Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Yuk Kepoin Penyebab, Gejala, dan Cara Mendeteksi Kanker Payudara

by Sindhi Aderianti on 21 Oktober, 2019

Oktober adalah bulan kesadaran kanker payudara. Kampanye ini pertama kali digagas pada tahun 1986. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesadaran dan deteksi dini kanker payudara. Yuk pahami lebih jauh tentang kanker payudara, termasuk bagaimana cara mendeteksi penyakit ini. 

hidup bahagia - CekAja.com

Kanker payudara merupakan penyakit dengan pertumbuhan amat pesat. Berdasarkan data Globocan 2018, ada 348.809 orang penderita kanker dalam setahun di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, kanker payudara mendominasi dengan 58.000 kasus baru. Lalu disusul kanker leher rahim 32.000, dan kanker usus besar 30.000. Dari jumlah tersebut, sebanyak 270.000 pasien diantaranya meninggal dunia akibat kanker yang menggerogoti tubuh mereka.

Tingginya angka pengidap tesebut  membuat kampanye yang disimbolkan dengan pita pink ini semakin masif. Melalui komunitas Love Pink Indonesia misalnya, setiap wanita bisa ikut menyuarai pencegahan kanker payudara sedari dini, donasi untuk pengidapnya, hingga membuat bra untuk survivor dan prothesis agar dapat tampil percaya diri kembali.

Penyebab Kanker Payudara

Tak kenal usia dan latar belakang, mulai dari masyarakat awam hingga pesohor dunia seperti Angelina Jolie pun tidak dapat luput dari serangan kanker payudara. Mantan istri Brad Pitt ini bahkan harus menjalani operasi pengangkatan payudara demi menghentikan penyebaran kanker.

Melansir dari laman prevention.com, sejauh ini belum diketahui pasti apa penyebab kanker payudara. Gaya hidup tak sehat, genetik, dan stres berat digadang-gadang sebagai faktor risikonya.

Selain itu, wanita yang belum pernah hamil dan menyusui juga memiliki risiko kanker payudara lebih besar. Hamil dan menyusui sendiri adalah cara termudah yang bisa dilakukan wanita untuk terhindar dari kanker payudara. Sebab ketika menyusui, sel-sel payudara akan memproduksi susu tiap waktu. Dengan begitu, tidak ada kesempatan bagi tubuh untuk menumbuhkan sel berbahaya.

(Baca juga: Ria Irawan Kembali Dirawat, Yuk Mengenal Penyakit Kanker Lebih Jauh!)
Kenali Tanda-tandanya

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menyebut, 70 persen kanker payudara ditemukan ketika sudah memasuki stadium lanjut. Hal ini diduga karena banyaknya orang yang mengira tanda awal munculnya kanker payudara hanya sebatas benjolan di dekat ketiak. Pemahaman tersebut sering kali mengecoh, hingga penyakit pun akhirnya terlambat untuk ditangani

Padahal, ada banyak gejala lain yang menandai kemunculan kanker payudara. Ketika sel kanker mulai tumbuh di area payudara, biasanya ditandai pula dengan berbagai gejala seperti di bawah ini:

  • Kelenjar getah bening membengkak
  • Nyeri payudara atau puting
  • Payudara berubah warna kemerahan
  • Keluar cairan dari puting
  • Puting masuk ke dalam (bukan bawaan lahir)

Namun, tak semua kanker payudara menunjukkan gejala yang signifikan di awal kemunculannya. Daripada bingung dan terus menerka-nerka sendiri, cek langsung ke dokter spesialis onkologi saja. Jangan takut, justru bila dokter menemukan tanda yang mencurigakan pada payudaramu, ia bisa langsung memberikan penanganan yang paling sesuai.

Manfaatkan fasilitas dari asuransi kesehatan untuk menanggung semua biaya checkup-mu. Belum punya asuransi tersebut? Dapatkan secara online dan lebih cepat hanya di CekAja.com!

2 Cara Mendeteksi Kanker Payudara

Meski terdengar menakutkan, kanker payudara ini termasuk jenis kanker yang bisa dicegah. Bahkan tak sedikit pengidap yang sembuh, asalkan belum terlambat (masih di stadium awal).

Untuk itu, deteksi kanker payudara amat diperlukan. Deteksi tumor ganas tersebut bisa kamu lakukan dengan 2 cara, yakni Periksa Payudara Sendiri (SADARI) dan USG Mammae.

1. SADARI

Cara mendeteksi kanker payudara dengan SADARI amat mudah. Untuk melakukannya, pastikan kamu dalam keadaan tidak menstruasi agar lebih teraba jelas. Karena yang selama ini diketahui, hormon mestruasi kerap membuat payudara mengencang. Lakukan dalam keadaan telanjang dada di depan cermin, lalu ikuti beberapa langkah berikut:

  1. Dalam keadaan telanjang dada, angkat salah satu tangan tinggi-tinggi dan periksa payudara di sisi itu dengan tangan satunya. Gunakan tiga jari utama dan raba dengan gerakan melingkar dari arah luar ke dalam.
  2. Lihat dan rasakan apakah ada perubahan bentuk, ukuran, dan tekstur pada kulit payudara maupun puting. Lakukan langkah yang sama untuk memeriksa sisi payudara satunya.
  3. Cubit kedua puting. Perhatikan bila ada cairan yang keluar dari puting. Berkonsultasilah ke dokter seandainya hal itu terjadi.

Selain itu, kamu juga bisa melakukan SADARI ketika sedang mandi. Busa sabun umumnya memudahkan pergerakan tangan untuk memeriksa benjolan atau perubahan pada payudara. Angkat satu tangan ke belakang kepala. Dengan tangan lain yang dilumuri sabun, raba payudara di sisi tangan yang terangkat. Gunakan jari untuk menekan-nekan bagian demi bagian dengan lembut. Lakukan pada payudara di sisi lain.

(Baca juga: Khasiat Saffron: Cegah Kanker Hingga Redakan Depresi, Kuy Kepoin!)
2. USG Mammae

Selain SADARI, cara untuk mendeteksi kanker payudara yaitu melalui USG Mammae. Perkuat hasil deteksi SADARI dengan melakukan USG mammae. Tes ini menggunakan jenis gelombang ultrasonik yang sama dengan pemeriksaan USG kehamilan. Secara umum, Mammae kerap dilakukan untuk kebutuhan medis yang meliputi:

  • Mengecek penyebab keluarnya cairan dari puting yang tidak biasa
  • Memeriksa mastitis atau peradangan pada jaringan susu
  • Memantau kondisi implan payudara
  • Melihat penyebab nyeri, kemerahan, dan pembengkakan pada payudara
  • Memeriksa perubahan warna kulit payudara
  • Memverifikasi hasil tes pencitraan lainnya, seperti MRI atau mammogram

Melansir American Cancer Society, USG Mammae juga bisa mencari tahu apakah benjolan yang ada di payudara berisi cairan atau padatan.

Sebelum melakukan USG, jangan mengoleskan produk skincare apapun apa pun ke area kulit payudara. Kamu juga perlu mencopot semua benda logam yang ada di tubuh. Adapun biaya yang diperlukan berkisar antara Rp350.000 – Rp900.000, tergantung kebijakan masing-masing rumah sakit.

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.