7 Perbedaan E-Commerce, Marketplace, dan Olshop. Cek di Sini!

Kamu sudah tahu belum perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop? Nah, kalau belum, yuk simak ulasan menariknya di sini.

Sebagian dari kita mungkin masih belum tahu perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop.

Bahkan mungkin, masih ada yang menganggap ketiganya sama, karena sistem operasionalnya dilakukan secara online.

Padahal nih, kalau ditelusuri lebih dalam lagi, nyatanya baik e-commerce, marketplace, maupun olshop, itu berbeda lho. Apalagi jika dilihat dari sudut pandang penjual.

Nah, lewat artikel ini, CekAja bakal coba membantu kamu untuk memaparkan tentang perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop. Jadi, disimak baik-baik ya informasinya.

Perbedaan E-Commerce, Marketplace, dan Olshop

1. Pengertian dan Contoh

Poin pertama dalam pembahasan mengenai perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop, yang akan CekAja paparkan adalah tentang masing-masing pengertian beserta contohnya.

E-commerce adalah sebuah website khusus yang hanya menjual keseluruhan produk dari suatu brand.

Salah satu contoh brand besar yang termasuk e-commerce, alias sudah memiliki website penjualan sendiri adalah Adorable Projects.

E-commerce sering disamakan dengan marketplace, padahal secara teknikal, keduanya jelas berbeda.

Marketplace sendiri adalah sebuah situs atau aplikasi yang menjadi ‘tempat’ berkumpulnya para pelaku usaha, yang menjajakan produk terbaik mereka.

Meski konsepnya serupa dengan pasar tradisional, namun yang membuat marketplace lebih unggul adalah para pelaku usaha tak perlu lagi membayar uang sewa.

Beberapa contoh dari marketplace yang ada di Indonesia adalah Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan Zalora.

Beralih dari e-commerce dan marketplace, ada pula olshop alias online shop. Ini adalah sebuah metode penjualan, dimana pengusaha memanfaatkan internet sebagai media promosinya.

Online shop tidak melulu harus memiliki website sendiri. Kadangkala, mereka hanya menggunakan sosial media seperti Instagram dan Facebook untuk memasarkan produknya.

Beberapa contoh online shop seperti @softlenshop22, @elleestbelle.co, dan @goldenbowlersshop.

(Baca Juga: 6 Cara Menentukan Nama Merk Dagang Bisnis)

2. Teknik Marketing

Berikutnya perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop yang jelas terlihat adanya, adalah dari segi teknik marketing mereka.

Pada e-commerce, umumnya pebisnis akan sangat memperhatikan traffic website mereka dan mengumpulkan leads, agar dapat menarik pelanggan untuk terus berbelanja di sana.

Lain halnya dengan marketplace. Di sini, penjual tentu akan merasa sedikit terbantu, sebab promosi biasanya dilakukan oleh pihak marketplace itu sendiri.

Tak jarang bahkan, seperti Tokopedia dan Shopee, selalu memberikan promo besar pada event-event tertentu, yang pada akhirnya juga membantu tiap toko online yang terdaftar dalam marketplace tersebut.

Meski begitu, tiap toko online pun pastinya harus punya strategi tersendiri, khususnya dari segi kualitas barang yang ditawarkan. Sebab di marketplace, selalu tersedia fitur rating dan comment, tiap kali konsumen berbelanja.

Dari fitur itulah, kita bisa tahu seberapa bagus pelayanan yang diberikan oleh toko online yang terdaftar dalam marketplace.

Lalu, bagaimana dengan teknik marketing olshop? Teknik marketing olshop sebetulnya hampir serupa dengan marketplace.

Penjual biasanya akan memanfaatkan fasilitas promosi seperti Instagram Ads dan Facebook Ads untuk menarik lebih banyak lagi konsumen.

Selain itu, pemilik online shop juga sering menggunakan jasa artis maupun influencer, yang biasa kita sebut endorsement. Layanan ini umumnya dimanfaatkan oleh olshop yang tengah berkembang dan memiliki bujet lebih.

Sebab, jasa endorsement sendiri bisa dibilang tidak murah, apalagi jika artis ataupun influencer yang digunakan adalah kalangan terkenal.

3. Biaya yang Dikeluarkan

Jika kita berbicara mengenai biaya yang dikeluarkan, tentu perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop, sangat kentara pula terlihat.

Dari ketiganya, e-commerce lah yang dianggap memerlukan biaya yang tak sedikit untuk membuatnya.

Sebab, dibutuhkan jasa desain website, server, membeli domain dan lainnya, untuk membuat situs e-commerce terkenal di kalangan konsumen.

Sedangkan untuk marketplace dan olshop, pebisnis tak perlu mengeluarkan modal besar.

