7 Perjuangan Tenaga Medis Lawan Covid-19, yang Penuh Pengorbanan!

Di dunia medis, ada banyak pahlawan yang bisa dibilang penuh perjuangan, untuk melawan Covid-10. Perjuangan tenaga medis lawan Covid-19 pun, tidak mudah alias banyak yang dikorbankan, termasuk nyawa.

Nah, di Hari Kesehatan Nasional ini, jasa para tenaga medis sangatlah berharga. Bahkan, sudah banyak diantara mereka yang gugur, akibat Covid-19.

Maka tak heran, jika tenaga medis saat ini disebut sebagai pahlawan garda terdepan, dalam menangani pasien, terinfeksi virus corona.

Pasalnya, dengan keterbatasan tenaga medis, terutama di Indonesia, membuat mereka kewalahan, menangani pasien.

Banyak, kisah-kisah menyedihkan dari perjuangan tenaga medis lawan Covid-19. Bahkan, sampai ada yang diminta keluar dari kost-kostan, karena pemilik kost takut penghuni lain tertular.

Nah, beruntunglah kamu yang masih bisa melakukan berbagai kegiatan di rumah, bersama keluarga.

(Baca Juga: 8 Pilihan Jurusan Kuliah di Bidang Kesehatan)

Bersamaan dengan diperingatinya Hari Kesehatan Nasional, yakni setiap tanggal 12 November, kami merangkum perjuangan tenaga medis lawan Covid-19, mulai dari dokter, perawat, sopir ambulans, hingga tenaga penyuluhan, berikut ini.

Pengorbanan Tenaga Kesehatan Lawan Covid-19

1. Harus Meninggalkan Rumah dan Keluarga

Pengorbanan tenaga medis lawan Covid-19 yang pertama adalah tentunya mereka harus meninggalkan rumah dan juga keluarganya di rumah.

Tidak hanya meninggalkan rumah sehari atau dua hari, terkadang mereka terpaksa meninggalkan rumah untuk waktu yang lama.

Hal tersebut dilakukan, karena mereka tidak mau mengambil risiko pulang ke rumah, dengan membawa virus dan menulari orang yang ada di rumah.

Mulai dari anak-anak yang masih kecil dan sensitif, hingga orang tua, yang juga rentan terkena virus.

Belum lagi, kondisi pandemi Covid-19 ini, juga masih belum diketahui sampai kapan berakhirnya. Sehingga, tenaga medis tetap harus menjalankan tugasnya, sebagai garda terdepan.

2. Sulit dan Tak Bisa Melarikan Diri

Tidak seperti hari-hari biasanya sebelum pandemi, pengorbanan tenaga medis lawan Covid-19 di masa pandemi, justru lebih mencekam.

Jangankan untuk pulang, bahkan untuk beristirahat, makan, dan hanya untuk sekadar mengabarkan keluarga di rumah sambil bermain media sosial, mereka sangat sulit.

Ketika sudah dihadapkan jadwal yang padat, maka mereka harus intens dalam merawat pasien Covid-19.

Pasalnya, para pasien Covid-19 yang dirawat, tidak memiliki pendamping dari keluarga seperti pasien penyakit lain.

Sehingga, tenaga medis seperti perawat, wajib mendampingi segala kegiatan pasien selama diisolasi di rumah sakit.

Jadi, pekerjaan mereka memang harus intens merawat, sebagai garda terdepan melawan Covid-19. Sehingga, pasti akan sulit untuk “melarikan diri”, meski mereka sudah sangat lelah sekalipun.

3. Jadwal Lembur yang Menyiksa

Tidak pulang ke rumah, sudah bukan hal asing lagi, dan menjadi bagian dari pengorbanan tenaga medis lawan Covid-19.

Bahkan, beberapa rumah sakit, memang mewajibkan pekerjanya menginap di rumah sakit.

Pasalnya, banyaknya pasien Covid-19, berbanding terbalik dengan tenaga medis, yang tersedia di rumah sakit.

Tidak hanya itu, beberapa tenaga medis yang sudah pensiun hingga mahasiswa kedokteran tingkat akhir, mau tidak mau juga ikut turun tangan.

Maka dari itu, jadwal lembur tidak bisa dihindarkan. Semua bukan lagi masalah gaji hingga penghasilan, tetapi masalah kemanusiaan.

4. Perjuangan yang Besar untuk Sekadar Pulang ke Rumah

Setelah lelah bekerja, tempat terbaik untuk istirahat adalah rumah sendiri. Jika pekerja lain ketika pulang, bisa langsung pulang, namun tidak bagi tenaga medis yang menjadi garda terdepan, melawan Covid-19.

Pasalnya, pengorbanan tenaga medis lawan Covid-19 juga sangat terlihat, ketika mereka ingin pulang ke rumah.

Mereka harus memastikan diri, bahwa mereka bebas virus. Belum lagi, mereka harus membuka satu per satu pakaian APD yang berlapis-lapis.

Bahkan, terkadang pakaian pelindung diri APD, sangat menyiksa mereka. Mulai dari masker khusus yang melukai wajah, pakaian yang panas, hingga sulit bergerak.

Setelah itu, mereka harus mendesinfektan diri mereka sendiri, alat-alat yang mereka bawa, barang-barang yang digunakan, benda-benda yang akan mereka sentuh, dan lain-lain.

Sehingga, semua kegiatan akan menjadi lebih lama dari hari-hari normalnya.

5. Minim Tes Covid-19 yang Rutin

Pengorbanan tenaga medis lain Covid-19, bisa dilihat dari tugasnya, yang selalu bersinggungan dengan pasien COVID-19.

Nah, dengan hal tersebut juga, seharusnya tenaga medis semestinya membutuhkan pengujian kesehatan lebih sering.

Namun, kenyataannya para tenaga medis, hanya akan dites kesehatan, apabila sudah merasakan gejala seperti demam.

Seperti yang selalu kita lakukan, tenaga medis tentu harus menjalani prosedur seperti pengecekan suhu tubuh, pada awal dan akhir shift.

Tidak hanya itu, mereka juga akan melakukan tes setiap minggu, untuk memastikan mereka tidak menjadi perantara penularan.

6. Isolasi Ekstrem

Bukan karena mereka positif Covid-19, yang membuatnya harus isolasi mandiri, tapi karena memang tugasnya, yang harus menangani pasien COVID-19, sehingga membuat tenaga medis kadang kala juga harus menjalani isolasi mandiri.

Bukan isolasi biasa, kadang isolasi yang mereka lakukan bahkan tergolong ekstrem. Hal itu mereka lakukan demi memastikan tidak menjadi perantara penularan.

Mereka sendiri pun sadar, bahwa dirinya merupakan tempat paling rentan untuk menularkan virus.

Sehingga, dengan waktu yang lama, mereka tak bisa melihat siapa pun, selain pasien dan rekan satu shift, tidak keluarga maupun kekasih.

Bahkan, ketika mendapat istirahat di rumah sakit pun, mereka tetap berusaha menjaga jarak satu sama lain.

Kesadaran mereka juga, sampai pada titik tidak berani untuk sekadar datang ke minimarket, dan harus mengandalkan jasa pesan antar.

7. Kurangnya Hiburan

Jangankan untuk liburan, hiburan saja sulit untuk mereka dapatkan. Semua berada pada titik keseriusan merawat pasien Covid-19, tidak bisa ditinggalkan lama-lama.

Adapun sebenarnya, handphone mereka sudah penuh dengan pesan dari sanak keluarga, teman, hingga kekasih, yang mengharapkan bisa bercengkrama.

Namun, jika mereka punya waktu kosong di jam-jam tertentu, mereka mencoba untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan.

Misalnya, membuat video TikTok, bernyanyi bersama tenaga medis lainnya, dan lain-lain.

Hal tersebut mereka lakukan, agar bisa menghibur diri sendiri, dan dijauhkan dari rasa stres.

(Baca Juga: Biaya Kuliah Jurusan Keperawatan di Indonesia)

Nah, itu dia beberapa pengorbanan tenaga medis lawan Covid-19, yang patut dihargai. Bagi kita yang masih diberi kesehatan, sebaiknya terus dijaga.

Adapun, selain menjaga dengan ketentuan protokol kesehatan, hingga mengkonsumsi makanan sehat, wajib juga bagi kamu untuk memiliki asuransi kesehatan.

Dengan asuransi kesehatan, kamu bisa meminimalisir risiko kesehatan yang lebih parah, dan meminimalisir risiko kerugian finansial.

Yuk, Ajukan Asuransi Kesehatan Terbaik Hanya di CekAja.com!

Mau punya asuransi kesehatan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansialmu? Ajukan saja di CekAja.com!

Di CekAja.com, kamu bisa menemukan banyak pilihan produk asuransi kesehatan, yang bisa diajukan. Mulai dari asuransi kesehatan Ciputra, PFI Mega Life, hingga Cigna.

Tak perlu khawatir pengajuan ditolak, kamu CekAja.com pasti akan merekomendasika produk asuransi kesehatan, yang sesuai dengan profil kamu.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera ajukan asuransi kesehatan terbaik, hanya di CekAja.com!