Apa Sih Pengertian Pinjaman Peer To Peer? Ini Penjelasannya

7 min. membaca Oleh Maria Nofianti on

Apakah kamu sedang membutuhkan uang tetapi tidak memilikinya? Tentu ini akan menjadi satu masalah dalam hidup anda, dan akan sangat tidak mengenakkan jika berada dalam kondisi seperti ini. Tapi apalah daya, masalah keuangan memang sudah menjadi hal wajar yang dialami manusia. Khususnya manusia usia dewasa.

pengertian pinjaman peer to peer

Ada beberapa cara yang biasa dilakukan untuk mengatasinya. Misalnya saja dengan memanfaatkan kepemilikan Kartu kredit, ini adalah bentuk pinjaman jangka pendek yang paling umum dilakukan sekarang ini, tetapi seringkali terbilang cukup mahal.

Dengan kepemilikan kartu kredit, Bank juga dapat menawarkan pinjaman pribadi tanpa jaminan, tetapi ini lebih sulit untuk didapatkan.

Mereka dapat membutuhkan kredit yang lebih baik, ada banyak jenis dan macam dokumen yang seringkali memerlukan hubungan dengan institusi, dan umumnya diarahkan pada pinjaman bernilai tinggi karena ada jaminannya.

(Baca Juga: Penipuan Pinjaman KTA Yang Menggoda)

Saat ini, ada lagi jenis pinjaman peer to peer, pinjaman jenis peer to peer ini adalah pinjaman alternatif yang mulai populer untuk mengambil pinjaman ke perorangan daripada meminjam dari bank.

Sebagian besar pinjaman peer to peer adalah pinjaman pribadi, yang dapat digunakan peminjam untuk berbagai keperluan mulai dari pelunasan utang hingga perbaikan rumah, atau pinjaman usaha kecil.

Pinjaman peer to peer bekerja secara berbeda dengan pinjaman bank, dan ini lebih sederhana daripada mendapatkan pinjaman dari bank atau credit union.

Ketika kamu mendapatkan pinjaman dari bank, bank akan menggunakan sebagian asetnya, yang merupakan simpanan yang dibuat oleh pelanggan lain, untuk mendanai pinjaman tersebut.

Dengan pinjaman peer to peer, peminjam dicocokkan langsung dengan investor melalui platform pinjaman. Investor dapat melihat dan memilih pinjaman mana yang mereka inginkan.

Pinjaman peer to peer umumnya pinjaman pribadi atau pinjaman usaha kecil. Peer to peer lending juga disebut pinjaman orang ke orang atau pinjaman sosial, dan perusahaan yang memberikan pinjaman peer to peer umumnya disebut pemberi pinjaman peer to peer atau pemberi pinjaman pasar.

Jadi sederhananya, pengertian pinjaman peer to peer adalah pinjaman yang mempertemukan langsung antara peminjam dengan pemberi pinjaman tanpa menggunakan perantara dan sistem ini berbasis teknologi informasi.

Pinjaman model ini sudah mulai marak di Indonesia sekarang ini. Ini juga termasuk pinjaman online karena semua prosesnya dilakukan dengan cara online.

Untuk menjembatani mereka maka ada platform perusahaan fintech. Siapa saja bisa menjadi peminjam maupun pemberi pinjaman jika memenuhi syarat yang ditentukan. Syarat yang harus kamu penuhi bila kamu akan menjadi peminjam antara lain:

  • Warga Negara Indonesia
  • Menyiapkan dokumen identitas pribadi (KTP/KK/akta nikah dll)
  • Menyiapkan aset yang bisa dijaminkan
  • Minimal berusia 21 tahun dan maksimal 65 tahun
  • Memiliki penghasilan sendiri
  • Sudah menikah

Selain menjadi peminjam kamu juga bisa menjadi pemberi pinjaman loh. Untuk ini kamu tidak memerlukan modal yang jumlahnya sangat besar. Syarat-syarat agar kamu bisa menjadi pemberi pinjaman antara lain:

  • Warga Negara Indonesia
  • Minimal usia 21 tahun
  • Mempunyai pekerjaan dan penghasilan pasti
  • Memiliki sumber pendanaan yang pasti dan jelas nominalnya.

