Keamanan Gesek Tunai pada Kartu Kredit

6 min. membaca Oleh Teti Purwanti on

Semenjak 2017, Bank Indonesia (BI) menegaskan larangan dilakukannya penggesekan ganda (double swipe) dalam setiap transaksi non tunai. Pelarangan itu bertujuan untuk melindungi masyarakat dari pencurian data dan informasi kartu kredit dan debit. Hal itu dilakukan agar masyarakat ikut ambil bagian dalam menghindari praktik penggesekan ganda dengan senantiasa menjaga kehati-hatian dalam transaksi nontunai, dan tidak mengizinkan pedagang melakukan penggesekan ganda.

Keamanan Gesek Tunai pada Kartu Kredit

Gesek tunai sendiri adalah praktik menggesek kartu kredit ke mesin yang dimiliki oleh toko untuk mendapatkan uang tunai. Gesek tunai sering dilakukan oleh para pemilik kartu kredit yang tidak memiliki dana cukup di rekening tabungan mereka. Mereka melakukan kebiasaan ini sebagai cara pintas untuk mendapatkan uang tunai.

Padahal gesek tunai sangatlah beresiko, misalnya penggunaan kartu kredit hingga limit dan digunakan untuk hal-hal berbau konsumtif yang akan menyebabkan gagal bayar. Dibandingkan gesek tunai, lebih baik ke ATM dan mengambil dana tunai, meskipun dengan kartu kredit, penarikan dana tunai dari ATM juga akan dikenai dana yang tidak sedikit.

Kartu kredit dan debit memang menyimpan banyak manfaat dalam transaksi keuangan serta data-data penting di dalamnya. Hal inilah yang sering mengundang niat jahil dari pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab. Termasuk para pelaku cyber crime yang banyak beraksi di dunia maya. Untuk menghindari penyalahgunaan data akibat double swipe banyak hal yang bisa dilakukan.

Tersegel Rapi saat Pertama Kali Diterima

Meski saat ini jasa kurir tengah menjamur dengan beragam pilihan, pastikan kurir yang mengirim barang adalah pihak bank yang juga akan memastikan kartu tersebut masih tersegel rapi. Baik dari bagian amplop maupun di dalamnya.

Biasanya kartu baru yang dikirim memiliki pengamanan rangkap, termasuk cara aktivasinya untuk pertama kali. Akan sangat baik, kalau kurir bisa memberikan kepada nama seperti yang tertera di amplop. Namun, kalaupun tidak pastikan orang tersebut adalah keluarga dekat yang tidak akan berani membuka amplop tanpa seizin kamu.

Saat sudah berada di tangan kamu, pastikan simpan di tempat yang aman dan agar tidak hilang atau disalah gunakan. Sebaiknya tempatkan kartu kredit/debit di dompet yang sering dibawa bepergian ke mana pun. Kalau di rumah, pastikan juga dompet ini tidak terjangkau oleh anak-anak dan digunakan untuk main. Apalagi kalau kartu tersebut memiliki gambar yang lucu, biasanya anak-anak ingin tahu dan memainkannya.

Rahasiakan Informasi Pribadi

Biasanya kartu yang diterima belum aktif, segera aktifkan kartu tersebut dan ganti pinnya dengan angka-angka yang mudah diingat. Namun, jangan gunakan tanggal lahir, baik diri sendiri ataupun keluarga dekat yang mudah ditebak.

PIN tersebut adalah informasi penting yang kerahasiaanya sangat penting untuk dijaga. Sebaiknya, kartu PIN diubah secara berkala seperti yang selalu disarankan saat datang ke ATM terdekat. Sayangnya, hal ini jarang dilakukan banyak orang, apalagi kalau orang tersebut tipe pelupa.

Meski sangat tidak disarankan untuk mencatat nomor PIN, namun tidak ada salahnya menyimpan nomor tersebut yang berjarak dengan kartu. Selalu rahasiakan nomor PIN ini baik dari keluarga dekat apalagi orang yang tidak begitu dikenal.

(Baca Juga: Daftar Situs dan Tata Cara Apply Kartu Kredit Online)

Jangan pula memberikan fotokopian gambar kartu kredit, meski biasanya ada instansi tertentu yang mengatakan hal tersebut dilakukan untuk kepentingan tertentu. Demi keamanan, jangan lakukan hal tersebut satu kalipun. Bank tidak pernah menyarankan atau memerlukan fotokopi kartu debit dan kredit difotokopi sebagai bagian dari administrasi.

Di kartu kredit, selain PIN dan nomor kartu ada pula cardholder verification (CVV) yang tidak kalah penting. CVV merupakan tiga atau empat digit kode keamanan rahasia yang disematkan di balik kartu. CCV biasanya adalah nomor otorisasi manual untuk kartu supaya bisa melakukan transaksi. Untuk lebih amannya, tutup juga tiga angka CVV itu dengan kertas atau stiker sehingga tidak mudah diketahui orang lain. Rahasiakan pula nama gadis ibu kandung dan masa berlaku kartu, karena kalau sampai hal itu disebar sangat mungkin kartu kredit disalahgunakan.

