Sanksi Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online, Bikin Stres dan Kapok!

Sanksi tidak bayar tagihan pinjaman online, seringkali belum disadari kreditur ketika awal memutuskan meminjam dana, pada debitur. Pasalnya, banyak kreditur yang awalnya pilih mengajukan pinjaman ke konvensional, kini beralih ke layanan industri fintech.

Sanksi Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online, Bikin Stress dan Kapok!

Hal tersebut, karena proses pengajuan yang lebih mudah dan persyaratan yang tidak rumit. Cukup menunjukkan dokumen pribadi, seperti KTP, KK, NPWP, dan slip gaji, siapapun bisa dengan mudah mendapat kemudahan dari masalah keuangan.

Hanya memerlukan waktu 24 jam peminjam bisa langsung mencairkan dana pinjaman.

Ditambah lagi, pengajuan pinjaman online ini tidak membutuhkan jaminan aset. Kelebihan inilah yang membuat produk keuangan menjadi populer dan digandrungi masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan.

Dibalik segala kemudahan tersebut tentu memancing banyak peminjam memanfaatkan produk pinjaman online ini dengan tidak bijak.

Padahal, pinjaman online cenderung memiliki tingkat suku bunga yang lebih tinggi dan tenor cicilan yang lebih singkat dibandingkan pinjaman konvensional.

Selain itu, seperti berita-berita yang sudah seringkali tersebar di media, jika tidak mampu melunasi cicilannya maka berbagai ancaman akan mengintai peminjam.

Berikut, ulasan mengenai risiko dan sanksi jika tidak bayar tagihan pinjaman online yang kamu simak sebelum memutuskan menjadi peminjam.

Risiko Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online

Adapun beberapa risiko yang mungkin kamu rasakan jika sengaja menunda dan tidak bayar tagihan pinjaman online, sebagai berikut:

1. Masuk Blacklist SLIK OJK

Masuk Blacklist - Risiko Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online

Sanksi tidak bayar tagihan pinjaman online pertama yaitu masuk ke daftar hitam layanan pinjaman SLIK OJK.

Data pribadi yang kamu berikan saat pengajuan akan dilaporkan kepada OJK dan kamu akan kesulitan atau bahkan tidak mungkin lagi melakukan pengajuan bantuan finansial kepada lembaga keuangan di Indonesia.

Jika ini terjadi, kamu akan sulit mendapat peluang bantuan keluar dari kondisi masalah keuangan nantinya.

(Baca Juga: Solusi OJK Saat Tak Mampu Bayar Utang Pinjol Ilegal)

2. Denda dan Beban Bunga Makin Menumpuk

Denda dan Beban Bunga - Risiko Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online

Sanksi tidak bayar tagihan pinjaman online kedua yaitu beban denda yang terus berjalan dan secara akumulatif membuat hutang semakin menumpuk.

Bunga yang tergolong tinggi membuat tidak butuh waktu lama membuat keadaan kamu semakin pelik karena jumlah pinjaman online yang membengkak hingga nyaris mustahil dilunasi.

Jika berdasarkan aturan OJK, bunga dan denda keterlambatan yang dikenakan maksimal 0,8% per harinya.

Selain itu, jumlah denda keterlambatan maksimal dikenakan 100% dari jumlah pokok pinjaman.

Misalnya, kamu meminjam dana sebesar 3 juta dan menunggak dalam kurun waktu tertentu sehingga dana yang harus dikembalikan adalah 6 juta.

Namun, aturan ini hanya berlaku pada fintech atau layanan pinjaman online yang legal dan terdaftar OJK.

Jadi, jangan kaget jika kamu menjadi korban pinjaman online ilegal dan harus membayar tagihan lebih dari 100 persen dari pokok pinjaman yang diajukan.

3. Kejaran Debt Collector Ganggu Kehidupan Pribadi

Kejaran Debt Collector - Risiko Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online

Sanksi tidak bayar tagihan pinjaman online ketiga bisa mengganggu kehidupan pribadi, sebab fintech memiliki prosedur yang ketat dan teratur dalam menanggulangi masalah peminjam yang tidak bisa bertanggung jawab membayar cicilan.