Karena seperti marketplace, pebisnis cukup mendaftarkan toko onlinenya dan bahkan tidak dikenakan biaya layanan, khususnya untuk penjual reguler.

Serupa dengan marketplace, online shop pun tidak dikenakan biaya, apalagi untuk membuatnya.

Kamu hanya perlu mendaftarkan akun dagang di media sosial, kemudian tampilkan feed jualan yang menarik agar menjadi nilai jual di mata konsumen.

4. Jenis Produk yang Dijual

Selanjutnya, perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop yang akan kita bahas adalah tentang jenis produk yang dijual.

Nah, mengacu pada pengertiannya di poin pertama tadi, maka bisa dibilang, bahwa pada e-commerce, produk yang dijual hanyalah dari brand sendiri. Begitupun pada online shop.

Di online shop, produk yang dijual biasanya adalah produksi sendiri dari suatu merk dagang. Produknya ini dapat ditemukan di berbagai media sosial, salah satunya Instagram.

Sedangkan untuk marketplace, produk yang dijual tentu cakupannya lebih luas, karena fungsinya adalah sebagai tempat untuk para pelaku usaha di segala bidang.

(Baca Juga: 7 Cara Buat Giveaway Bisnis Online)

5. Efisiensi Waktu

Lalu, kalau menyoal efisiensi waktu, dari ketiganya, tentu yang jauh lebih cepat berkembang dan dikenal publik adalah bisnis melalui marketplace dan online shop.

Betapa tidak, marketplace dan online shop ini biasanya satu kesatuan. Pebisnis umumnya akan memasarkan terlebih dulu seluruh produknya di online shop.

Jika dirasa telah memiliki konsumen yang loyal, maka mereka juga beralih ke marketplace, untuk lebih memudahkan konsumen di luar kota yang ingin membeli produknya.

Sementara untuk e-commerce, perihal waktu tergolong yang agak lama, karena pebisnis mesti membangun websitenya sendiri dari 0.

Belum lagi, jika sewaktu-waktu terjadi maintenance, yang berarti pemeliharaannya harus tetap dilakukan secara berkala, agar website lebih optimal untuk diakses oleh konsumen.

Meski begitu, jika dibandingkan dengan marketplace dan olshop, e-commerce termasuk yang cepat mendapatkan ‘kesetiaan konsumen’.

Terlebih jika pebisnis menerapkan strategi marketing yang tepat, seperti membership dan poin.

6. Tingkat Persaingan

Menyoal persaingan, perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop, justru tidak terlalu berbeda.

Ketiganya sama-sama memiliki tingkat persaingan yang sulit, apalagi jika salah dalam menerapkan metode promosi maupun operasionalnya.

Oleh karena itu, baik berjualan lewat e-commerce, marketplace, maupun olshop, pebisnis mau tak mau harus mampu menguasai bidangnya secara mendalam, entah itu dari segi promosi, operasional, hingga pelayanan.

Ciptakan brand image yang positif di mata konsumen agar mereka terus kembali membeli produk dan menjadi pelanggan yang loyal.

7. Metode Pembayaran

Terakhir, perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop dapat kamu lihat dari metode transaksinya.

Pada e-commerce, metode bayar yang diterapkan biasanya menyesuaikan dengan kebijakan bisnis.

Ada yang menggunakan transaksi debit dan kartu kredit, namun ada pula yang menggunakan layanan pembayaran online secara internasional seperti PayPal.

Sedangkan pada marketplace, metode transaksinya cenderung menggunakan transaksi bank serta layanan financial technology, khususnya untuk sistem bayar secara cicilan.

Lalu untuk online shop, transkasi yang dilakukan umumnya hanya menggunakan rekening bank dan tidak diberlakukan sistem cicilan.

Nah, itu dia beberapa perbedaan e-commerce, marketplace, dan olshop. Sampai sini, kamu sudah paham kan?

Sebelum memulai berbisnis, tentu kamu harus tahu mengenai ketiga hal itu. Apabila bisnis yang dijalankan tergolong baru, ada baiknya sih untuk menggunakan metode olshop dan marketplace.

Sebab, kamu enggak perlu mengeluarkan biaya layanan untuk memulainya. Palingan modalnya untuk produksi dan operasional saja.

Beda halnya jika bisnismu sudah berkembang. Kalau hal ini yang lagi kamu alami, maka enggak ada salahnya untuk membuat website dan menjadi salah satu e-commerce besar di Indonesia.

Menyoal modal, serahkan saja pada CekAja.com. Di CekAja, kamu bisa membandingkan sekaligus apply produk KTA terbaik dari mitra bank ternama.

Suku bunganya dijamin terendah dan dengan sistem cicilan yang super ringan. Jadi, tunggu apalagi?

Yuk, langsung klik tabel KTA di bawah ini, dan ajukan pinjaman untuk bisnismu yang sesuai kebutuhan.