5 Jenis Terapi untuk Anak Autis, Sesuaikan dengan Kebutuhan Anak

Hingga kini, belum ada obat sembuh sepenuhnya untuk gangguan autisme yang banyak terjadi pada anak, sehingga berpengaruh pada pertumbuhannya. Terlebih, autisme juga bukan termasuk penyakit yang bisa disembuhkan, apalagi dengan obat. Namun, kamu bisa mencoba terapi untuk anak autis sejak dini, sebagai upaya meningkatkan peluang kesembuhan.

Advertisement

Tepat tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day (WAAD). Keputusan ini merupakan gagasan dari Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada 18 Desember 2007.

Peringatan Hari Peduli Autisme ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang gangguan spektrum autis termasuk autisme dan sindrom Asperger di seluruh dunia.

Dengan adanya peringatan ini, PBB berharap banyak orang yang lebih peduli dengan isu kesehatan tersebut.

Autisme merujuk pada gangguan perkembangan otak yang mempengaruhi kemampuan komunikasi dan interaksi dari pemilik gangguan tersebut.

Anak dengan autisme juga bisa berpengaruh pada gangguan perilaku. Menurut data dari World Health Organization, autisme terjadi pada satu dari 160 anak di dunia.

Sayangnya meski angka ini cukup tinggi, dunia medis belum menemukan cara untuk menyembuhkan autisme secara keseluruhan.

Namun, autisme bukanlah akhir dari segalanya. Dengan memberikan terapi yang tepat, anak penderita autisme tetap bisa hidup dan berinteraksi selayaknya anak-anak lain.

(Baca Juga: Mitos dan Cara Tepat Menangani Anak Autis)

Selagi, autisme mendapatkan perhatian dan dukungan ekstra dari orang tua maupun orang terdekatnya untuk menunjang tumbuh kembangnya.

Tidak jarang loh, autisme malah bisa berprestasi yang membanggakan. Oleh karena itu, orang terdekatnya harus tetap semangat dan extra sabar mendampingi para penderita autisme.

Mengenal Gangguan Austisme

Gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder) merupakan gangguan tumbuh kembang yang membuat penderitanya sulit berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Kondisi ini diduga terjadi akibat beberapa faktor, yaitu kelainan genetik dan gangguan pada otak. Gangguan ini membuat seorang anak autis terbatas dalam berkomunikasi, ia tidak mampu mengutarakan keinginan dan emosi yang sedang dirasakan dengan baik secara lisan.

Kondisi autisme dapat diatasi dengan meningkatkan kemampuan anak secara menyeluruh. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk mengumpulkan, mempelajari, dan memahami informasi terkait mendampingi dan mendidik autisme.

Gejala Gangguan Autisme pada Anak

Melansir dari Alo Dokter, gejala autisme umumnya mulai terlihat sejak anak berusia 3 tahun. Namun, ada pula yang menunjukkan gejala sejak anak lahir.

Beberapa gejala yang ditunjukkan anak penderita autisme adalah:

  • Menghindari kontak mata dan jarang menunjukkan ekspresi wajah
  • Melakukan gerakan berulang, misalnya mengulang kata dan mengayunkan tubuh ke depan dan ke belakang
  • Menghindari atau menolak kontak fisik dengan orang lain
  • Berbicara dengan nada tidak biasa, misalnya datar seperti robot
  • Tidak merespons saat namanya dipanggil, meski kemampuan mendengarnya normal
  • Tidak mau berbagi, berbicara, atau bermain dengan orang lain
  • Tidak memiliki minat bermain bersama anak-anak lainnya
  • Tidak mampu memulai atau meneruskan percakapan, bahkan hanya untuk meminta sesuatu
  • Senang menyendiri seperti memiliki dunia sendiri

Nah, sangat penting bagi orang tua untuk menyadari gejala autisme ini sejak dini agar bisa segera ditangani dan semakin efektif penanganan yang diberikan sejak dini.

Terapi untuk Anak Autis

Berikut CekAja merangkum beberapa jenis terapi untuk anak autis yang bisa kamu coba dari rumah.

Apalagi untuk kamu yang masih bingung cara pendekatan terapi perilaku mana yang cocok untuk sang anak.

1. Applied Behavior Analysis (ABA)

Terapi untuk anak autis pertama, dengan mengajarkan keterampilan bermain, komunikasi, perawatan diri, akademik dan kehidupan sosial, dan mengurangi perilaku bermasalah.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa penerapan terapi ini dapat memberikan hasil yang signifikan untuk anak dengan autis.