Aturan mengenai prosedur penagihan oleh fintech ini diatur oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia.

Pada awal proses penagihan, nasabah akan diingatkan melalui pesan singkat dahulu seperti SMS, email, maupun telepon.

Jika terus berlangsung dalam waktu lama, risiko yang dihadapi pun semakin besar karena akan semakin mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat hidup tidak tenang.

4. Keluarga dan Rekan Kerja Dihubungi Debitur

Keluarga - Risiko Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online

Jika masih belum dibayar juga, siap – siap, keluarga dan rekan kerja akan dihubungi pihak pinjaman online.

Jika telepon ke debitur tidak berhasil, desk call akan melakukan upaya ke kontak darurat yang disediakan oleh peminjam.

Melansir dari Duwitmu.com, berikut pernyataan pihak pinjaman online soal kontak darurat yang dikutip dari salah satu situs pinjaman online.

“Penagihan melalui telepon kepada keluarga, teman atau pihak lain yang terkait dengan Peminjam yang nomor teleponnya tercantum sebagai “Nomor Darurat” jika:

  • Peminjam terus menunggak hutang dan tidak diketahui keberadaannya untuk dilakukan penagihan langsung meskipun telah diupayakan kunjungan atau komunikasi langsung kepada Peminjam tersebut;
  • Peminjam terus menunggak hutang dan tidak beriktikad baik untuk berkomunikasi Pinjaman Online berkait penagihan hutang; dan/atau
  • Peminjam terus menunggak hutang dan tidak merespon dengan baik upaya penagihan Pinjaman Online”

Semua kontak darurat akan dihubungi untuk menjelaskan bahwa peminjam punya kewajiban hutang yang belum dibayar.

Hal ini tentu saja tujuannya membuat peminjam merasa malu. Semua orang jadi tahu bahwa dia mempunyai tunggakan hutang yang belum lunas.

Tentu saja kontak darurat tidak punya kewajiban untuk menyampaikan ke debitur. Tetapi efek psikologis efektif membuat debitur untuk membayar.

Itu sebabnya kenapa aplikasi pinjaman online selalu mewajibkan pengisian kontak darurat saat pengajuan pinjaman.

5. Penyitaan Aset Pribadi

Penyitaan Aset - Risiko Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online

Penyitaan aset pribadi menjadi salah satu langkah akhir yang biasa dilakukan oleh bank dan leasing.

Jika pinjaman online, tergantung oleh jenis pinjaman dan perjanjian kredit yang digunakan.

Ketentuannya tercantum di dalam perjanjian kredit yang disetujui oleh nasabah saat pengajuan di awal.

Jika jenis pinjamannya tanpa jaminan, seharusnya pemberi pinjaman tidak bisa melakukan penyitaan barang.

Jika ada ancaman untuk menyita barang, kamu bisa langsung cek perjanjian kredit untuk memastikan apakah memang tertulis ada sanksi penyitaan atau tidak.

6. Sanksi Sosial dan Data Pribadi Tersebar

Data Pribadi Tersebar - Risiko Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online

Sanksi tidak bayar tagihan pinjaman online bisa mengancam nasabah mengenai data pribadi yang tersebar.

Ko bisa? biasanya hal ini dilakukan oleh fintech ilegal yang menggunakan data-data pribadi sebagai salah satu amunisi ancaman untuk nasabah menunggak.

Ingatkan ketika pengajuan awal biasanya nasabah diminta memberikan informasi data pribadi termasuk alamat tinggal, lokasi kerja, kontak keluarga, hingga foto e-KTP dan swafoto dengan e-KTP.

Data tersebut yang akan mereka sebarkan dan tak segan untuk menyebarkannya ke seluruh kontak di smartphone kamu.

Tentu, hal ini jelas melanggar hukum pidana karena OJK melarang seluruh fintech melakukan penyebaran data pribadi sekalipun ada masalah penunggakan.

Jika sudah terlanjur jatuh ke lubang fintech ilegal dan mendapat ancaman seperti ini, jangan ragu untuk laporkan ke pihak berwajib.

