Fetish: Pengertian, Penyebab dan Gejalanya yang Harus Diwaspadai

7 min membaca Oleh Nadhillah Kusindriani on

Kata fetish belakangan ini kembali terdengar dan ramai diperbincangkan. Berawal dari kasus pelecehan seksual, yang belum lama ini dilakukan oleh seorang mahasiswa, yang menjadi pelaku fetish jarik dan aksinya dibongkar oleh salah seorang korbannya di media sosial Twitter.

Setelah diusut selama beberapa waktu, akhirnya pelaku secara resmi dikeluarkan dari universitas tempat ia menuntut ilmu, lalu kemudian ditangkap oleh pihak kepolisian setempat di kampung halamannya, yaitu di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Sebenarnya, kasus pelecehan seksual ini bukan kasus yang baru terjadi pertama kali dan tersebar di media sosial.

Sebelumnya pun pasti sudah ada beberapa kasus fetish lainnya, yang mungkin tidak tersorot media dan korbannya tidak berani untuk buka suara.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apa itu fetish yang sebenarnya? Lalu apa saja penyebab dan gejalanya? Jika sebuah penyakit, apakah perilaku penyimpangan seksual ini bisa diobati?

Untuk mengetahui jawaban dari semua pertanyaan tersebut, pada kesempatan kali ini CekAja.com akan mengulasnya secara lengkap khusus untuk kamu. Yuk, simak bersama-sama!

Apa Itu Fetish?

Jika melihat definisinya, fetish merupakan sebuah kesenangan atau ketertarikan seksual, terhadap benda-benda dan bagian tubuh yang umumnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang seksual, ditambah dengan gangguan klinis yang terjadi secara signifikan.

Singkatnya, perilaku penyimpangan seksual jenis ini, merupakan salah satu bentuk dari paraphilia, karena seseorang dapat “terangsang” dengan benda-benda atau bagian-bagian tubuh non-seksual.

Sementara, seseorang seharusnya akan “terangsang” dengan bagian-bagian tubuh seksual, seperti alat kelamin dan payudara (bagi wanita).

Selain dengan bagian tubuh seksual, seseorang juga umumnya akan “terangsang” dengan benda-benda yang berkaitan dengan hubungan seksual, seperti misalnya sex toys, lingerie, pakaian dalam dan lain sebagainya.

Berbeda bagi orang yang memiliki gangguan fetish, sebab mereka lebih tertarik dan “terangsang” dengan benda-benda atau bagian tubuh non-seksual.

Bagian tubuh non-seksual tersebut seperti ketiak, telapak kaki, lengan, pusar, jempol kaki, sepatu, rambut, pasangan yang obesitas, tato dan lainnya.

Perilaku penyimpangan seksual ini, pada dasarnya dapat terjadi pada siapa saja, namun kenyataannya lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Tidak hanya itu, orang yang memiliki perilaku menyimpang ini biasanya membutuhkan objek yang bisa dilihat, untuk memainkan fantasi seksualnya terhadap objek tersebut, hingga mencapai kepuasan seksual yang maksimal.

(Baca Juga: Ajarkan Pendidikan Seks Kepada Anak)

Penyebab Timbulnya Fetish

Jika berbicara tentang penyebab, sebenarnya hingga kini belum diketahui penyebab pasti dari fetish itu sendiri.

Namun, sejumlah ahli menilai bahwa perilaku penyimpangan seksual ini terjadi dan berkembang, seiring dengan pengalaman yang terjadi di masa kecil. Tepatnya, ketika suatu objek dikaitkan dengan bentuk gairah seksual yang kuat.

Seperti misalnya, ketika seseorang di masa lalunya pernah melihat orang lain menunjukkan perilaku seks yang menyimpang, maka apa yang ia lihat tersebut terekam hingga orang tersebut beranjak dewasa.

Selain itu, perilaku menyimpang juga dapat terjadi pada seseorang karena beberapa faktor lainnya, seperti orang tersebut pada masa kecilnya pernah menjadi korban pelecehan seksual, atau bahkan pengalaman seksual yang terjadi saat masa pubertas remaja.

Tetapi apabila seseorang pada masa pubertas remaja pernah mengenal objek non-seksual yang menyenangkan, bisa jadi orang tersebut akan langsung mengaitkannya dengan fantasi seksual, yang kemudian berlanjut menjadi sebuah kebutuhan seiring berjalannya waktu.

Pada beberapa kasus juga ditemukan, bahwa perilaku penyimpangan seksual ini juga dapat terjadi akibat dari rasa ragu seorang laki-laki terhadap maskulinitasnya, atau bahkan rasa takut mendapatkan penolakan dan penghinaan dari lawan jenis.