Sudah Menggunakan Teknologi Chip

Sebagai alat pembayaran, kartu debit maupun kartu kredit digunakan pada mesin EDC yang pada umumnya menerapkan PIN sebagai otorisasi. Saat ini sebagian besar kartu debit sudah mengimplementasikan penggunaan PIN yang dikombinasikan dengan teknologi chip untuk menjamin keamanan kartu nasabah.Hal ini juga dilakukan perbankan untuk memberikan jaminan, kalau mereka memproteksi setiap transaksi yang dilakukan nasabah.

Namun tidak semua bank memiliki jaringan EDC kartu debit sehingga mereka mengandalkan jaringan EDC kartu kredit. Karena itu penggunaannya dilakukan dengan menggesekkan kartu dan menggunakan tanda tangan sebagai otorisasi untuk mengesahkan transaksi seperti layaknya kartu kredit.

Di antara kedua jenis otorisasi tersebut, teknologi PIN dipandang lebih aman daripada tanda tangan. Maklum saja, selama pemegang kartu tidak memberitahukan kepada orang lain, hanya dia sendirilah yang tahu nomor PIN kartunya. Jika otorisasi penerbit kartu debit masih menggunakan tanda tangan, pastikan tanda tangan sama seperti yang dibubuhkan pada identitas resmi di KTP, SIM, paspor, dan lain-lain.

Pastikan Hanya Sekali Gesek

Kalau di luar negeri, mereka yang belanja dengan kartu kredit diwajibkan menggesek sendiri kartu mereka.Sayangnya, regulasi tersebut belum digunakan di Indonesia. Oleh sebab itu, pastikan kasir menggesek kartu kredit/kartu debit satu kali untuk setiap transaksi.

Buka hanya soal tagihan yang akan membludak kalau digesek lebih dari sekali, hal ini juga dilakukan agar mencegah terjadinya pencurian data. Setelah transaksi selesai, pastikan staf merchant mengembalikan kartu kredit/debit. Akan lebih baik kalau sambil kasir melakukan apapun itu dengan kartu kredit, ada dalam pengawasan kamu sebagai pemilik kartu.

Simpan Bukti Transaksi

Selain menyimpan bukti dari kasir, ada baiknya juga kalau bukti pembayaran masuk ke email selama tiga bulan terakhir. Slip tersebut sangat berguna untuk memastikan kebenaran tagihan bank penerbit kartu kredit.

Saat tagihan bulanan datang pada akhir siklus, cocokkan isinya dengan slip transaksi, termasuk jika ada tagihan atas penggunaan kartu suplemen. Bila terdapat perbedaan atau kesalahan nilai tagihan dan jenis barang yang dibeli, laporkan segera sesuai kurun waktu yang diberikan oleh bank penerbit kartu. Jangan tunda-tunda karena bank dan penerbit kartu tidak akan melayani pengaduan lewat 45 hari sejak tanggal tagihan.

Kalau setelah 45 hari sejak tanggal tagihan ternyata tidak ada pengaduan, penerbit kartu kredit akan menganggap tagihan telah sesuai dan wajib dibayar oleh nasabah. Seharusnya hal ini, hari-hari ini sangat mudah dilakukan, meski tidak dicetak, cobalah buat arsip dari email-email verifikasi saat kamu berbelanja.

Aman Transaksi Online

Saat ini baik pria maupun wanita kerap kali berbelanja online. Apalagi kalau memiliki kartu kredit, hasrat belanja tentu akan makin naik. Hanya saja, apakah orang-orang sudah paham mengenai aturan yang baik dan benar soal bagaimana bertransaksi online yang aman.

Oleh karena itu, jangan menyimpan data situs belanja dan e-commerce apalagi kalau gawai yang digunakan bukan milik pribadi, entah itu laptop, PC, maupun ponsel. Kalau kamu menggunakan milik orang lain, kemungkinan pencurian data sangat mungkin terjadi.

Fasilitas 3D Secure juga menjadi hal penting dalam keamanan bertransaksi online. Hal ini sangat penting karena bisa akan mengamankan kartu dari tangan-tangan jahil dan mengurangi kemungkinan terjadi fraud. Belanjalah di toko online yang memiliki teknologi One Time Password (OTP).

Dengan demikian, setiap transaksi online, akan membutuhkan verifikasi lebih lanjut dalam bentuk pin yang dikirimkan melalui telepon seluler. Adapun, saat ini, hampir seluruh bank besar yang merupakan penerbit kartu kredit saat ini juga sudah memiliki teknologi tersebut.

Push Email dan Aplikasi Mobile

Jadikan push email atau aplikasi mobile sebagai pengingat belanjaan yang kamu beli. Notifikasi ini adalah untuk memberitahukan atas terjadinya suatu transaksi pada kartu. Bila tidak merasa melakukan transaksi tersebut, bisa segera menelpon contact center agar dibatalkan. Agar bisa melakukan push email, kamu bisa ke cabang bank terdekat dan memperbaharui data, yang juga tidak kalah penting agar kamu selalu terlindungi.

Adapun aplikasi mobile ini sangat penting untuk menjaga keamanan kartu kredit/kartu debit. Biasanya aplikasi mobile memiliki fitur yang mudah. Antara lain memblokir kartu jika hilang, mengganti PIN transaksi, dan lain-lain. Hanya saja kelemahannya adalah diperlukan perhatian terhadap gawai kamu. Jangan sampai ponsel tersebut hilang atau disalahgunakan oleh orang lain.

Tentang kami

Teti Purwanti

Teti Purwanti