Nasabah juga harus lebih cermat dalam memilih pinjaman online yang sudah terdaftar di OJK dan menjadi anggota AFPI.

7. BI Checking Memburuk

BI Checking Memburuk - Risiko Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online

Sanksi tidak bayar tagihan pinjaman online dalam industri fintech P2P Lending, seluruh data pribadi digital calon peminjam menjadi variabel dalam perhitungan scoring kredit.

Data pribadi digital ini menjadi jaminan reputasi nasabah dan merupakan pengganti dari jaminan aset seperti layaknya pinjaman di bank.

Penggunaan data digital ini memiliki sisi positif dan negatif.

Sisi positifnya, kamu tidak harus memiliki kendaraan bermotor, aset properti atau bisnis sendiri supaya bisa melakukan pinjaman.

Sementara sisi negatifnya, jika kamu menunggak atau bahkan gagal membayar, data pribadi digital bisa memburuk.

Ketika seorang nasabah gagal melakukan pinjaman di Fintech resmi, pihak pinjol berhak melaporkan data pribadi nasabah tak bertanggung jawab itu ke OJK.

OJK akan memproses daftar orang dengan kredit bermasalah itu yang membuat penilaian BI Checking memburuk.

Jika BI Checking Anda memburuk lantaran sering menunggak pinjol, maka akan dipastikan kesulitan dalam mengajukan pinjaman di Fintech lain hingga tak bisa disetujui dalam proses KPR (Kredit Pemilikan Rumah), pengajuan cicilan kendaraan bermotor sampai kartu kredit.

Tentu saja ini menjadi salah satu sanksi yang sangat merugikan karena yang namanya kehidupan bermasyarakat, ada kalanya kamu membutuhkan skema pembiayaan dari bank.

Jika BI Checking kamu sudah buruk karena terbukti bermasalah dalam pinjol, bisa-bisa seluruh pengajuan pinjaman dana kamu digagalkan.

8. Stres dan Merasa Terancam

Stres - Risiko Tidak Bayar Tagihan Pinjaman Online

Nah, sanksi tidak bayar tagihan pinjaman online terakhir merupakan akumulasi dari semua sanksi sebelumnya yaitu kamu akan merasa stres dan terancam.

Penagihan yang terus-menerus jelas membuat hidup tidak tenang. Apalagi jika bermasalah dengan Fintech ilegal, pihak penagihan bisa melakukan apapun untuk meneror nasabah.

Mulai dari ancaman penyebaran data pribadi ke seluruh kontak hingga ancaman pelaporan ke pihak berwajib.

Jika sudah mencapai tahapan ini, kamu harus melakukan aksi tegas dengan balik melaporkan tukang tagih Fintech ilegal ke kepolisian dan OJK.

Dalam aturan OJK sendiri, Fintech hanya diperbolehkan menagih dalam waktu 90 hari dan masih terikat dengan aturan OJK.

Fintech penyedia pinjaman online juga tidak boleh menggunakan data kontak ponsel nasabah untuk keperluan penagihan, apapun kondisinya.

(Baca Juga: Cara Agar Terbebas dari Utang Pinjaman Online)

Sanksi Tidak Berupa Pidana

Jika mengacu pada tindakan hukum atau adanya ketentuan undang-undang, seseorang tidak akan mengalami pidana dengan alasan tidak mampu membayar pinjaman.

Dilansir dari hukumonline.com, hal ini benar disampaikan oleh Mohammad Choirul Anam, anggota komisioner Komnas HAM.

Hal tersebut dijamin dan dilindungi oleh Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM, Pasal 19 ayat 2 menjamin bahwa seseorang tidak boleh dipidana penjara karena tidak mampu memenuhi kewajiban dalam perjanjian utang piutang.

Jadi, jika seorang peminjam diancam akan dilaporkan pada pihak kepolisian karena tidak mampu membayar pinjaman, sanksi yang diberikan bukan dipidanakan.

Regulasi Pinjaman Online Belum Jelas

Di Indonesia, pinjaman online belum memiliki regulasi yang jelas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum menetapkan bagaimana skema sanksi jika peminjam tidak bisa melunasi pinjaman online di tengah jalan.