ABA melibatkan terapis yang dapat memecah keterampilan menjadi bagian-bagian komponen, melalui pengulangan, penguatan, dan dorongan, membantu seorang anak mempelajarinya.

2. Verbal Behaviour Therapy

Terapi untuk anak autis kedua, dengan mengajarkan anak-anak non-vokal bagaimana berkomunikasi dengan sengaja. Anak-anak belajar bagaimana menggunakan kata-kata secara fungsional untuk mendapatkan respons yang diinginkan.

Terapi ini mendorong anak melakukan pengulangan kata untuk memahami bahwa komunikasi menghasilkan hasil positif; mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan menggunakan bahasa untuk memintanya.

Terapi verbal akan mengajarkan anak autis untuk menyuarakan permintaan mereka, “Saya ingin kue”. Biasanya terapis akan menyajikan rangsangan, seperti makanan, kegiatan, atau mainan, berdasarkan preferensi anak.

3. Cognitive Behavioural Therapy (CBT)

Terapi untuk anak autis ketiga dengan cara perilaku kognitif ini biasanya direkomendasikan untuk anak autis dengan gejala yang lebih ringan.

Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk mendefinisikan pemicu perilaku tertentu, sehingga seorang anak mulai mengenali momen-momen itu sendiri.

Terapis akan memperkenalkan respon praktis. Anak autis diajarkan untuk melihat dan menganalisa momen apa yang membuat mereka tidak nyaman sehingga menjadi kebiasaan buruk. Seperti “Saya selalu panik pada saat…”.

Setelah itu, anak akan diberi pemahaman untuk melakukan latihan relaksasi untuk mengatasi rasa takut atau cemas tersebut.

4. Terapi Developmental dan Individual Differences Relationship (DIR)

Terapi untuk anak autis keempat yaitu seorang terapis dan orangtua akan melibatkan anak-anak melalui kegiatan yang dinikmati setiap anak.

Ini tergantung pada seorang anak dan dan motivasinya untuk terlibat dan berinteraksi dengan orang lain seperti apa. Terapis akan mengikuti petunjuk seorang anak dalam mengerjakan keterampilan baru.

5. Relationship Development Intervention (RDI)

Terapi untuk anak autis terakhir, dengan cara pendekatan yang berpusat pada keluarga untuk mengobati autisme yang berfokus pada tujuan emosional dan sosial yang ditetapkan untuk membangun hubungan yang lebih bermakna.

Ini termasuk kemampuan untuk membentuk ikatan emosional dan berbagi pengalaman. Tujuan terapi ini untuk meningkatkan keterlibatan interpersonal, seperti empati dan motivasi keseluruhan untuk terlibat dengan orang lain.

Itulah beberapa rekomendasi terapi untuk anak autis yang bisa kamu coba akukan secara mandiri di rumah.

Kunci dari keberhasilan terapi-terapi tersebut adalah kesabaran. Ingat ya, anak autis bukannya tidak mampu, mereka hanya membutuhkan waktu lebih untuk memahami dan menyesuaikan diri.

Jika kamu membutuhkan alat-alat pendukung terapi untuk anak autis, seperti alat bermain sensorik dan motorik, namun sulit ditemukan di toko-toko offline terdekat.

Kamu bisa coba membelinya di berbagai e-commerce ternama secara online loh, selain produk-produk yang bervariatif, harga lebih terjangkau dan kamu gak perlu repot keluar rumah mendatangi toko-toko.

(Baca Juga: Cara Bayar Dengan Kartu Kredit Di Tokopedia)

Cukup duduk manis dari rumah dan manfaatkan kartu kredit untuk proses pembayaran yang lebih mudah dan praktis.

Banyak e-commerce yang sering memberikan promo khusus pada para pengguna kartu kredit, lho. Tertarik untuk menikmati kemudahan ini juga? Yuk jadi pengguna kartu kredit lewat CekAja.com

Disini, kamu bisa membandingkan dulu ko berbagai produk kartu kredit terbaik dan ternama yang bisa kamu sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial kamu.

Selain itu, proses pengajuannya pun secara online, jadi mudah, cepat, aman, dan nyaman! Sebab, CekAJa sudah terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Jadi, ragu apalagi? Yuk nikmati kemudahan dengan mengajukan kartu kredit terbaik versi kamu lewat CekAja.com!

Advertisement