerja perusahaan dari karyawannya.

Apa Itu Budaya Hustle Culture

Apa Itu budaya hustle culture? Hustle culture sendiri dilihat dari pengertian menurut Oxford Learners Dictionary adalah dorongan agar seseorang bisa bertindak dengan lebih cepat dan agresif.

Sederhananya apa itu budaya hustle culture adalah budaya agar orang bisa bekerja efektif dan efisien dengan memaksimalkan seluruh potensinya.

Hustle culture juga sering didefinisikan sebagai budaya agar bisa mendorong karyawan atau pekerja dan buruh untuk bekerja melebihi waktu normal. 

Bahkan pekerja tetap memikirkan pekerjaan walaupun sedang berada pada waktu istirahat atau luang di akhir pekan.

Budaya ini memberikan tuntutan kepada karyawan untuk bisa menyelesaikan pekerjaan dengan target yang tepat dan menyesuaikan dengan ritme bekerja serba cepat.

Orang atau karyawan yang sudah terjebak dalam budaya ini nyaris tidak mempunyai waktu istirahat. Budaya hustle culture telah ada sejak tahun 1970an yang malah semakin menggila sejak munculnya internet.

Hal ini didukung dengan aktivitas internet yang mempermudah komunikasi seperti menggunakan email atau adminitrasi digital.

(Baca Juga: 7 Tips Mengatur Keuangan untuk Karyawan)

Urusan kantor yang dulu hanya bisa disampaikan lewat tatap muka kini bisa dikirimkan kapan saja dan di mana saja, bahkan di luar waktu kerja.

Pekerjaan yang harusnya bisa dikerjakan saat working hours malah didelegasikan lewat ­e-mail atau pesan singkat lewat dari waktu yang ditentukan.

Namun dengan perkembangan start-up yang didominasi oleh kaum milenial justru mendorong budaya hustle culture semakin lazim.

Mulai dari CEO hingga influencer, banyak yang menekankan pentingnya hustling dalam bekerja untuk mencapai target karier yang diinginkan dalam waktu cepat.

Hal ini menyebabkan banyak pekerja, terutama fresh graduate terdorong untuk mendorong kapasitas kerjanya hingga batas akhir mengikuti tren hustle culture agar sesuai dengan ekspektasi dunia kerja.

Baik untuk meningkatkan gaji, memulai bisnis sendiri, hingga mempercepat kenaikan karier, pekerja muda berlomba-lomba mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bekerja.

Dampak Hustle Culture

Walaupun mempunyai dampak yang baik untuk pencapaian tujuan perusahaan, namun hustle culture mempunyai dampak yang cukup parah untuk para karyawannya.

Dalam mengenal apa itu budaya hustle culture, mengetahui dampak buruk budaya ini cukup penting. Bahkan bisa mengakibatkan burnout sampai depresi. Simak berikut ini beberapa dampak hustle culture!

1. Meningkatkan Risiko Penyakit

Menurut penelitian orang yang bekerja dengan lebih dari 50 jam dalam satu minggu berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular atau serebrovaskular.

Hustle culture ternyata mampu meningkatkan risiko penyakit fatal seperti serangan jantung atau jantung koroner.

Jam kerja yang terlalu panjang akan menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah serta detak jantung. Hal tersebut diakibatkan oleh aktivasi psikologis berlebihan sampai mengakibatkan stress.

Selain itu kerja lembur juga akan berkontribusi pada resistensi insulin, hiperkoagulasi, aritmia, iskemia dan lain sebagainya.

Postur tubuh pun dapat berubah karena terlalu lama bekerja, terutama untuk pekerjaan yang mengharuskan karyawan untuk duduk di depan komputer selama lebih dari 8 jam sehari.

Mulai dari sakit punggung, mata, hingga Carpal Tunnel Syndrome (CTS), penyakit ini tidak bisa diremehkan juga terutama untuk kaum muda.

2. Meningkatkan Gangguan Mental

Bekerja yang terlalu keras tanpa istirahat sama sekali juga dapat mengakibatkan gangguan pada kesehatan mental.

Masalah yang sering dialami biasanya seperti gangguan kecemasan, gejala depresi, sampai timbulnya pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Paksaan terhadap diri yang dilakukan secara terus menerus untuk mencapai kesuksesan akan membuat tubuh menjadi lebih lelah dan mengalami tingkat stress yang tinggi.

Ketika gejala stress tersebut terus berlanjut maka akan membuat tubuh melepaskan hormon stress.

Salah satu cara untuk mengurangi kadar hormon stress atau kortisol tersebut adalah dengan melakukan istirahat yang cukup dan sepenuhnya antara tubuh dan pikiran.

Inilah pentingnya mengetahui apa itu hustle culture agar kita dapat menghindari tekanan yang terlalu tinggi untuk Kesehatan mental.

3. Kehilangan Work Life Balance

Work-life balance merupakan kondisi di mana karier serta kehidupan pribadi mengalami keseimbangan.

Keseimbangan ini dapat dicapai apabila karier kita mengalami peningkatan dibarengi dengan kehidupan personal yang terus berkembang dan bahagia.

Sayangnya, hustle culture menyebabkan banyak karyawan yang justru merasa bersalah apabila mengambil waktu istirahat dan memprioritaskan kepentingan personal.

Salah satu solusi cara menyeimbangkan kehidupan pekerjaan yang dapat menyita waktu adalah menghabiskan waktu bersama teman dan/atau keluarga.

Kehidupan sosial yang baik akan mempengaruhi kebahagiaan yang dapat memberikan keseimbangan pada hidup dan pekerjaan.

Selain itu, keseimbangan yang baik juga bisa didapatkan dari melakukan sosialisasi yang baik untuk meningkatkan kehidupan yang lebih positif dan kreatif.

Maka dari itu bekerja keras memang baik namun harus menghasilkan energi yang positif dan menghindari terjadinya belenggu pada diri yang mungkin disebut hustle culture.

(Baca Juga: Pinjaman Karyawan Cicilan Ringan Tanpa Jaminan)

Itulah beberapa dampak dari budaya hustle yang sedang marak di sosial media. Penting bagi pekerja untuk mengenal apa itu budaya hustle culture dan mengetahui batasan kemampuan diri sendiri.

Budaya ini bisa membuat anda sangat produktif tapi juga dapat menimbulkan dampak yang tidak sehat pula.

Tiap orang tidak perlu memaksakan produktivitasnya dengan standar orang lain. Cukup tekuni profesimu sesuai kadarnya dan sisihkan waktu untuk hobi dan keluarga.

Jika kamu termasuk pegiat hustle culture, pastikan hasil jerih payahmu tersimpan aman di dalam rekening tabungan pilihan.

Pilih tabungan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansialmu agar segera terwujud masa depan yang mapan.

CekAja.com dapat membantumu memilih tabungan yang paling cocok dengan membandingkan produk tabungan dari berbagai bank sesuai dengan kondisi keuanganmu.

Selain itu, kamu juga dapat ajukan tabungan secara online di CekAja.com. Prosesnya cepat dan mudah, tinggal upload dokumen yang dibutuhkan.

Tidak hanya itu, apply tabungan online di CekAja juga dijamin aman karena sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga datamu terjamin keamanannya.

Tunggu apalagi? Langsung klik di bawah ini untuk dapatkan sejuta keuntungan dari buka rekening tabungan di CekAja.com!