7 Sesat Pikir yang Bikin Milenial Susah Kaya

3 min. membaca Oleh Sindhi Aderianti on

Generasi milenial didefinisikan sebagai kelompok manusia yang terlahir pada tahun 1981-1994. Sehingga boleh dikatakan, kamu yang berusia 25-37 tahun merupakan bagian dari generasi tersebut.

Banyak aspek yang bisa diperbincangkan soal milenial. Terutama dari karakteristik, mereka amat berbeda dengan generasi-generasi terdahulu.

Milenial cenderung menganut pola “YOLO”. You only live once, begitulah alasan yang sering mereka lontarkan ketika gaya hidupnya mulai dikomentari.

Walau tampak hedonis, namun generasi inilah yang digadang-gadang akan memberi banyak pengaruh baik untuk masa depan bangsa.

Terbukti dengan banyaknya perusahaan unicorn yang umumnya terlahir dari tangan dingin para milenial.

Cara milenial untuk menjalani hidupnya memang cukup unik. Terkadang hal itu membuat para orangtua cemas memikirkan masa depan anak-anaknya kelak.

Kamu milenial? Sedikit atau banyak pasti sering berpikiran seperti ini:

1. Work hard, play harder

Jangan salah, milenial bukan generasi pemalas yang betah menganggur. Mereka justru sangat getol bekerja. Lembur sampai tengah malam pun dijabani tanpa ragu.

Kalau dipikir-pikir, insentifnya lumayan untuk menambah pemasukan. Ada yang bahkan rela mengambil side job di akhir pekan.

Namun seringnya, uang yang dihasilkan dari “kerja rodi” mereka itu hanya digunakan untuk gaya hidup semata.

Semisal membeli barang-baran branded atau liburan ke luar negeri. Pada akhirnya, mereka lupa untuk menabung apalagi berinvestasi.

(Baca juga: Ini Manfaat Kartu Kredit yang ‘Tersembunyi’ Untuk Milenial!)

2. Menikah kalau sudah mapan

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang tidak ragu untuk menikah di usia muda sekalipun, milenial tidak ingin terburu-buru.

Sebenarnya tujuan mereka baik, yakni ingin keluarganya kelak hidup serba berkecukupan.

Itulah mengapa, kini millenial lebih mementingkan karir hingga mapan terlebih dahulu.

Paling tidak, mereka baru akan mantap berumah tangga pada usia 27 tahun (untuk wanita) dan 29 tahun (untuk pria).

3. Harus serba praktis

Kian pesatnya teknologi membuat para milenial menggilai hal yang serba praktis dan instan. Sesederhana ketika merasa lapar, mereka akan lebih memilih layanan pesan-antar makanan ketimbang memasak sendiri.

Pemikiran seperti ini cukup menyesatkan kalau terbawa dalam kehidupan bekerja. Ingin berpenghasilan “dua digit”?

Jika bekerja di perusahaan, setidaknya harus melalui berbagai proses yang berjenjang.

Semua orang juga pasti memulai karir sebagai staff dulu. Hingga akhirnya nanti bila memenuhi syarat, barulah diangkat menjadi manajer.

(Baca juga: Siapa Takut Ajukan KPR? Ini Pilihannya Untuk Milenial)

4. Jadi “kutu loncat” di perusahaan

Menjadi “kutu loncat” di perusahaan, tak masalah bagi milenial. Hal ini bahkan terbukti dari survei yang dilakukan oleh Jobvite pada 2016 lalu.

Di Amerika, sebesar 42 persen milenial kerap melakukan job hopping atau berpindah-pindah tempat kerja.

Alasannya cukup beragam, seperti masalah gaji yang kurang, kultur tidak sesuai keinginan, sampai cekcok dengan atasan.

Beberapa milenial juga tak merasa ragu untuk beralih profesi sebagai pebisnis. Keputusan tersebut dinilai lebih baik, daripada harus selalu menuruti kata-kata bos yang justru membebani hidup mereka.

5. Punya rumah, nanti saja

Milenial ogah beli rumah? Bukan asumsi, namun rasanya ini memang fakta yang sudah menjadi rahasia umum. Punya rumah dirasakan oleh mereka bukan kebutuhan utama.

Bagi sebagian besar milenial, gaya hidup lebih mereka prioritaskan. Dari mulai fashion, teknologi, F&B, pendidikan, traveling, dan komunitas.

Belum lagi dana yang besar untuk membeli atau menyicil rumah, membuat generasi ini semakin berpikir ribuan kali. Solusinya, temukan KPR milenial di CekAja.com!

6. Gadget is number one

Bagi milenial, smartphone tak ubahnya “nyawa”. Memang perlu diakui, apapun bisa dilakukan lewat perangkat canggih tersebut.

Dari mulai yang sifatnya hiburan sampai berbisnis sekalipun.

Namun karena terlalu sibuk dengan gadget, sering kali mereka lupa untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang di sekitar.

Amat disayangkan pula, kehidupan mereka di media sosial kadang berbanding terbalik dengan aslinya.

Milenial boleh jadi punya ratusan ribu followers di instagram, tapi siapa yang tahu kalau teman mereka di dunia nyata hanya bisa dihitung jari.

(Baca juga: Mengapa Milenial Sulit Punya Rumah?)

7. Tidak mementingkan investasi dan asuransi

Selain bermasalah dengan tabungan, milenial juga kurang mementingkan investasi dan asuransi.

Minimnya kesadaran untuk mengatur uang ini turut dipengaruhi oleh gaya hidup mereka.

Kecenderungan milenial lebih kepada pengalaman. Ibaratnya, kehabisan uang setelah pulang traveling dari Jepang tidak masalah, yang penting pengalamannya jelas terasa.

Tapi kalau disarankan berinvestasi atau memiliki asuransi, mungkin akan berpikir seribu kali untuk itu.

Milenial susah mengatur keuangan? Asuransi secara tidak langsung dapat mematahkan anggapan ini.

Dengan menyisihkan gaji untuk membayar premi, percayalah uangmu akan memiliki nilai manfaat lebih di kemudian hari.

Lagipula risiko kesehatan bisa datang kapan saja. Terlebih dengan mobilitas yang cenderung tinggi. Satu-satunya penyelamat keuanganmu dalam keadaan darurat hanyalah asuransi.

Kini, sebagian besar perusahaan asuransi juga sudah mulai menyesuaikan produknya dengan kebutuhan para milenial, lho.

Seperti Prudential yang belum lama ini meluncurkan PruPrime Healthcare. Buktikan sendiri manfaat asuransi untuk hidupmu, miliki segera dengan mengajukannya di CekAja.com.

Tentang kami

Sindhi Aderianti

Sindhi Aderianti Penulis yang kadang jadi pedagang