Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

4 menit waktu bacaan

Intip 5 Wisata Kota Bukittinggi yang Pernah Jadi Ibu Kota Negara

by Teti Purwanti on 17 Juli, 2019

Bukittinggi merupakan salah satu kota yang layak diperhitungkan untuk masuk ke dalam daftar tujuan wisata. Berlokasi sekitar 90 kilometer di utara Kota Padang, kota terbesar kedua di Sumatera Barat ini pernah menjadi Ibu Kota Negara Indonesia semasa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tahun 1948.

wisata Bukittinggi

Keberadaannya pada ketinggian 909-941 meter di atas permukaan laut (mdpl) telah menjadikan kota ini berhawa sejuk. Kondisi ini tentu semakin menjadikan Bukittinggi sebagai salah satu destinasi favorit untuk berpelesir.

Dengan luas sekitar 25 km persegi, Kota Bukittinggi memiliki tujuan wisata yang berjarak tidak terlalu jauh antara satu dengan yang lainnya. Berikut beberapa obyek wisata yang sayang untuk dilewatkan saat berkunjung ke Parijs van Sumatra ini.

Jam Gadang

Jam Gadang, yang berarti jam besar merupakan ikon dari Kota Bukittinggi, bahkan menjadi ikon untuk obyek wisata Provinsi Sumatera Barat. Jam tersebut pertama kali dibangun pada 1926, sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Meskipun hadiah dari Belanda, arsitektur Jam Gadang dirancang oleh arsitektur pribumi, Yazid Abidin Rajo Mangkuto.

Selain bisa melihat landmark  Kota Padang, pengunjung bisa berwisata kuliner di sekitar jam raksasa tersebut. Hari-hari ini, Jam Gadang juga jadi spot swafoto favorit saat berkunjung ke Kota Bukittinggi. Jam Gadang juga baru saja direnovasi, sehingga tentu masih sangat anggun untuk dijadikan latar belakang foto yang indah.

(Baca  juga: Manfaat Asuransi Perjalanan, Obat Pusing Paling Manjur Buat Traveling)
Janjang Ampek Puluah

Janjang adalah tangga, sedangkan ampek puluah berarti 40, sehingga bisa diartikan Janjang Ampek Puluah adalah tangga 40. Objek wisata ini terletak di kelurahan Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi. Tangga 40 menghubungkan antara Pasar Atas, Pasar Bawah, dan Pasar Banto di Bukittinggi.

Janjang Ampek Puluah dahulu dibangun untuk menghubungkan setiap pasar di Bukittinggi, janjang ini berfungsi sebagai penataan pasar. Keunikan Jenjang 40 telah menjadi daya tarik sendiri, begitu pula latar belakang sejarahnya. Sehingga sangat layak untuk dikunjungi.

Selain Jenjang Empat Puluh, beberapa jenjang lainnya juga dibangun, di antaranya Janjang Gudang, Janjang Kampuang Cino, dan jenjang di Pasa Lereng yang bersambung dengan Janjang Gantuang, yang jadi jembatan penyeberangan pertama di Indonesia.

Lubang Jepang

Bukittinggi bisa jadi adalah kota sejarah, setelah beberapa objek wisata dari peninggalan Belanda, kini adalah objek wisata dari era penjajahan Jepang.  Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan.

Terowongan di Lubang Jepang mencapai 1.400 meter dan berkelok-kelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata. Namun, pada 1984 mulai jadi objek wisata dengan beberapa pintu masuk yang terletak di kawasan Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan Kota Bukittinggi, di kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dan menjadi objek wisata andalan di Sumatera Barat. Jurang Ngarai Sianok sedalam 100 meter dan membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 meter.

Jurang ini sangat indah meski bertebing curam. Airnya yang cukup jernih ini bermuara di Samudera Hindia.  Pada 2007, Ngarai Sianok mendapatkan The Best Tourism Object dengan keindahan alam yang dimilikinya.

(Baca juga: 5 Destinasi Wisata di Banda Neira yang Indah dan Penuh Sejarah)
Benteng Fort de Kock

Benteng peninggalan era Belanda ini dibangun pada 1825, kemudian direnovasi pada 2002 oleh pemerintah daerah setempat dan berubah menjadi Taman Kota Bukittinggi (Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park). Benteng yang terletak di puncak Bukit Jirek ini menjadi saksi kegigihan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol dalam melawan pasukan Hindia Belanda.

Meski telah direnovasi, benteng tersebut tetap bercat putih-hijau setinggi 20 meter. Sekarang, selain bisa melihat benteng tersebut, pengunjung juga bisa mengamati berbagai macam satwa dan belajar sejarah di museum dapat dinikmati sekaligus.

Gimana? Siap menjelajah Bukittinggi? Jangan lupa ya lengkapi perjalanan kamu dengan asuransi perjalanan biar aman dan nyaman. Ajukan di CekAja.com!

Widget TRV Insurance

Tentang Penulis

Ibu penuh waktu. Penulis setengah waktu. Jurnalis di sisa waktu.

Kartu Kredit

Kredit & Pinjaman

Asuransi

Investasi

UKM

Info & Blog

Tentang Kami