Membuka akses finansial untuk
jutaan masyarakat Indonesia

Show menu

5 menit waktu bacaan

Jakarta Kota Terpolusi di Dunia, Apa Dampaknya Bagi Kesehatan?

by Sindhi Aderianti on 29 Juli, 2019

Jakarta selalu menjadi perbincangan. Kali ini soal kualitas udaranya, sehingga belakangan Jakarta sering mendapat predikat sebagai kota terpolusi di dunia.

Jakarta kota terpolusi di dunia

Berdasarkan data Air Visual, akhir pekan kemarin Air Quality Index (AQI) ibu kota negara tersebut menepati angka 195. Apa artinya? AQI merupakan indeks yang menggambarkan tingkat keparahan kualitas udara di suatu daerah.

Rentang nilai dari AQI adalah 0 sampai 500. Bila nilai yang didapat semakin tinggi, tandanya polusi udara di wilayah itu pun tergolong mengkhawatirkan. Skor 0-5 berarti kualitas udara bagus, 51-100 moderat, 101-150 tidak sehat bagi orang sensitif, 151-200 tidak sehat, 201-203 sangat tidak sehat, dan 301-500 ke atas berbahaya.

Dengan kata lain, Jakarta memiliki udara tidak sehat atau unhealthy per hari Minggu (28/7/2019). AirVisual pun merekomendasikan agar kelompok sensitif seperti bayi dan anak kecil untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Ranking polusi ini dapat berubah sewaktu-waktu. Namun secara umum, Indonesia tetap berada di peringkat cukup teratas, yakni kedelapan dalam daftar negara-negara dengan udara paling tercemar di dunia. Peringkat pertama ditempati Bangladesh, diikuti Pakistan, India, Afganistan, Bahrain, Mongolia, Kuwait, Nepal, Uni Emirat Arab, dan Nigeria.

Menelisik Penyebab Utama Polusi

Polusi telah manjadi problematika menahun bagi Jakarta. Sebagai kota terpolusi di dunia, langit biru Jakarta pun kini berubah keabu-abuan akibat pencemaran udara yang tiada akhir. Sesulit itu kah polusi ditanggulangi? Coba kita telisik ke penyebab utamanya terlebih dahulu.

Buruknya kualitas udara ini disebabkan oleh beberapa hal yang terhitung sulit dihindari. Dari mulai jumlah kendaraan bermotor, debu jalanan, rumah tangga, pembakaran sampah, industri serta pembangunan konstruksi bangunan.

Konon pencemaran udara ini juga semakin diperparah oleh proyek trotoar yang menghasilkan debu-debu ekstra. Namun tetap, polusi udara karena asap kendaraan jauh lebih berbahaya daripada debu yang dihasilkan proyek pelebaran trotoar. Alasannya karena debu konstruksi tersebut kemungkinan tidak bertahan lama di suatu tempat dan tidak mudah dihirup masuk ke saluran napas manusia.

(Baca juga: Awas, Polusi Bisa Sebabkan Kejahatan!)
Deretan Penyakit yang Muncul Akibat Polusi

Sepintas, Jakarta mungkin terlihat baik-baik saja, padahal diam-diam telah menjelma menjadi kota terpolusi di dunia. Udara yang begitu pekat tercemar jelas menyimpan berbagai penyakit berbahaya. Umumnya penyakit tersebut menyerang pernapasan.

Data Komite Penghapusan Bensin Bertimbal menyebutkan, sudah banyak warga Jakarta menderita penyakit akibat polusi di tahun 2016. Persentasenya menembus angka 58,3 persen. Berikut beberapa penyakit yang umumnya dialami warga kota berpolusi:

1. ISPA

Pertama, waspadalah terhadap penyakit ISPA. Infeksi akut ini menyebabkan seseorang tidak bisa bernapas dengan baik. ISPA menyerang seseorang mulai dari hidung, tenggorokan dan paru-paru. Lebih mengkhawatirkannya lagi, ISPA dapat menular terlebih kepada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah.

2. Paru-paru basah (Pneumonia)

Dikenal dengan istilah pneumonia, penyakit ini diawali dengan gejala demam, serta kesulitan bernapas. Tidak hanya orang dewasa yang dapat terserang paru-paru basah, bayi dan anak kecil pun tak kalah berpotensi. Maka dari itu, pemerintah mewajibkan imunisasi PCV untuk diberikan sekurang-kurangnya sejak usia 3 bulan.

3. Asma

Selain penyakit bawaan, asma juga bisa terjadi tatkala seseorang terlalu sering tepapar polusi udara. Penderita asma biasanya akan mengalami sesak napas, suara berderak saat mengembuskan napas, batuk kering, dan perasaan menyempit pada otot dada karena adanya peradangan di paru-paru.