Nah jika kamu sudah paham pengertian pinjaman peer to peer ini dengan baik dan kamu disini berperan sebagai pemberi pinjaman, maka kamu akan mendapatkan banyak keuntungan seperti:

1. Hasilnya lebih besar

Seperti yang dilakukan oleh bank, jika memberikan pinjaman, maka bank akan mendapat keuntungan dari bunga yang diberikan.

Begitu juga dengan pinjaman peer to peer ini. Jika kamu sebagai pemberi pinjaman, maka hasil keuntungan ini lebih besar daripada kamu harus menabung dulu. Ini bisa menjadi salah satu cara kamu yang ingin mulai berinvestasi.

2. Alternative inventaris

Ini adalah sebuah inventaris yang bagus selain saham dan surat berharga. Bahkan kamu akan terkejut dengan hasilnya.

Sebagai pemberi pinjaman peer to peer, maka kamu bisa memakai ini sebagai sebuah inventaris yang bisa digunakan sewaktu-waktu.

3. Proses online

Jaman sekarang melakukan transaksi secara online disebut sebagai sebuah keuntungan. Ini juga mempersingkat kerja proses peminjaman. Dengan syarat yang cukup mudah pinjaman peer to peer lebih menarik daripada pinjaman ke bank.

4. Pengawasan online

Kamu akan bisa mengawasi pinjaman kamu dengan memakai fasilitas yang diberikan oleh perusahaan fintech. Tidak untuk menakuti peminjam, namun ini lebih sebagai untuk berjaga-jaga saja.

Karena kita tentu saja akan ada rasa khawatir jika berinvestasi kan, nah fasilitas untuk mengawasi ini menjadi satu cara membangun kepercayaan.

5. Beragamnya jenis pinjaman

Pada beberapa platform atau fintech akan membuat kamu bisa meluncurkan banyak jenis pinjaman yang akan kamu berikan nantinya. Biasanya kamu bisa merubah produk pinjaman dengan jumlah pinjaman terendah mungkin.

Ya, menyesuaikan saja dengan kebutuhan peminjam, setidaknya ini menjadi satu cara agar bisa membantu sesama.

6. Modal kecil

Biasanya pinjaman peer to peer bukanlah pinjaman dengan nilai yang sangat besar dan dalam jangka waktu lama. Ini adalah pinjaman dengan nominal yang cukup rendah.

Maka dari itu kamu sebagai pemberi pinjaman tidak akan terlalu berat untuk menyediakan modalnya. Sangat tepat untuk kamu yang memiliki kelebihan uang dan bingung mau diapakan.

Pinjaman peer to peer sering disebut dengan P2P. Karena ini dilakukan secara online dan kemungkinan rawan akan pelanggaran maka OJK selaku pengawas dan pengatur pinjaman telah memberikan aturan mengenai pinjaman P2P.

OJK mengatakan, bahwa Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi seperti ini disebut dengan pinjaman peer to peer.

Banyak pemberi pinjaman akan membiarkan kamu memeriksa nilai pinjaman dan mendaftar secara online. Biasanya, mendaftar hanya akan memakan waktu beberapa menit.

Setiap pemberi pinjaman akan memiliki persyaratan yang berbeda. Untuk pinjaman pribadi, ini akan membutuhkan skor kredit kamu, rasio utang terhadap pendapatan, gaji, status pekerjaan dan riwayat kredit.

Untuk pinjaman bisnis, ini termasuk waktu kamu dalam skor kredit bisnis, pribadi dan bisnis, rasio cakupan layanan utang, pendapatan, dan keuntungan kamu.

Namun, sebagian besar pemberi pinjaman hanya akan memberikan pinjaman kepada peminjam yang berusia setidaknya 18 tahun dan tinggal di negara yang mereka layani. Kamu juga akan memerlukan rekening bank yang dapat diverifikasi dan kartu identitas yang berlaku.

Sedangkan untuk pihak yang akan meminjam secara umum, kamu harus memberikan informasi pribadi kepada kreditur, seperti nama, alamat, tanggal lahir, nomor telepon, dan alamat emailmu.

Untuk pinjaman pribadi, kamu juga perlu memberikan informasi tentang pembayaran perumahan atau hutang kamu, utang luar biasa lainnya, status pekerjaan dan gaji, riwayat pendidikan, dan perincian tentang pinjaman yang kamu cari.

Kamu mungkin diminta untuk memverifikasi beberapa informasi ini melalui fotokopi KTP, formulir pembayaran atau formulir W-2.