Anggota Komisioner Komnas HAM, Mohammad Choirul Anam juga mengatakan bahwa pengambilan data pribadi yang dilakukan oleh beberapa industri fintech ini bermasalah.

Pasalnya, seharusnya akses data pribadi memiliki izin terlebih dahulu dari ketua pengadilan tertinggi dan dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan.

Namun, beberapa industri fintech tidak melakukan prosedur tersebut.

Solusi Jika Tidak Mampu Melunasi Cicilan

Dari ulasan di atas, kamu jadi bisa mempertimbangkan dulu segala risiko dan sanksi yang akan menimpa dari pinjaman online.

Memang, tawaran pencairan dana yang cepat, limit dana tunai pinjaman besar dan tidak membutuhkan penyerahan jaminan aset terlihat sangat menarik dan menggiurkan.

Namun, pinjaman online pasti akan selalu menjadi beban dalam kehidupan. Apalagi, jika kamu mengajukan pinjaman online ilegal atau tidak terdaftar OJK.

Lalu, bagaimana jika kamu terlanjur jatuh pada lubang pinjaman online dan terkendala saat pelunasan?

Ada beberapa solusi yang bisa kamu coba, sebagai berikut:

  • Ajukan Pengunduran Waktu Bayar

Solusi pertama bagi kamu peminjam yang sedang mengalami masalah dalam pembayaran bisa melakukan restrukturisasi pinjaman.

Yaitu, mengatur ulang pinjaman dengan mengajukan penjadwalan ulang kepada pihak Fintech agar diberikan keringanan pengunduran jatuh tempo.

Solusi ini disarankan langsung oleh Ketua Satgas Waspada Investasi OJK, Tongam L. Tobing.

  • Pengurangan Bunga

Solusi kedua memang tidak bisa dilakukan ke semua Fintech, apalagi pinjaman online ilegal.

Sebab pinjaman online ilegal memang memanfaatkan bunga yang sangat besar, di luar aturan OJK.

Namun, jika legal kamu bisa coba ajukan dan harus disesuaikan dengan kemampuan kamu agar bisa melakukan pembayaran dengan rutin dan tepat waktu nantinya.

  • Lapor Polisi

Solusi terakhir, jika kamu mengalami tindakan penagihan yang tidak manusiawi bahkan hingga menyakiti. Segera laporkan pada pihak berwajib ya.

Namun, kamu tetap diwajibkan untuk membayar tagihan sesuai kemampuan.

Dari ulasan di atas, bisa disimpulkan bahwa risiko dan sanksi dari pinjaman online tidak hanya berimbas pada masalah finansial saja, tetapi mengganggu kesehatan mental peminjam juga.

Maka dari itu, sebelum kamu memutuskan melakukan pinjaman online, kamu harus memastikan siap terhadap segala konsekuensi dan tanggung jawab selama proses cicilan.

Jangan hanya bersemangat saat mendapatkan cairan dana di awal namun terlena ketika membayar tagihannya.

Dapatkan Solusi Lain dengan Ajukan KTA

Jangan khawatir, kamu juga bisa mendapatkan pilihan solusi pinjaman lain tanpa agunan secara konvensional yang biasanya ditawarkan oleh perbankan.

Suku bunga cenderung lebih rendah dan tenor pembayaran lebih lama, bisa disesuaikan dengan kemampuan finansial kamu.

Namun kamu harus ingat, penting sekali untuk menjaga skor kredit agar selalu positif dengan cara membayar tagihan rutin dan tepat waktu.

Dengan begitu, kamu akan dipercaya untuk melakukan pinjaman kembali di saat mendesak nantinya.

Informasi lebih lengkap mengenai Kredit Tanpa Agunan (KTA) bisa kamu lihat di laman CekAja.com

Proses pengajuan KTA pun dapat segera di proses secara online, cepat, mudah, dan aman melalui CekAja.com

Tenang saja, CekAja.com sudah terdaftar resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Segera kunjungi laman CekAja.com untuk melihat berbagai penawaran menarik dari produk Kredit Tanpa Agunan (KTA) di Indonesia.