Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Mau Anak Pintar Bahasa Asing? Ajarkan Sejak Usia Nol!

by Teti Purwanti on 6 Mei, 2019

Golden age atau usia emas dimulai sejak si buah hati di usia nol hingga enam tahun. Pada masa itu merupakan masa kritis untuk si anak, karena baik atau tidak masa depannya sudah bisa “digambar” sejak saat itu.

tabungan pendidikan anak _ investasi - CekAja.com

Ya, saat sang buah hati memasuki usia emas, pembentukan sistem syaraf sudah terbentuk dan terkoneksi melalui sel saraf. Nah jumlah dan juga kualitas koneksi itulah yang menentukan tingkat kecerdasan buah hati kamu.

Atau bisa dibilang bahwa usia emas merupakan basis dan juga landasan dari segala aspek perkembangan anak nantinya. Berharap agar si anak memiliki kemampuan lebih, segala macam pengalaman dan juga ketrampilan diberikan ke si anak, termasuk didalamnya bahasa.

Orang Indonesia memiliki bahasa nasional Bahasa Indonesia dan bahasa ibu yang biasanya bahasa daerah si orang tua. Alih-alih mengajarkan bahasa daerah pada si kecil, orang tua masa kini gemar mengajari bahasa asing kepada si kecil, terutama Bahasa Inggris.

Meski begitu, ternyata mengajarkan lebih dari satu bahasa pada si kecil memiliki berbagai dampak kepada si kecil, baik positif maupun negatif. Apa saja sih dampaknya? Berikut daftarnya!

(Baca juga: Orang Tua Wajib Tahu Pentingnya Imunisasi Bagi Anak)
1. Memudahkan si kecil bersosialisasi

Sering kali orang tua merasa ragu untuk mengajarkan lebih dari satu bahasa kepada si kecil. Keraguan itu disebabkan karena adanya kekhawatiran jika terlalu banyak memberikan ketrampilan bisa membuat si kecil kebingungan.

Bahkan efek yang lebih serius seperti keterlambatan bicara hingga masalah bersosialisasi juga menjadi momok bagi orang tua untuk memberikan ketrampilan seperti bahasa asing kepada anak.

Namun hal itu hanya ketakutan semata, nyatanya berdasarkan penelitian, anak yang sejak dini dikenalkan lebih dari satu bahasa akan meleburkan bahasa tersebut alias code mixing. Hal itu bukanlah hal buruk bagi tumbuh kembangnya anak, malahan itu merupakan fase dari proses belajar untuk menguasai bahasa.

Kelak saat si kecil sudah terbiasa multilingual, maka kemampuan untuk beradaptasi juga akan semakin baik. Jadi adanya pandangan tentang anak yang bisa menguasai banyak bahasa memiliki kesulitan melakukan interaksi sosial adalah salah.

2. Dapat mendukung kognitif anak

Pernah mendengar anak-anak dengan bahasa yang tercampur antara Indonesia dan Inggris dalam satu kalimat? Kadang kita merasa itu hal keren padahal sebenarnya tidak keren sama sekali.

Mencampuradukkan bahasa seperti ini akan mengacaukan cara berpikir anak yang dapat memengaruhi masalah intelektualnya. Karena itulah harus dilakukan dengan cara yang tepat.

Sebab berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terbukti bahwa penerapan multilingual dalam jangka panjang pada usia emas dapat mempengaruhi pembentukan struktur dan fungsi otak.

Salah satu dampak positifnya adalah mendukung fungsi kognitif anak, seperti kemampuan yang lebih baik dalam menghafal dan mengingat, memahami dan konsentrasi, hingga kemampuan untuk menganalisa, pembentukan konsep, kemampuan verbal dan fleksibilitas berpikir.

Namun, untuk sampai ke tujuan tersebut orangtua butuh waktu dan cara yang tepat agar sesuai dengan tahap perkembangan dan kondisi masing-masing anak. Orangtua harus paham benar tujuan utama dari mengenalkan bahasa asing tersebut dan mempraktikkannya secara konsisten, sehingga anak dan orangtua dapat sama-sama memperoleh manfaatnya.

Pemahaman yang baik oleh orangtua dan diterima dengan baik oleh si kecil akan membuat upaya ini menjadi waktu berkualitas untuk meningkatkan ikatan antara orangtua dan si kecil. Selain itu, bisa juga untuk memperbanyak kata yang dihapalkan oleh si kecil.

Lebih jauh, si kecil dan orang tua bisa saling belajar dan menambah banyak kata dalam berbagai bahasa.

(Baca juga: Jangan Salah Pilih, Begini Tips Mencari Sekolah Terbaik Untuk Anak)
3. Kebingungan budaya

Selain dampak positif, belajar bahasa asing ternyata memiliki dampak negatif. Misalnya kalau orang tua terlalu memaksa untuk si kecil menghapal bahasa asing yang sulit dimengerti.

Apalagi para ahli menyebutkan kalau anak idealnya belajar bahasa asing pada usia enam atau tujuh tahun. Selain itu, dengan belajar lebih dari satu bahasa, si kecil akan sulit mengenal budaya aslinya.

Apalagi kalau si kecil jadi lebih suka dengan bahasa asing dibandingkan dengan bahasa ibunya. Kebingungan budaya sangat mungkin terjadi karena tidak bisa dipungkiri bahasa merupakan satu diantara sekian banyak komponen budaya.

Saat si kecil kesulitan dengan bahasanya dia juga tentu akan sulit memahami akar budayanya. Ada baiknya, terutama ibu memilih bahasa asing yang nilai-nilai budayanya juga ibu mengerti. Apalagi Indonesia menjunjung tinggi budaya timur.

Untuk mengurangi dampak ini, orangtua bisa membacakan cerita tentang budaya Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik pula agar si kecil paham bahasa dan budayanya.

Orangtua juga harus konsisten untuk mengasah bahasa yang dipelajari si kecil. Sebab bahasa juga bisa dilupakan jika tidak diasah dan dipraktikan.

Setelah tahu dampak positif dan negatif, pertimbangkanlah secara matang sebelum mengajarkan lebih dari satu bahasa pada buah hati kamu.

Selain itu kamu juga bisa memperlihatkan tayangan-tayangan anak yang menggunakan bahasa asing. Hal itu dimaksudkan untuk merangsang sel saraf anak.

Manfaatkan kartu kredit untuk dapat membeli tayangan yang diinginkan dan dapatkan promo menarik. Kamu belum punya? Ajukan di CekAja.com

Tentang Penulis

Ibu penuh waktu. Penulis setengah waktu. Jurnalis di sisa waktu.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami