Wow! Ilmuwan di Inggris Klaim Bisa Meramal Kematian

Rasa keingintahuan manusia yang besar atas berbagai hal, belakangan ini sampai menembus batas nalar masyarakat pada umumnya. Salah satunya adalah rasa ingin tahu batas usia seseorang untuk hidup di dunia ini yang selama ini dianggap menjadi prerogatif Tuhan Yang Maha Esa (YME).

Mencegah Serangan Stroke di Usia Muda? Pakai Cara Ini!

Sekelompok manusia yang mengaku bisa meramal kematian bekerja pada University of Nottingham sebagai ilmuwan. Mereka mengembangkan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) yang memiliki kemampuan untuk memprediksi kematian seseorang.

Dikutip dari The Sun, AI tersebut bekerja efektif ketika membaca algoritma seorang pasien penderita penyakit kronis dengan risiko kematian tinggi. Namun, alih-alih hanya dapat memvonis usia maksimal seseorang, AI ini juga bisa memberikan rekomendasi perawatan kesehatan untuk pasien tersebut guna mencegah risiko kematian lebih dini.

Data dasar algoritma untuk AI tersebut diperoleh para peneliti dari data kesehatan umum lebih dari 500.000 orang paruh baya di Inggris dari kurun waktu 2006 sampai 2016. Selama 10 tahun tersebut, sebanyak 14.500 peserta studi meninggal, terutama akibat kanker, penyakit jantung dan penyakit paru-paru.

(Baca juga: Yuk, Susun Resolusi Kesehatan Tahun 2019!)

Faktor lain yang juga dianalisa adalah usia, jenis kelamin, riwayat merokok, diagnosis kanker, etnis, aktivitas fisik, lemak tubuh, jumlah buah dan sayuran yang dikonsumsi, konsumsi alkohol, dan polusi udara.

Pola tersebut dipelajari oleh AI sehingga bisa membuat prediksi kematian seseorang dengan tingkat akurasi 76 persen.

Dr Stephen Weng, salah satu ilmuwan yang ikut mengembangkan AI peramal kematian menuturkan, tujuan awal dari proyek tersebut adalah untuk menciptakan metode perawatan kesehatan preventif bagi penderita penyakit serius.

“Selama beberapa tahun ini kami telah bekerja untuk meningkatkan akurasi penilaian risiko kesehatan yang terkomputerisasi dalam populasi umum,” kata Weng.

Kendala Utama

Kesulitan utama yang dihadapi Weng dan rekan-rekannya adalah mereka menargetkan AI yang dikembangkannya bisa memprediksi risiko kematian manusia akibat beberapa penyakit. Kemampuan ini menjadi terobosan terbaru, karena selama ini AI yang dibuat oleh para peneliti lain bekerja secara spesifik untuk menganalisa risiko dari satu jenis penyakit saja.

Dengan kemampuan mendeteksi risiko beragam jenis penyakit, Weng berharap AI yang dikembangkan timnya bisa berkontribusi banyak dalam membantu mendiagnosis penyakit kronis yang diderita seorang pasien agar bisa mendapatkan pengobatan yang tepat.

(Baca juga: Tanpa Gejala Awal, 5 Penyakit Ini Bisa Sebabkan Kematian Mendadak)

Ia percaya, AI adalah bagian penting dari masa depan obat yang dipersonalisasi. Namun teknologi tersebut perlu lebih banyak lagi didukung oleh hasil penelitian, sehingga bisa memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi sebelum bisa digunakan masyarakat umum.

Sampai pada akhirnya AI tersebut bisa digunakan oleh publik, ada baiknya kita semua merawat diri dengan menjalani pola hidup yang sehat, berolahraga secara teratur, serta melindungi diri dengan produk asuransi terbaik yang bisa diperoleh lewat CekAja.com.