Gejala Fetish

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 (DSM-5), seperti yang dilansir pada kompas.com, bahwa perilaku penyimpangan seksual yang satu ini umumnya dapat diketahui.

Adapun tandanya bisa dilihat, apabila seseorang selalu merasa ketergantungan dengan benda-benda mati, atau bahkan bagian tubuh non-seksual tertentu untuk mencapai gairah seksual.

Menariknya, fetish pun ternyata terbagi dalam beberapa kategori, yaitu kategori ringan dan kategori akut.

Untuk kategori ringan sendiri, seseorang biasanya tetap bisa berhubungan seksual dengan orang lain, hanya saja orang lain tersebut harus memiliki atau menggunakan objek fetish-nya, seperti misalnya kaos kaki.

Sementara untuk kategori akut, umumnya orang tersebut tidak membutuhkan adanya hubungan seksual, karena hasrat atau gairahnya bisa terpenuhi hanya dengan menyaksikan, serta menikmati objek non-seksualnya tersebut.

Gejala dari kedua kategori perilaku menyimpang itu sebenarnya tidak jauh berbeda, karena secara garis besar orang dengan perilaku penyimpangan seksual memiliki gejala seperti:

1. Memiliki perilaku memaksa

Orang dengan perilaku penyimpangan seksual, biasanya memiliki sikap memaksa untuk mendapatkan objek non-seksual yang dibutuhkan.

Bahkan, orang tersebut tidak segan-segan untuk mencuri barang yang menjadi objek fetish-nya demi mendapatkan kepuasan maksimal.

Pasalnya, apabila orang tersebut tidak mendapatkan objeknya, maka ia akan selalu merasa tertekan, putus asa, hingga memiliki keinginan untuk melakukan bunuh diri.

Jika sudah di tahap ini, maka orang tersebut harus mendapatkan penanganan khusus, karena sudah membahayakan diri sendiri dan orang lain.

2. Tidak bisa fokus dengan pasangan

Gejala kedua yang biasanya ditunjukkan dari perilaku penyimpangan seksual jenis ini adalah seseorang tidak bisa fokus dengan pasangannya.

Hal tersebut dikarenakan, orang tersebut akan lebih fokus dengan benda-benda yang digunakan pasangannya.

Sebab, benda-benda non-seksual itulah yang membuat orang tersebut lebih “terangsang”, dibandingkan pasangannya.

Sehingga, pasangannya menjadi terabaikan dan hubungan pun tidak berjalan seperti pada umumnya.

3. Melibatkan dan mengganggu orang lain

Gejala terakhir yang menjadi tanda, bahwa seseorang memiliki perilaku penyimpangan seksual adalah jika seseorang sudah melibatkan dan mengganggu kehidupan orang lain, baik itu kehidupan pribadi maupun sosial.

Apabila seseorang sudah mencapai titik ini, maka fetish sudah berada di tahap gangguan seksual dan harus mendapatkan penanganan khusus dari dokter atau ahli kejiwaan.

Biasanya dalam mengatasinya, dokter atau ahli kejiwaan akan memberikan obat-obatan khusus atau terapi untuk mengurangi, bahkan secara perlahan menghilangkan perilaku penyimpangan seksual ini.

Cara Mengatasi Fetish

Seperti yang sudah disinggung di pembahasan sebelumnya, kalau perilaku penyimpangan seksual ini sejatinya tidak memerlukan penanganan khusus apabila tidak mengganggu dan merugikan orang lain.

Tetapi, jika sudah mengganggu orang lain hingga ke tahap kehidupan pribadi dan aktivitas sosialnya, maka orang dengan perilaku penyimpangan seksual harus segera mendapatkan pertolongan dan penanganan khusus.

Mengingat, perilaku penyimpangan seksual ini sifatnya jangka panjang dan fluktuatif, maka perawatan yang harus diberikan pun bersifat jangka panjang, seperti misalnya pemberian terapi maupun obat-obatan khusus.

Pasalnya, pemberian obat dapat membantu mengurangi pemikiran-pemikiran kompulsif, yang mendorong hasrat seseorang untuk mendapatkan objek non-seksualnya dengan cara apapun.

Sehingga dengan mengkonsumsi obat-obatan, orang tersebut dapat lebih fokus ketika menjalani perawatan atau konseling.

Selain itu, obat-obatan serta perawatan yang diberikan juga ditujukan untuk mengatur hormon medroxyprogesterone acetate dan cyproterone.