Untuk pinjaman bisnis, kamu harus memberikan informasi tentang keuangan bisnismu dan kamu mungkin diminta untuk menyerahkan dokumentasi seperti pengembalian pajak, neraca, dan laporan laba rugi.

Setelah kamu mengajukan aplikasi, pemberi pinjaman dapat memberimu berbagai tawaran pinjaman. Jika kamu memilih salah satu dari penawaran ini, umumnya kamu harus mengirimkan cek kredit keras, yang dapat memengaruhi skor kredit kamu.

Kebanyakan pemberi pinjaman peer to peer cepat memberimu keputusan pinjaman, baik pada hari yang sama atau dalam beberapa hari.

Pendanaan juga cepat, dengan sebagian besar peminjam menerima dana dalam dua hingga 14 hari.

(Baca Juga: Pinjaman Online yang Aman dan Bagaimana Cara Memilihnya)

Keberadaan peer to peer memang lebih memudahkan, dan jelas ini membutuhkan pengawasan lebih dari Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.

Nah, merespon tingginya inovasi teknologi fintech saat ini yang serba cepat, OJK pun banyak mengeluarkan peraturan baru yang meregulasi pinjaman peer to peer.

Karena cepatnya perubahan yang ada, peraturan ini memiliki banyak perbedaan dari peraturan fintech peer to peer yang sebelumnya sudah ada.

Dengan banyaknya fintech yang memberikan layanan pinjaman peer to peer ini, memang bisa dilihat sebagai kemajuan dalam bertransaksi menggunakan teknologi.

Namun selalu ada efek negatif dari semua hal. Beberapa efek negatif akibat tingginya pertumbuhan fintech ini adalah mulai banyak bermunculan fintech yang ilegal yang akan merugikan masyarakat dengan menerapkan bunga yang tinggi, tidak terbuka masalah nilai pinjaman, memakai cara penagihan di luar aturan yang berlaku serta tidak mengikuti aturan-aturan dari OJK.

Selain itu, penting untuk fintech terpercaya adalah memiliki kantor sendiri, bukan kantor virtual saja. Karena memang trend bisnis digital adalah menggunakan kantor virtual.

Ketentuan pinjaman peer to peer yang mengatur Fintech memang cepat sekali berubah dan ini sangat dinamis. Karena itu, penting mengamati apa peraturan terbaru yang paling update.

Berbagai aturan telah dibuat OJK untuk menjaga para nasabah dari kenakalan perusahaan fintech ini. Peraturan dari OJK ini dibuat agar masyarakat terhindar dari usaha penipuan.

Misalkan saja sekarang sebuah fintech harus memiliki sebuah kantor yang layak dan tidak boleh memakai virtual office. Perusahaan fintech yang menyelenggarakan P2P ini juga wajib membuka virtual account dan escrow account di bank di wilayah Indonesia.

Demi menghindari suatu keadaan yang tidak di inginkan oleh peminjam maka kamu sebagai peminjam harus paham dulu pengertian pinjaman peer to peer, bagaimana sistem kerjanya dan bagaimana mendaftarnya sebagai peminjam.

Di Indonesia ada banyak contoh fintech pinjaman peer to peer antara lain Investree.id, Danamas, Kimo, Amartha, UangTeman, KreditPintar, Dompet Kilat, dan Akseleran.

Dengan melakukan pinjaman ke fintech tersebut maka pinjaman kamu aman dan terpercaya. Selain itu kamu juga bisa meminta informasi secara langsung dengan menghubungi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang beralamatkan di Gedung Soemitro Djojohadikusumo, Jalan Lapangan Banteng Timur 2-4, Jakarta 10710, Indonesia.

Nomor telepon OJK: (021) 2960 0000 (021) 385 8321, atau via email OJK: humas@ojk.go.id. Atau kamu juga bisa mengunjungi kantor perwakilan OJK yang ada di kota kamu.

Karena, konsumen dan masyarakat dapat menyampaikan permintaan informasi atau pengaduan kepada OJK secara langsung dan mudah.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu dalam mengetahui pengertian pinjaman peer to peer, baik kamu yang akan menjadi peminjam, atau kamu yang tertarik menjadi pemilik uang untuk memberikan pinjaman.

Untuk mendapatkan pinjaman yang aman ajukan hanya di Cekaja.com.

Tentang kami

Maria Nofianti

Maria Nofianti