(Baca juga: Menakar Sengkarut Reklamasi di Teluk Jakarta)
4. Bronchopneumonia dan COPD

Penyakit bronchopneumonia umumnya rentan dialami oleh anak-anak. Hal ini terjadi karena virus yang ‘bersembunyi’ dalam polusi udara yang masuk pada saluran pernapasan. Seseorang yang mengalami penyakit itu biasanya akan merasa kesulitan dan nyeri pada saat bernapas, napas yang berbunyi, dan gerakan yang tidak normal di bagian dada.

5. Jantung koroner

Secara teknis, udara yang tercemar lebih mengandung banyak karbon monoksida. Jantung pun akhirnya kekurangan suplai oksigen untuk memompa darah ke seluruh tubuh, hingga terjadilah penyumbatan. Gejala penyakit jantung koroner diawali dengan nyeri di bagian dada.

Polusi Bikin Rugi Triliunan?

Dari segi ekonomi, ternyata kualitas udara turut memberi dampak buruk lain. Kerugian ekonomi ini harus ditanggung bersama akibat munculya beragam penyakit karena pencemaran udara. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, yakni mencapai Rp 51,2 triliun pada 2016.

Terang saja kerugian ini terjadi. Mengutip laporan Bank Dunia “Air Pollution and its Implication For Indonesia: Challanges and Imperatives for Change”, sebanyak 57,8 persen dari populasi menderita berbagai penyakit akibat polusi udara. Sedikitnya, ada 1.210.581 orang menderita bronchiale asma, 173.487 orang bronkopneumonia, 2.449.986 orang dengan ISPA, serta 336.273 orang dengan pneumonia.

Ditambah lagi 153.724 orang mengidap COPD, dan 1.246.130 sisanya harus berjuang melawan pernyakit jantung koroner. Praktis, dana tersebut dikeluarkan untuk menanggulangi dampak kesehatan melalui pengobatan-pengobatan yang khususnya dialami warga Jakarta.

Tetap Sehat Meski Hidup di Kota Berpolusi

Polusi memang amat membahayakan bagi setiap orang yang terpapar pekatnya udara tercemar. Bagi kamu yang kerap beraktivitas di luar ruangan, jangan khawatir. Tentu kamu tetap bisa produktif seperti biasanya. Hanya saja selain menggunakan masker, kamu butuh upaya ekstra lagi untuk mencegah serangan penyakit berbahaya akibat polusi.

Awali dengan memperhatikan asupan sehari-hari. Pilih makanan dan minuman tinggi antioksidan yang mampu melawan partikel berbahaya dalam tubuh. Misalnya teh hijau, dimana senyawa katekinnya ampuh memberi efek perlindungan lebih terhadap racun polusi. Untuk sayuran, perbanyak konsumsi bayam yang mengandung betakaroten, zeaxanthin, lutein, dan klorofil demi meningkatkan sistem imun tubuh.

Lalu sebagai penyumbang utama polusi udara, asap kendaraan bermotor perlu dihindari. Karena semakin banyak kendaraan yang melintas di satu ruas jalan, tingkat polusi di sekitarnya otomatis bertambah tinggi. Untuk itu, usahakan untuk keluar rumah dari pagi-pagi saat udara belum terkontaminasi.

(Baca juga: Video Metromini Hadang TransJakarta Viral: Ini Fakta-fakta si Bus Merah)

Penggunaan masker juga perlu diperhatikan dengan benar. Sebab kalau digunakan kurang tepat, efektivitas filterasi udara. Pastikan bagian hijau masker berada di luar, mengingat fungsinya untuk menyaring partikel buruk. Namun sebenarnya dibanding masker tersebut, jenis masker N95 lebih disarankan. Harganya mungkin relatif lebih mahal, tetapi lebih efektif menyaring partikel debu.

Di rumah atau ruangan lain, blok akses udara luar dengan menutup jendela dan pintu. Lalu gunakan pula alat untuk membersihkan udara di ruangan seperti air purifier untuk menjaga udara yang dihirup tetap bersih dan bebas polusi.

Jika mulai merasa adanya dampak kesehatan dari polusi udara seperti batuk berkepanjangan, segeralah periksakan diri ke dokter. Manfaatkan fasilitas dari asuransi kesehatan yang bisa menanggung seluruh biayanya. Cari asuransi kesehatan terbaik? Temukan hanya di CekAja.com.

Tentang Penulis

Sindhi Aderianti

Penulis yang kadang kala jadi pedagang.