Sebab, hormon tersebut mampu menurunkan kadar testosteron yang dapat menurunkan dorongan seksual, untuk orang dengan perilaku penyimpangan seksual berfantasi.

Maka dari itu, cara efektif yang bisa dilakukan untuk mengatasi perilaku penyimpangan seksual jenis ini adalah terapi, serta pemakaian obat-obatan yang sesuai dengan anjuran dokter atau ahli kejiwaan.

Namun tidak hanya itu, beberapa penelitian juga mengatakan kalau perilaku penyimpangan seksual ini dapat diatasi dengan model perilaku kognitif.

Karena, model ini dinilai mampu secara efektif merawat dan menyembuhkan orang-orang yang memiliki paraphilia.

Kasus Fetish di Indonesia

Pada pembahasan sebelumnya kamu sudah mengetahui beberapa informasi terkait fetish, mulai dari pengertiannya, faktor penyebab, gejala yang ditimbulkan hingga cara mengatasi perilaku penyimpangan seksual itu sendiri.

Semua hal tersebut perlu kamu pahami dengan baik, untuk bisa waspada dan melindungi diri apabila bertemu dengan orang-orang yang menunjukkan gejala tersebut.

Sebab, bisa saja kamu menjadi target dari orang yang memiliki perilaku penyimpangan seksual jenis ini.

Apalagi, kasus-kasus jenis ini sudah banyak terjadi di Indonesia, baik yang tersorot media maupun yang tidak.

Untuk yang tersorot media sendiri, belum lama ini ada kasus sejenis yang pelakunya meminta sang korban untuk membungkus dirinya menggunakan kain jarik.

Seperti yang sudah dibahas di awal pembahasan, kalau kejadian ini dilakukan oleh seorang mahasiswa di salah satu universitas ternama di Surabaya. Yang mana, pelaku menjebak sang korban dengan alasan riset.

Pada awalnya, pelaku menghubungi korban melalui media sosial, lalu beralih ke salah satu aplikasi pengirim pesan. Di sana, pelaku secara halus meminta bantuan kepada korban untuk risetnya.

Namun, lama-kelamaan pelaku secara tidak langsung memaksa sang korban, untuk melakukan permintaannya dan mengikuti arahan yang diberikan.

Padahal, sejak awal dijelaskan rangkaian “riset” yang harus dilakukan, sang korban sudah menolak secara halus, karena merasa ada yang janggal.

Tetapi, pelaku tetap membujuk sang korban untuk melakukannya, dengan memberikan kepastian bahwa semuanya aman dan tidak akan membahayakan keselamatan korban.

Yang sebenarnya, korban harus melilit seluruh tubuhnya dengan lakban dan membungkusnya menggunakan kain jarik atau kain batik.

(Baca Juga: Melawan Pelecehan dan Kekerasan Seksual)

Dari apa yang sudah dilakukan pelaku dapat dilihat, bahwa itu semua merupakan gejala dari perilaku penyimpangan seksual.

Adapun perilaku tersebut, sudah masuk ke dalam kategori akut atau sangat parah, karena merugikan dan mengganggu kehidupan pribadi serta aktivitas sosial korban.

Maka dari itu, pelaku harus mendapatkan penanganan khusus dari dokter atau ahli kejiwaan di rumah sakit.

Penanganan khusus ini juga sebenarnya harus diberikan kepada orang-orang, dengan gejala perilaku penyimpangan seksual yang serupa.

Untuk itu, buat kamu yang mungkin memiliki keluarga atau bahkan kerabat yang memiliki gejala serupa, dan pernah mengganggu kehidupan pribadi dan aktivitas sosial orang lain, kamu bisa membawanya langsung ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan khusus.

Meskipun, biaya yang harus dikeluarkan cukup besar karena perawatan ini sifatnya jangka lama, namun kamu tidak perlu khawatir jika memiliki asuransi kesehatan.

Sebab, asuransi kesehatan akan menjamin semua biaya pengobatan dan perawat selama kamu sakit.

Nah, buat kamu dan orang-orang sekitarmu yang belum memiliki asuranasi kesehatan, kini saatnya untuk mengajukan asuransi kesehatan secara online melalui CekAja.com.

Di sana, tersedia banyak produk asuransi kesehatan yang bisa kamu pilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.

Tidak hanya itu, proses pengajuannya pun mudah, cepat dan aman karena sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jadi, tunggu apalagi? Yuk, ajukan asuransi kesehatan terbaikmu sekarang juga!

Tentang kami

Nadhillah Kusindriani

Nadhillah Kusindriani